Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017


Al-Imam Abu Hamid Muhamad bin Muhammad Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumiddin mengatakan bahwa peran pokok manusia sebagai khalifah di dunia ada empat macam. Di mana manusia tidak akan mampu menciptakan sebuah peradaban tanpa keempat macam peran itu.

Keempat macam peran itu adalah (1) Az-Zira’ah (pertanian), (2) Al-Hiyakah (industri tekstil), (3) Al-Bina’ (pembangunan), dan (4) As-Siyasah (politik). Selain keempat peran tersebut, apa yang menjadi karya manusia di dunia hanyalah pelengkap saja.

Keempatnya menjadi penting karena memenuhi dan mengatur kebutuhan pokok kehidupan manusia di dunia. Az-Zira’ah (pertanian) memenuhi dan mengatur kebutuhan pangan manusia. Al-Hiyakah (industri tekstil) memenuhi kebutuhan sandang. Al-Bina’ (pembangunan) mengatur dan melayani kebutuhan tempat tinggal (papan). Sedangkan politik memenuhi dan mengatur kebutuhan sosial untuk keberlangsungan semua hal di atas.

Dari kesemua peran di atas, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa peran politik adalah peran yang paling mulia. Hal ini karena dengan peran politik, manusia dapat memiliki wewenang untuk menjaga, mengatur dan menegakkan kebaikan bagi semua peran pokok manusia di atas.

Selanjutnya Imam Al-Ghazali membagi peran politik kepada 4 (empat) tingkatan yaitu (1) peran politik para nabi yang memberikan pelayanan lahir dan batin kepada semua kalangan umat, (2) peran politik para penguasa (raja, sultan, khalifah, presiden) yang memberikan pelayanan lahiriyah kepada semua kalangan umat, (3) peran politik para ulama yang memberikan pelayanan batiniah (ilmu dan agama) kepada semua kalangan masyarakat, dan (4) para muballigh yang memberikan pelayanan ilmu dan agama kepada kalangan masyarakat awam saja.

Dari keempat peran tersebut, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa yang paling mulia setelah peran para nabi adalah peran para ulama. Hal ini karena telah dinyatakan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Demikian ini karena telah dibuktikan bahwa para ulama telah mendidik masyarakat dan membersihkan hati mereka dari akhlak tercela dan menunjukkan kepada akhlak yang baik.

Ringkasnya, Imam Al-Ghazali meletakkan posisi para ulama sebagai paling mulia setelah nabi karena peran politik kebangsaan mereka dalam membangun karakter manusia yang luhur. Di mana dengan karakter luhur tersebut akan menjadi insan yang berbudi luhur dan mampu menjadi pemimpin bangsa yang baik.

Uraian ini disarikan dari Kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, juz 1, halaman 13-14. (R Ahmad Nur Kholis)



Sumber : NU Online

Kamis, 16 Maret 2017

Rembang, NU Online
Pelaksanaan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara digelar PBNU di Pesantren Al-Anwar Sarang, Kabupaten Rembang, pada Kamis (16/3)  berlangsung lancar, meriah, dan penuh khidmat. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa acara tersebut digelar di Sarang?

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menjelaskan, acara tersebut dilaksanakan di Pesantren Al Anwar agar mendapatkan berkah. "Kenapa diadakan di Sarang? Agar kita bisa mengambil barokah. Karna Mbah Moen (KH Maimun Zubair) adalah kiai yang paling sepuh," jelas Kiai asal Cirebon itu.

Lebih lanjut, Kiai Said, memohon doa restu kepada para kiai sepuh NU agar ia dapat menjalankan tugasnya sebagai Ketua Umum PBNU dengan baik dan lancar. "Saya mohon doa (kepada para kiai) agar dalam menjalan tugas sebagai Ketum PBNU bisa lancar," pintanya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen merasa senang atas terlaksananya acara pertemuan ulama di pondok pesantrennya. "Saya merasa gembira sekali dan bersyukur kepada Allah atas terlaksananya acara ini di sini," tutur Mbah Moen.

Dengan hadirnya para ulama di pondok pesantrennya, Mbah Moen berharap suatu saat nanti, santri-santrinya bisa menjadi penerus para ulama besar tersebut. 
"Saya berharap santri-santri di sini bisa meneruskan ulama-ulama," pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)


Sumber : NU.OR.ID

Rembang, NU Online
Bukan orang NU jika tidak bisa melucu. Dan semakin tua atau semakin dituakan, selera humornya semakin tinggi. Tampaknya hal itu juga berlaku untuk tokoh paling sepuh di NU saat ini, yaitu Kiai Maimoen Zubair. 

Mustasyar PBNU berusia 89 tahun ini mengundang decak tawa saat memberikan sambutan selaku tuan rumah dalam Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di pondok pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah Kamis (16/3). 

