Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Kamis, 02 Februari 2017


Oleh KH A Mustofa Bisri

Suatu ketika seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan gemetaran –oleh wibawa beliau-- saat berbicara. Nabi SAW pun berkata menenangkan: “Tenang saja! Aku bukan raja. Aku hanyalah anaknya perempuan Qureisy yang biasa makan ikan asin.” (Dalam hadisnya, menggunakan kata qadiid yang maknanya dendeng, makanan sederhana di Arab. Saya terjemahkan dengan ikan asin yang merupakan makanan sederhana di Indonesia).

***

Ketika Rasulullah SAW datang di Mekkah, setelah sekian lama hijrah, sahabat Abu Bakar Siddiq r.a. sowan bersama ayahandanya, Utsman yang lebih terkenal dengan julukan Abu Quhaafah. Melihat sahabat karib sekaligus mertuanya bersama ayahandanya itu, Rasulullah SAW pun bersabda “Wahai Abu Bakar, mengapa Sampeyan merepotkan orang tua? Mengapa tidak menunggu aku yang sowan beliau di kediamannya?”

***

Sahabat Abdurrahman Ibn Shakhr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: “Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana dalam dan berkata: ‘Pilihkan yang baik lho!’ (Terjemahan dari aslinya: Rasulullah bersabda kepada si tukang timbang, ‘Timbang dan murahin – bahasa Jawa: sing anget—‘. Boleh jadi waktu itu, beli celana pun ditimbang). Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celana pun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: ‘Itu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja. Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.’ Kemudian beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi beliau buru-buru bersabda: ‘Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.’”

***

Itu beberapa cuplikan yang saya terjemahkan secara bebas dari kitab Nihayaayat al-Arab-nya Syeikh Syihabuddin Ahmad Ibn Abdul Wahhab An-Nuweiry (677-733 H) jilid ke 18 hal 262-263. Saya nukilkan cuplikan-cuplikan kecil itu untuk berbagi kesan dengan Anda. Soalnya saya sendiri, saat membacanya, mendapat gambaran betapa biasa dan rendah hatinya pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering naik atau membonceng kendaraan paling sederhana saat itu; yaitu keledai. Rasulullah SAW suka menyambangi dan duduk bercengkerama dengan orang-orang fakir-miskin. Menurut istri terkasih beliau, sayyidatina ‘Aisyah r.a dan cucu kesayangan beliau Hasan Ibn Ali r.a, Rasulullah SAW mengerjakan pekerjaan rumah; membersihkan dan menambal sendiri pakaiannya; memerah susu kambingnya; menjahit terompahnya yang putus; menyapu dan membuang sampah; memberi makan ternak; ikut membantu sang istri mengaduk adonan roti; dan makan bersama-sama pelayan.

Sikap dan gaya hidup sederhana sebagaimana hamba biasa itu agaknya memang merupakan pilihan Rasulullah SAW sejak awal. Karena itu dan tentu saja juga karena kekuatan pribadi beliau, bahkan kebesaran beliau sebagai pemimpin agama maupun pemimpin Negara pun tidak mampu mengubah sikap dan gaya hidup sederhana beliau. Bandingkan misalnya, dengan kawan kita yang baru menjadi kepala desa saja sudah merasa lain; atau ikhwan kita yang baru menjadi pimpinan majlis taklim saja sudah merasa beda dengan orang lain.

Memang tidak mudah untuk bersikap biasa; terutama bagi mereka yang terlalu ingin menjadi luar biasa atau mereka yang tidak tahan dengan ‘keluarbiasaan’. Apalagi sering kali masyarakat juga ikut ‘membantu’ mempersulit orang istimewa untuk bersikap biasa. Orang yang semula biasa dan sederhana; ketika nasib baik mengistimewakannya menjadi pemimpin, misalnya, atau tokoh berilmu atau berada atau berpangkat atau terkenal, biasanya masyarakat di sekelilingnya pun mengelu-elukannya sedemikian rupa, sehingga yang bersangkutan terlena dan menjadi tidak istimewa. Keistimewaan orang istimewa terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya itu. Keistimewaan khalifah Allah terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh kekhalifahannya, mampu menjaga tetap menjadi hamba Allah.

Keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin antara lain karena beliau tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya sendiri. Kita pun kemudian menyebutnya sebagai pemimpin yang rendah hati.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling baik dari seorang hamba Allah yang menjadi khalifahNya. Beliau sangat istimewa justru karena sikap kehambaannya sedikit pun tidak menjadi luntur oleh keistimewaannya sebagai khalifah Allah.

Selawat dan salam bagimu, ya Rasulallah, kami rindu! 

.: Artikel ini dinukil dari akun Facebook pribadi KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) yang kini menjadi salah satu Mustasyar PBNU. Gus Mus mempublikasikan tulisan ini pada 26 Februari 2010.

Sumber : NU Online

Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.
Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).
Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Veit Nam.
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai.
Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading.
Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam.
Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.
Silsilah
  • Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
  • Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin
  • Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
  • Ahmad Jalaludin Khan bin
  • Abdullah Khan bin
  • Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
  • Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
  • Ali Kholi’ Qosam bin
  • Alawi Ats-Tsani bin
  • Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  • Alawi Awwal bin
  • Ubaidullah bin
  • Ahmad al-Muhajir bin
  • Isa Ar-Rumi bin
  • Muhammad An-Naqib bin
  • Ali Uraidhi bin
  • Ja’far ash-Shadiq bin
  • Muhammad al-Baqir bin
  • Ali Zainal Abidin bin
  • Imam Husain bin
  • Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
Isteri dan Anak
Isteri Pertama, yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:
  1. Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang
  2. Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
  3. Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
  4. Siti Muthmainnah
  5. Siti Hafsah
Isteri Kedua adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:
  1. Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
  2. Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fatah
  3. Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
  4. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
  5. Pangeran Tumapel
  6. Raden Faqih (Sunan Ampel 2)
Sejarah dakwah
Syekh Jumadil Qubro (alias Haji Bong Tak Keng), dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.
Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi Kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.
Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu:
  1. Putri Nyai Ageng Maloka,
  2. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang),
  3. Syarifuddin (Sunan Drajat)
  4. Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.
Mohlimo adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu. Moh (bahasa Indonesia: tidak mau), limo (bahasa Indonesia: lima) yaitu:
  • Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
  • Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.
  • Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
  • Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
  • Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.
Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah. Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. (atlaswalisongo)

Indonesia memiliki banyak nama lain atau julukan sebagai negara besar. Hal ini menjadi wajar ketika Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman hayati dan latar belakang budaya yang kental. Bahkan sebelum nama “Indonesia” tercetus dan dijadikan sebagai nama resmi selama bertahun-tahun, Indonesia memiliki banyak julukan yang memiliki kisah historis tersendiri. Berikut nama-namanya
1. Indonesia
Awalnya, dasar penamaan Indonesia digunakan untuk penggunaan ilmiah, karena berasal dari perpaduan dari bahasa Latin dan Yunani. Kata Indus mengacu pada pulau-pulau di luar benua India. Sedangkan nesos berarti pulau.
Seorang akademisi pertama yang memperkenalkan nama “Indonesia” di seluruh dunia adalah James Richardson Logan di tahun 1850. Tepatnya di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Baru kemudian Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) menjadi sarjana Indonesia pertama yang memperkenalkan nama Indonesia dalam ranah politik.
2. Zamrud Khatulistiwa (The Emerald of Equator)
Bukan hanya karena terletak di garis khatulistiwa kemudian Indonesia mendapat julukan ini, tapi karena banyaknya gugusan pulau-pulau dan hutan hijau yang subur. Jika dilihat dari angkasa gugusan kepulauan Indonesia nan hijau menyejukan mata seperti batu Zamrud (emerald).
Letaknya yang berada tepat di bawah garis khatulistiwa membuat Indonesia mendapatkan cahaya yang cukup untuk mendukung keanekaragaman hayati. Hingga kemudian, Indonesia dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa.
Hal ini dikemukakan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli), seorang penulis Belanda abad ke-19, untuk menggambarkan keindahan alam negara dalam salah satu suratnya.
3. Bumi Pertiwi atau Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi berasal dari bahasa Sansekerta pá¹›thvi atau juga pá¹›thivi, yang berarti dewi dalam agama Hindu atau Bumi dalam Bahasa Indonesia. Sebagai pá¹›thivi mata, Ibu Pertiwi merupakan personifikasi nasional Indonesia sebagai perwujudan tanah air, yang merujuk kepada negara dan tanah di mana orang-orang lahir. Secara harfiah tanah dan air merupakan ekspresi idiomatic untuk mengarah pada rumah atau tempat asal usul.
4. Nusantara
Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno yang diambil dari kisah Sumpah Palapa. Ini berawal saat Patih Gajah Mada dari abad ke-14 Kerajaan Majapahit bersumpah untuk tidak makan palapa (kelapa atau pala) sebelum mempersatukan Nusantara (kepulauan Indonesia) di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah ini bermakna bahwa sang Patih tidak akan bersenang-senang (diibaratkan tidak memakan makanan lezat) sebelum misi untuk memperluas daerah kekuasaan Majapahit terpenuhi.
Sumber : brillio


