Senin, 20 Maret 2017
Kamis, 16 Maret 2017
⛵*Nabi NUH* belum tahu Banjir akan datang ketika ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.
🐏 *Nabi IBRAHIM* belum tahu akan tersedia Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah hatinya.
🎋*Nabi MUSA* belum tahu Laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.
💝Yg Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus Patuh pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti berharap yg terbaik.
💝Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH telah menyiapkan Kejutan !
💝SERINGKALI Allah berkehendak di-detik2 terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba2NYA.
💝Jangan kita berkecil hati saat spertinya belum ada jawaban doa. Karena kadang Allah mencintai kita dgn cara2 yg kita tidak duga dan kita tidak suka.
💝Allah memberi apa yg kita butuhkan, bukan apa yg kita inginkan !!
💝Lakukan bagianmu saja, dan biarkan Allah mengerjakan bagianNYA.
💭*_LANGKAH MENUJU SYURGA_*💭
🌼 Ada 5 perkara, kita semua pasti inginkan serta berusaha untuk mendapatkannya
1. wajah yg menarik
2. duit yg banyak
3. sehat dan kuat
4. anak-anak yg patuh dan sukses
5. Tidur nyenyak tanpa Obat penenang
🌾 Hal itu Mudah kita peroleh, hanya butuh waktu 15 menit saja
Bagaimana caranya...
Nabi bersabda :
1. Siapa yg tinggalkan *shalat Subuh* maka wajahnya tak akan ada cahaya
2. Siapa yg tinggalkan *shalat Dzuhur* niscaya tak ada keberkahan dalam rezekinya
3. Siapa yg tinggalkan *shalat Ashar* niscaya tak ada kekuatan dalam jasadnya
4. Siapa yg tinggalkan *shalat Magrib* niscaya tak ada buah hasil yg boleh di petik dari anak-anaknya
5. Siapa yg tinggalkan *shalat Isya'* tak ada kenyamanan dalam tidurnya.
🌿 Tahu kenapa kalimat *Laa ilaaha Illallaah* tidak sampai menggerakkan bibir jika diucapkan ?
🍃 Sebab ini adalah Rahmat dari Allah kpd kita supaya jika maut menghampiri dengan mudah ia menyebutkan kalimat itu.
🌴 Mudah-mudahan tangan yg mengirim dan menyebarkan ini kelak tidak sulit untuk melafadzkan kalimat *Laa ilaaha Illallaah*.
Kontributor : Ust. Sukaji
Rabu, 15 Maret 2017
Selasa, 14 Maret 2017
Kamis, 09 Maret 2017
Rabu, 08 Maret 2017
Rabu, Maret 08, 2017
Unknown
Ke-BANSER-an, Opini
Minggu, 05 Maret 2017
Setelah kejadian kemarin (Penolakan Ansor terhadap Penceramah Chalid Basalamah) muncul banyak isu dan berita baik di Media online dan sosial Media. Diantaranya Ansor membubarkan majlis ilmu, Ansor merusak masjid, gereja dijaga namun kegiatan ilmu sesama muslim dibubarkan dan banyak berita miring yang muncul.
_Sengaja atau tidak, namun inilah gaya mereka Dalam berdakwah_ menyebarkan berita yang tidak seebenarnya, mendramatisir bahkan kluar dari konteks kejadian dengan tujuan menjelekkan kelompok lain dan mengambil simpati.
Maka dari itu perlu ada klarifikasi dan kronologi kejadian.
1. Yang kita tolak bukanlah majlis ilmunya sebagai bukti ketika basalamah turun diganti ustadz lain kita tdk mempermasalahkan.
2. Saat forum mediasi oleh kapolresta antara MWC NU, Ansor, Panitia dan pengurus Masjid. Kapolresta meminta bukti rekaman / contoh ceramah Cholid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik? Ansor sdah menyiapkan 3-video bagaimana Cholid Basalamah menelanjangi ajaran lain, menyalahkan aliran lain tanpa memahami duduk permasalah, mensyirikkan tampa perbandingan dalil, inilah yang kemudian kami anggap menjadi pokok persoalan.