Ketika menyampaikan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia dan perjuangan umat Islam, ia tiba tiba berseloroh tentang kondisi politik yang lagi hangat di tanah air. "Saya sering dianggap pendukung Ahok," ucapnya sambil terkekeh ringan.

"Hahahaa...." hadirin tertawa terbahak-bahak, geli sekaligus terkejut. Beberapa detik hadirin terdiam menunggu penjelasan ulama sepuh yang biasa dipanggil Mbah Moen ini. 

Diteruskannya, ia dianggap sebagai pendukung basuki tjahaja purnama (Ahok) karena tiga hal. Pertama, ia mengecam penggunaan isu SARA dalam politik, terutama Pilkada di Jakarta. Menurutnya, Indonesia harus dijaga kedamaiannya dan kerukunannya. Umat Islam harus menjadi pelopor dan penjaga perdamaian dan kerukunan. Maka tidak boleh umat Islam menjadi pembuat perpecahan dan pengobar permusuhan. 

Kedua, sambung pengasuh pesantren yang terkenal ahli sejarah ini, negara makmur atau tidak itu bukan tergantung pemimpin negaranya muslim atau bukan. Dia contohkan Sudan, negara nun jauh di benua Afrika, sebelah selatan Mesir. 

Sudan setelah terpecah menjadi dua negara, yaitu Sudan Utara dan Sudan Selatan, kata dia, lebih makmur Sudan Selatan. (Data Wikipedia menyebutkan Sudan Selatan dipimpin oleh presiden Kristen). Sementara Sudan utara yang dipimpin presiden muslim, rakyatnya tidak makmur, alamnya gersang dan bahkan pemerintahnya lemah sekali. Saat ini terancam sebagai negara gagal. "Pengamatan saya, negara Sudan Selatan makmur, sedangkan Sudan Utara miskin dan gersang," terangnya.

Penyebab ketiga mengapa Kiai Maimoen sering dianggap pendukung Ahok, menurut dia, karena sering menceritakan bahwa Islamnya orang sarang itu berasal dari dakwahnya orang Belitung dan Bangka. Bukan para wali dari Demak. (Ichwan/Abdullah Alawi)


Sumber : NU.OR.ID

⛵*Nabi NUH* belum tahu Banjir akan datang ketika ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.

🐏 *Nabi IBRAHIM* belum tahu akan tersedia Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah hatinya.

🎋*Nabi MUSA* belum tahu Laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

💝Yg Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus Patuh pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti berharap yg terbaik.

💝Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH telah menyiapkan Kejutan !

💝SERINGKALI Allah berkehendak di-detik2 terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba2NYA.

💝Jangan kita berkecil hati saat spertinya belum ada jawaban doa. Karena kadang Allah mencintai kita dgn cara2 yg kita tidak duga dan kita tidak suka.

💝Allah memberi apa yg kita butuhkan, bukan apa yg kita inginkan !!

💝Lakukan bagianmu saja, dan biarkan Allah mengerjakan bagianNYA.

💭*_LANGKAH MENUJU SYURGA_*💭

🌼 Ada 5 perkara, kita semua pasti inginkan serta berusaha untuk mendapatkannya

1. wajah yg menarik
2. duit yg banyak
3. sehat dan kuat
4. anak-anak yg patuh dan sukses
5. Tidur nyenyak tanpa Obat penenang

🌾 Hal itu Mudah kita peroleh, hanya butuh waktu 15 menit saja

Bagaimana caranya...

Nabi bersabda :
1. Siapa yg tinggalkan *shalat Subuh* maka wajahnya tak akan ada cahaya

2. Siapa yg tinggalkan *shalat Dzuhur* niscaya tak ada keberkahan dalam rezekinya

3. Siapa yg tinggalkan *shalat Ashar* niscaya tak ada kekuatan dalam jasadnya

4. Siapa yg tinggalkan *shalat Magrib* niscaya tak ada buah hasil yg boleh di petik dari anak-anaknya

5. Siapa yg tinggalkan *shalat Isya'* tak ada kenyamanan dalam tidurnya.

🌿 Tahu kenapa kalimat *Laa ilaaha Illallaah* tidak sampai menggerakkan bibir jika diucapkan ?

🍃 Sebab ini adalah Rahmat dari Allah kpd kita supaya jika maut menghampiri dengan mudah ia menyebutkan kalimat itu.

🌴 Mudah-mudahan tangan yg mengirim dan menyebarkan ini kelak tidak sulit untuk melafadzkan kalimat *Laa ilaaha Illallaah*.

Kontributor : Ust. Sukaji


Rabu, 15 Maret 2017


Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menilai, kemelut masalah keagamaan yang bersumber dari imbas suhu politik pada musim pilkada baru-baru ini merupakan bentuk penggunaan agama yang dipakai berpolitik oleh orang-orang yang tidak ahli berpolitik.