Diberitahukan kepada segenap Anggota Gerakan Pemuda Ansor se Kabupaten Trenggalek, bahwa Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Munjungan akan mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar yang akan dilaksanakan besuk pada :

Hari : Sabtu - Ahad
Tanggal 25-26 Maret 2017
Waktu : Mulai Pukul 13.00 WIB sampai selesai
Tempat : PP. Nurul Ulum - Sumber Agung - Munjungan
Keterangan :
Peserta dibatasi 100 orang
Biaya Partisipasi Rp. 60.000 / peserta

Untuk Formulir Pendaftaran dapat diunduh DISINI


Rabu, 01 Februari 2017

Assalamualaikum...

* DIKLATSAR BANSER DONGKO *
Monggo Ikuti dan Meriahkan Diklatsar BANSER Satkorcab Trenggalek.

Pelaksanaan:
Hari : Jum'at - Ahad
Tanggal : 17-19 Maret 2017
Tempat : di MI Ma'arif Plandaansewu Pringapus Dongko Trenggalek
Start Pukul : 13.00 s/d selesai

Persyaratan Peserta :
- Sehat Jasmani dan Rohani 
- Pernyataan siap mengikuti kegiatan awal sampai selesai
- Foto Copy KTP
- Rekomendasi dari NU/BANOM/Lembaga di semua tingkatan
- Kontribusi Rp. 60.000 dg Fasilitas:
* Camp
* Kaos
* Mamin
* Materi
* Sertifikat Polres Trenggalek
* Sertifikat Satkorcab
* Kalender NU
* dll

Perlengkapan Peserta yang dibawa:
- Perlengkapan Pakaian Pribadi usahakan lebih dari 1 stel
- Perlengkapan Kebersihan Pribadi (Sabun, Odol, Sikat dll)
- Kaos Olahraga
- Sepatu
- Srandal
- dll

*TULUNG DI SEBARLUASKAN KE MASYARAKAT*
*SEGERA MENDAFTAR KUOTA TERBATAS 150 PESERTA*

Cp:
Fuad Hasim 082245280054 (Ketua Panitia)
Sucipto 082244187028 (Sekretaris)
Mengetahui:
Ropingi (Ketua PAC)
Sumarman (Kasatkoryon)





FORMULIR PENDAFTARAN DAPAT DIUNDUH DISINI



Jakarta, NU Online
Sebanyak tujuh anggota Fatayat NU mengenakan seragam Fatser. Mereka adalah Fatser Kota Tangerang yang menghadiri peringatan Harlah Ke-91 NU di halaman Gedung PBNU, Selasa (31/1) malam. Mereka hadir untuk bergabung bersama Banser dalam rangka pengamanan acara yang dimulai sejak sore hingga malam.