Bukan perbedaan madzhabnya tapi bagaimana menghargai perbedaan. Ansor dan NU sdh terbiasa berbeda faham dengan muhammadiyah dan aliran lain yang seiman bahkan dengan agama lain namun tdk ada provokasi dan tetap hidup dngan rukun dan damai.
2. Ketika terjadi negoiasi dengan Kapolresta, panitia menyatakan bahwa yang ceramah bukan chalid basalamah melainkan cd rekaman. Inilah gaya mereka berbohong.
dan ketika kita mengetahui bahwa yang berceramah adalah asli Cholid Basalamah maka Ansor merasa dibohongi. Namun kita tetap sabar. Dan tetap pada koridor negoisasi dan percaya pada pihak kepolisian.
4. Namun Apa yang terjadi? berita yang beredar dimedia kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid.
Masyallah tidak ada satupun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor Banser NU.
Justru.
5. Disaat situasi sdah tenang dan selesai karena ada kesepakatan MOU bahwa panitia akan menghentikan ceramah Cholid Basalamah serta tdk akan menaikkan mimbar lagi bahkan pengurus masjid tdk akan mengundangnya dikemudian hari. Situasi sdh tenang Ansor Banser mau pulang tiba tiba ada laporan bahwa: Ketua PAC Ansor tulangan dipukul jamaah pegajian. Dan pemukulnya sdh diamankan polisi. Ketua PAC atas nama Zaini tdk melawan bahkan di Mapolsek Gedangan Shbt. Zaini memaafkannya kerena islam yang diajarkan para pendiri NU adalah islam yang ramah. Atasnama ukhuwah islamiyah pelaku yang mengaku warga kamal dimaafkan.
6. Selain melakukan penolakan terhadap penceramah Cholid Basalamah, PC GP Ansor juga meminta untuk melakukan Tabayyun, berdialog dan berbagi ilmu dengan Cholid Basalamah tujuannya kita menjaga tradisi keilmuan sekaligus ingin menghilangkan kesalahfahaman namun permintaan ditengah negoisasi itu tidak kesampaian kerena kita konsentrasi atas hasil kesepakatan (MOU) untuk mendinginkan suasana dan mudah-mudahan kedepan Cita-Cita mempertemukan antara Cholid Basalamah dengan Kyai NU akan terselenggara.
Minggu 5 Maret 2017
*H. Riza Ali Faizin*
Ketua Ansor Cabang Sidoarjo
Jumat, 03 Maret 2017
MEMIMPIN DENGAN PERILAKU
Oleh : Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung)
----------------------------
via Kabag Humas Pemkot Bandung di kuliah umum ESDM.
Kepemimpinan terbaik menurut Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil adalah memimpin dengan akhlak dan keteladanan. Bagi dia, dengan memberi contoh yang baik, ia akan lebih mudah memberi pengaruh yang baik bagi yang dipimpinnya.
"Inilah yang susah. Sebagai wali kota, saya adalah wajah bagi warga Bandung. Maka perilaku saya harus mencerminkan perilaku warga yang positif," tutur Ridwan Kamil saat menjadi pembicara kegiatan One Hour University di hadapan para kader Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur, Jl. Cisitu Lama Kota Bandung, Rabu (1/3/2017).
Karena dijadikan teladan, maka seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan. Sebab dalam pandangan Emil, panggilan akrab Wali Kota Bandung, kualitas kepemimpinan berada pada akumulasi dari keputusan yang diambil.
"Kualitas Kepemimpinan adalah akumulasi dari kualitas keputusan. Jika dia rutin mengambil keputusan yang berdampak positif, maka kepemimpinannya punya nilai baik. Jika sebaliknya, maka kepemimpinannya belum baik," katanya.
Oleh karena itu, ia sebisa mungkin menghadirkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi orang banyak, terutama warganya sendiri. Setiap hari, ia mengukur kadar keputusan yang ia ambil, apakah membawa kebaikan atau tidak.
"Karena tugas pemerintah itu hanya dua, yakni membawa perubahan dan mengakselerasi kemajuan. Jika belum baik, maka kita ubah jadi baik. Jika sudah baik, maka kita percepat kemajuan itu," jelasnya.