Menurut mereka, perempuan tidak boleh berdiam diri. Perempuan juga bisa berperan dalam mengawal para kiai dan menjaga NKRI.

“Perempuan harus aktif juga dalam bela negara. Kita sengaja ikut Banser jadi ada yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa ke depan. Tugas utama kita adalah menjaga ulama dan keutuhan Indonesia,” kata Wakil Ketua I Fatayat NU Kota Tangerang Yati kepada NU Online di Jakarta, Selasa (31/1) sore.

Menurut Yati, mereka sebelumnya telah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) yang diadakan GP Ansor untuk Banser. Selama tiga hari mereka mengikuti diklatsar. Tidur hanya satu jam dalam sehari.

Para suami, kata Yati, mengizinkan aktivitas mereka karena para suami juga aktivis organisasi. Para suami menjadi maklum.

Pada 3-4 Maret mendatang Diklatsar kembali diadakan di Kecamatan Pinang Kota Tangerang. Banyak anggota Fatayat NU Kota Tangerang yang tertarik mengikuti Diklatsar Banser.

“Sebenarnya banyak anggota Fatayat NU Kota Tangerang yang berminat mengikuti Diklatsar untuk menjadi Fatser. Tetapi fisik mereka tidak terlalu kuat karena keanggotaan Fatser membutuhkan kekuatan fisik yang memadai,” kata Yati setelah berfoto-foto bersama sahabatnya dan Ketum Fatayat NU Anggi Ermarini.

Menurut Yati, mereka agak sulit mencari kader baru Fatayat NU di Kota Tangerang. Tetapi ia bersama pengurus harian lain Fatayat NU Kota Tangerang terus bertekad untuk merekrut anggota baru.

Yati mengatakan, Fatser NU mulai bermunculan di pelbagai daerah di Indonesia. Dalam pertemuan singkat dengan Anggi, mereka juga bercerita terkait perkembangan Fatser di Kota Tangerang.

“Dengar sendiri kan? Konsep Fatser sedang dibahas di lingkungan PP Fatayat NU,” kata Yati.

Hingga matahari tenggelam mereka masih menunggu dua anggota Fatser Kota Tangerang lainnya yang menyusul ke lokasi acara Harlah Ke-91 NU. “Keduanya masih di kereta, krl.” (Alhafiz K)

Sumber : NU Online

Ponorogo, ANSOR Online
Kementerian Agama menyerahkan 18 Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pendidikan Islam tentang Penetapan Status Kesetaraan Satuan Pendidikan Muadalah kepada sejumlah pondok pesantren setingkat Madrasah Tsanawiyah/sederajat dan Madrasah Aliyah/sederajat.
Penyerahan SK Ponpes Muadalah (Penyetaraan) kepada 18 ponpes dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan momentum pertemuan alumni Gontor dalam rangka Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor ke-90, Jumat (2/9).
SK tentang penetapan status keseteraan satuan pendidikan muadalah tersebut merupakan penjabaran dari Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dan PMA nomor 18 tahun 2014 tentang satuan pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren.
Dijelaskan Menag Lukman bahwa, kedua PMA tersebut, setidaknya terdapat dua nomenklatur satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yakni pendidikan Diniyah formal dan satuan pendidikan Muadalah.
“Kedua nomenklatur itu merupakan ikhtiar Kementerian Agama dan masyarakat pesantren untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi mutafaqqih fiddin (ahli ilmu agama Islam), guna menjawab atas langkanya kader mutafaqqih fiddin dan memberikan civil effect bagi dunia pesantren, disamping sebagai bagian ikhtiar konservasi dan pengembangan disiplin ilmu-ilmu keagamaan Islam,” ujar Menag.
“Baik pendidikan Diniyah formal maupun satuan pendidikan Muadalah, wajib diselenggarakan oleh pesantren,” tambahnya.
Khusus untuk satuan pendidikan Muadalah, Menag menyampaikan bahwa terdapat karakteristik yang tidak berbeda dengan pendidikan diniyah formal. Karakteristik itu meliputi kurikulum pendidikan keagamaan, tidak adanya ujian yang diselenggarakan secara nasional dalam bentuk Ujian Nasional (UN), dan kualifikasi pendidik yang tidak mengharuskan sarjana.
“Kurikulum pendidikan keagamaan sepenuhnya menjadi otoritas satuan pendidikan Muadalah yang bersangkutan, baik yang satuan pendidikan muadalah jenis salafiyah (berbasis kitab kuning) maupun muallimin (berbasis dirasah Islamiyah dengan pola muallimin), sementara Kementerian Agama memfasilitasi pada standar minimal kurikulum keagamaan untuk keduanya,” papar Menag.
Selanjutnya, Menag memaparkan penjelasan lebih dalam, bahwa, terkait penilaian dalam konteks ujian, hanya diselenggarakan melalui pendidik dan lembaga pendidik semata. Bahkan, untuk ketenagaan, guru atau ustadz yang mengajar pada satuan pendidikan muadalah ini tidak diarahkan pada kualifikasi, baik yang telah sarjana maupun yang belum, akan tetapi lebih didekatkan pada standar kompetensi. Namun, lanjutnya, bagi pendidik yang memenuhi kualifikasi dan persyaratan guru profesional lainnya maka hak-hak yang melekat sebagai guru profesional juga berlaku bagi seorang pendidik.

Sumber : ANSOR Jatim

Selasa, 31 Januari 2017


SUSUNAN PENGURUS PUSAT
GERAKAN PEMUDA ANSOR
DAN SATUAN KOORDINASI NASIONAL BANSER


DEWAN PENASEHAT :

  1. Dr. KH. As’ad Said Ali
  2. Prof. Dr. H. M. Nasir
  3. Sri Sultan Hamengkubuwono X
  4. H. Fahmi Akbar Idris
  5. H. Endin AJ. Soefihara
  6. Drs. A. H. Mujib Rohmat
  7. H. Ahmad Muqowwam
  8. Habib Rahim Assegaf
  9. Habib Hilal Al Aidid
  10. Drs. H. Imam Ma’ruf
  11. H. Hasan Aminudin
  12. H. Hamra Samal Litiloly
  13. Dr. KH. Mohammad Kholilurrahman, SH., M.Si.
  14. Drs. H. Khairuddin Wahid
  15. H. Fahmi Harsandono
  16. Drs. Qohari Kholil


------------------------------------------------------

DEWAN INSTRUKTUR :

  1. H. Nusron Wahid, MSi
  2. Drs. Ahmad Ghojali Harahap, M.Si.
  3. Hariyanto Oghie
  4. As’ad Isma
  5. Sahran Raden
  6. M. Ilyas
  7. KH. Ahmad Nadhif
  8. Habib Sholeh
  9. KH. Najib Buchori