Dilihat dari segi pemerintahan, pria lulusan University of California Amerika Serikat itu mengemukakan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik adalah ketika perubahan itu justru datang dari warganya. Perubahan tidak perlu melulu harus berasal dari pemerintah.
"Kalau masalah warga bisa diselesaikan oleh warga sendiri, itu berarti hebat. Pemerintah itu cuma regulator," katanya.
Maka dari itu, dalam masa pemerintahannya, ia sangat mengedepankan pastisipasi dari masyarakat dalam menentukan arah kebijakan Kota Bandung. Ia membentuk banyak tim penasehat Wali Kota yang berasal dari berbagai elemen masyarakat.
"Saya memfasilitasi ruang-ruang bagi masyarakat Bandung yang pintar-pintar untuk turut memberikan gagasan dalam hal pembangunan. Ada 12 tim kebijakan wali kota yang setiap saat saya minta pertimbangannya. Jadi, dalam membangun kota ini saya tidak one man show," jelasnya.
Dalam paparannya, Ridwan memotivasi para pegawai Kementerian ESDM agar senantiasa mencintai pekerjaan. Sebab dari mencintai pekerjaan, akan muncul semangat dan nilai-nilai positif dalam berkarya.
"Karya adalah apa yang akan kita wariskan ketika sudah tidak lagi memegang jabatan kita saat ini. Maka cintailah hidup dan jangan menua tanpa karya," tandasnya.
KAIRO | duta.co — Usai Konferensi Internasional di Universitas Al-Azhar, rangkaian kunjungan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj ke Mesir berikutnya adalah ziarah ke makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Thalib di kawasan Old Kairo.
“Ayo kita tahlil,” ajak Kiai Said kepada WNI di Mesir sesampai di makam Sayyidina Husain.
Tahlil dengan bacaan khas Indonesia itu pun berkumandang. Kiai Said didapuk menjadi imam tahlil. Suasana benar-benar khusyuk hingga tahlil usai. Kiai Said pun sedikit memberikan nasehat kepada para mahasiswa NU yang mengikuti ziarah.
“Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya, meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU,” begitu pesan Kiai Said.
Ziarah dilanjutkan ke makam Syaikh Ibn Atha’illah as-Sakandari – ulama besar pengarang Kitab Al-Hikam.
Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib, ia mengajak ziarah ke makam Ibn Atha’illah as-Sakandari. Sufi besar ini sangat mempengaruhi Kiai Said Aqil di samping Syeikh as-Syadzili.
“Masih ada waktu, kita ke makam Syaikh Ibn Atha’illah,” sarannya.
Selesai tahlil di makam Syeikh Ibn Atha’illah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu juga mengenang kehidupan Syeikh Ibn Atha’illah, pengarang kitab Al-Hikam ini.
“Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyukan di dalam hatinya,” ujarnya.
Karena itu, imbuh Kiai Said, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berzikir kepada Allah. “Jadikan hati kita khusyuk tempat bersemayamnya Allah,” kata Kiai Said Aqil. (anw/ksf/kia)
Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, "Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan." Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.
Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur'an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.
Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.
Masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlus Sunnah wal Jama'ah (ASWAJA) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dna rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan. Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, ASWAJA tidak akan mudah mengkafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik. Kalau ada yang sampai tega mengkafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari ASWAJA.
Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua:
. لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء
من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى
"Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala".
Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta'ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta'ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno.
Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:
ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،
“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)".
Belakangan ini di medsos seringkali banyak yang berkomentar "anda muslim?" untuk meragukan dan mempertanyakan keislaman orang lain hanya karena berbeda pendapat. Atau menjadi viral saat ini ajakan untuk tidak menshalatkan jenazah mereka yang memilih pemimpin non-Muslim karena dianggap Munafik. Penjelasan saya di atas telah menunjukkan bahwa sikap meragukan keislaman orang lain dan mudah memvonis orang lain Munafik adalah sikap yang tidak pantas dilakukan sesama Muslim. Para sahabat Nabi dan ulama salaf akan berhati-hati dalam soal ini.
Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Kamis, 02 Maret 2017
Rabu, 15 Februari 2017
MUTIARA HIKMAH
“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”
“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”
“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”
“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”