------------------------------------------------------
PENGURUS HARIAN :
KETUA UMUM: H. YAQUT CHOLIL QOUMAS
Wakil Ketua Umum: H. DHOHIR ALFARISI
Wakil Ketua Umum: BENNY RHAMDANI
Wakil Ketua Umum: AAM HAERUL AMRI
Ketua: HASAN BASRI SAGALA
Ketua: ABDUL HARIS MA’MUN
Ketua: DARWIS NETTA
Ketua: H. SAIFUL R. DASUKI
Ketua: HENDRIK KURNIAWAN
Ketua: MUJIBURROHMAN
Ketua: H. ALFA ISNAENI
Ketua: ZAKARIA R. PUATO
Ketua: ENDING SYARIFUDDIN
Ketua: MUH. MABRUR L BANUNA
Ketua: FAISAL ATTAMIMI
Ketua: SALEH RAMLI
Ketua: HALIK RUMKEL
Ketua: RUCHMAN BASORI
Ketua: HM. LUTHFI THOMAFI
Ketua: MOHAMMAD AMIN
Ketua: AHMAD SYARIF MUNAWI
Ketua: ABDUL AZIZ WAHID
Ketua: H. LUKMAN HAKIM
Ketua: RIZQON HALAL SYAH AJI
Ketua: H. SIDIK SISDIYANTO
Ketua: H. FAIRUZ AHMAD
Ketua: SUMANTRI SUWARNO
Ketua: FAISAL SAIMIMA
Ketua: ABDUL HAKAM AQSHO
Ketua: H. SYAIKHUL ISLAM ALI
Ketua: FAISAL ALI HASYIM
Ketua: H. SHOLAHUL AAM NOTOBUWONO
Ketua: IDY MUZAYYAD
Ketua: H. HADI M. MUSA SAID
Ketua: H. MOHAMMAD NURUZZAMAN
SEKRETARIS JENDERAL: ABDURRAHMAN
Wakil Sekretaris Jenderal: H. CASWIYONO RUSDI CAKRAWANGSA
Wakil Sekretaris Jenderal: KHOIRUL ANWAR
Wakil Sekretaris Jenderal: H. A. RIFQI AL MUBAROK
Wakil Sekretaris Jenderal: TIMBUL PASARIBU
Wakil Sekretaris Jenderal: JUWANDA
Wakil Sekretaris Jenderal: SHOLIHIN
Wakil Sekretaris Jenderal: AHMAD WARI
Wakil Sekretaris Jenderal: YUDHISTIRA
Wakil Sekretaris Jenderal: H. ULIL ARCHAM
Wakil Sekretaris Jenderal: AHMAD HADINUDDIN
Wakil Sekretaris Jenderal: ABDUL MUIS
Wakil Sekretaris Jenderal: RAHMAT HAMKA
Wakil Sekretaris Jenderal: H. AMRAN HB
Wakil Sekretaris Jenderal: M. NIZAR RAHMATU
Wakil Sekretaris Jenderal: BASRI SALAMA
Wakil Sekretaris Jenderal: ABDURRAHMAN SOLEH FAUZI
Wakil Sekretaris Jenderal: MOESAFA
Wakil Sekretaris Jenderal: H. AUNULLAH A’LA HABIB
Wakil Sekretaris Jenderal: JOHAN JOUHAR ANWARI
Wakil Sekretaris Jenderal: BAYU DARUSSALAM
Wakil Sekretaris Jenderal: MOH. FATKHUL MASKUR
Wakil Sekretaris Jenderal: AFFAN ASIROZI
Wakil Sekretaris Jenderal: MAS’UD SHALEH
Wakil Sekretaris Jenderal: MIXILMINA MUNIR
Wakil Sekretaris Jenderal: MUHAMMAD ABDUL IDRIS
Wakil Sekretaris Jenderal: MOH. MUGHNI
Wakil Sekretaris Jenderal: ABDUL QODIR
Wakil Sekretaris Jenderal: WIHAJI
Wakil Sekretaris Jenderal: MUHAMMAD AZIZ HAKIM
Wakil Sekretaris Jenderal: HM. MAHFUDZ HAMID
Wakil Sekretaris Jenderal: MOHAMDA FADILAH
Wakil Sekretaris Jenderal: ASEP MULYA HIDAYAT
Wakil Sekretaris Jenderal: H. ABDUL ROUF
BENDAHARA UMUM: ZAENAL ABIDIN
Wakil Bendahara Umum: MOHAMAD ROFAI HAIRUL
Wakil Bendahara Umum: SUBHAN AKSA
Wakil Bendahara Umum: ALEX YORDANTO
Wakil Bendahara Umum: ALEX YORDIANTO
Wakil Bendahara Umum: ZAENUL MUTAQIN
Wakil Bendahara Umum: OKI JANUARDO
------------------------------------------------------
SATKORNAS BANSER :
KEPALA SATKORNAS: H. ALFA ISNAENI
Wakil Kepala Satkornas: Rahmat Hidayat Pulungan
Wakil Kepala Satkornas: Hasan Basri Sagala
Wakil Kepala Satkornas: Aleks J.
Kepala Asisten: Mufid
Kepala Asisten: Tatang
Kepala Asisten: Faizin
Kepala Asisten: Nuril
Kepala Asisten: Hasyim
Kepala Asisten: Sidiq
Kepala Asisten: Chusni
Kepala Satuan Khusus: Chabib
Kepala Satuan Khusus: Halik Rumkel
Kepala Satuan Khusus: Umar Usmar
Kepala Satuan Khusus: Masud Soleh
Kepala Satuan Khusus: Abdurrahman S Fauzi
Kepala Satuan Khusus: Nuruzzaman
Kepala Satuan Khusus: Hafid
Kepala Satuan Khusus: Mun’in
Kepala Satuan Khusus: Kusnin
Wakil Kepala Satuan Khusus: Afan
Wakil Kepala Satuan Khusus: Hakam
Wakil Kepala Satuan Khusus: Agus
Wakil Kepala Satuan Khusus: Sukron
Wakil Kepala Satuan Khusus: –
Wakil Kepala Satuan Khusus: –
Wakil Kepala Satuan Khusus: Dani
Wakil Kepala Satuan Khusus: Herry
Kasetma: Faisal Saimima

Sumber : GP.ANSOR


Izinkan ayah Izinkan ibu
Relakan kami pergi berjuang
Dibawah kibaran bendera NU
Majulah ayo maju serba serbu (serbu)
   
      
Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau darah menetes di medan perang
Demi agama ku rela berkorban


Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkanlah dia dia dia
Kikis habislah mereka
Musuh agama dan ulama


Wahai barisan Ansor serbaguna
Dimana engkau berada (disini)
Teruskanlah perjuangan
Demi agama ku rela berkorban

Siang menjelang sore sekitar pukul 14.31 WIB, Rabu (15/1/2017) rombongan tim Anjangsana Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta sowan ke kediaman sesepuh NU KH Maimoen Zubair di komplek Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Tim Anjangsana sebelumnya tetap khidmat menunggu salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu karena terlebih dahulu harus mengimami shalat dzuhur berjamaah bersama santri Sarang. Usia Mbah Maimoen yang hampir menginjak angka 90 tahun itu masih tegar setiap hari memimpin shalat berjamaah.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat. 

Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakai sandal ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Tak lama setelah itu, romobongan Anjangsana diterima Mbah Maimoen di ruang tamu. Selain rombongan dari Jakarta, ada  juga tamu yang datang dari Tuban. Sebelum Mbah Maimoen berujar, para tamu tidak ada yang berani mendahului untuk membuka pembicaraan.

Sampai tibalah Mbah Maimoen menyapa para tamu. Tim Anjangsana dipimpin oleh Zastrouw Ngatawi menyampaikan maksud kedatangan rombongan yang berjumlah 17 orang. Mantan Ketua Lesbumi PBNU itu merendahkan badannya di hadapan Mbah Maimoen yang tercatat salah seorang santri Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut.

Sekilas Mbah Maimoen langsung paham apa yang dimaksud Zastrouw dan rombongan dalam upaya memperkokoh sanad keilmuan dan wawasan kebangsaan. Setelah sekian menit dalam keheningan, Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam beberapa penuturannya. Para tamu yang tadinya agak sedikit kikuk seketika itu langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, kedatangan rombongan Tim Anjangsana dengan maksud memperkokoh keilmuan merupakan langkah yang tepat. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

“al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. 

Kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 silam itu mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait dengan esensi ilmu yang manusia harus terus menerus menimba dan belajar, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Seperti persoalan politik di Ibu Kota Negara, menurutnya hal itu fardhu kifayah saja, bukan fardhu’ain yang seolah seluruh masyarakat di Indonesia ikut larut dalam hiruk-pikuk sehingga melupakan tugas penting yang melekat pada dirinya.

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturrahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi. 

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU). Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh NU, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas dan arif.


SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)