“Ini yang mengacaukan kita kan orang yang kepengennya berpolitik tapi tidak mengerti politik. Lalu menggunakan agama tapi tidak tahu agama. Jadi repot semua, nggak begitu mengerti berpolitik, menggunakan agama tapi nggak mengerti agama. Kacaunya dobel-dobel atau murakkab,” ungkapnya saat mengisi pengajian yang Masjid Raya Alun-Alaun Bandung, Jawa Barat, Senin (13/3) malam.

Untuk meluruskan pemahaman, kiai yang masyhur disapa Gus Mus itu menuturkan tentang tiga bentuk politik. Pertama, ada politik kebangsaan. Politik ala NU selalu berpikir tentang bangsa Indonesia. Bermula dari pikiran sederhana bahwa Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu, politik kebangsaan adalah suatu hal penting untuk menjaga NKRI yang mutlak sebagai orang NU.

“Yang dipikirkan NU itu Indonesia. Dulu ketika Gus Dur diturunkan kenapa tidak menggerakkan rakyat (Nahdliyin) yang berjumlah lebih dari 60 juta orang. Itu berapa kali lipat penduduk Arab Saudi. Kalau Gus Dur mengerahkan rakyat itu, kayak apa Indonesia? Politik kebangsaan mengalahkan politik kekuasaan,” ujarnya.

Kedua, politik kerakyatan. Politik ini, kata Gus Mus, yang sudah jarang-jarang dijalankan oleh orang-orang NU. Ia memamparkan bahwa politik kerakyatan itu politik yang membela rakyat. “Kalau menjadi anggota dewan ya betul-betul menjadi wakil rakyat betul, jangan mewakili diri sendiri. Wakil rakyat kok mewakili diri sendiri,” sindirnya disambut tawa hadiri yang memenuhi serambi masjid dan alun-alun.

Gus Mus melanjutkan bentuk ketiga adalah yang paling diminati oleh orang, yaitu politik kekuasaan atau politik praktis. Ini yang bagi Gus Mus merupakan hal yang sangat sepele, paling hanya 5 tahun.

“Urusan lima tahunan lha kok bawa-bawa Al-Qur’an yang ila yaumil qiyamah (sampai hari kiamat). Memang kepentingan duniawi itu kadang-kadang meskipun cuma lima tahunan tetapi bisa menghilangkan pikiran kita,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Ia mengingatkan bahwa mencintai dunia secara berlebihan-lebihan adalah sumber dari segala kesalahan, sumber malapetaka. “Tidak usah berlebih-lebihan suka pangkat, suka harta, yang sedang-sedang saja. Kalau bahasa NU, tawassuth dan i’tidal. Berlebihan apa saja itu yang menyebabkan rusak,” pesan Gus Mus. 


Sumber : NU.OR.ID

Selasa, 14 Maret 2017

Sifat adil mungkin termasuk yang paling sulit dalam sikap dan laku,. Alasannya karena adil itu jejeg, tegak lurus, tidak condong dan tidak miring ke sana-kemari. Sementara kita sebagai manusia, dari sononya memiliki ‘athifah atau emosi yang bawaannya mirang-miring kesana kemari.
ِApalagi dalam dan di sekeliling kehidupan kita banyak faktor yang mempengaruhi kita, yang mendorong kesana atau menarik kemari. Kita mencintai dan senang, condong kemari; kita marah dan benci, miring kesana.
Hakim yang sedang marah atau benci kepada seseorang, katakanlah si Fulan, misalnya, jangan suruh ia mengadili si Fulan itu. Karena hampir dipastikan si hakim tidak bisa berlaku adil dan jejeg. (Ingat kasus hakim yang diberhentikan gara-gara memvonis maling arloji dengan hukuman maksimal, lantaran gregetan; pasalnya yang dicuri si maling adalah arloji beliau). Demikian pula bila seorang hakim –karena sesuatu hal– sangat senang kepada si terdakwa, bisa ditebak putusannya akan tidak adil.
Bagaimana pun sulitnya, kita semua tahu bahwa bersikap dan berlaku adil adalah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Maraknya kasus-kasus mulai dari korupsi, main hakim sendiri, perkelahian ‘antar pemain’, krisis kepercayaan, hingga tindak kekerasan dan terorisme; misalnya, jika ditelusuri, sumbernya tidak lain adalah ketidak-adilan. Itulah sebabnya –wallahu a’lam—Allah SWT dalam kitab sucinya Al-Quran sering menegas-tekankan pentingnya bersikap dan berlaku adil (lebih dari 30 ayat!). Bahkan perintah menegakkan kebenaran dan bersaksi pun diberi catatan: harus dengan adil (Q. 4: 135; 5: 8). Bahkan Allah wanti-wanti: “Walaa yajrimannakum syana-aanu qaumin anlaa ta’diluu; i’diluu huwa aqrabu littaqwa…”(Q.5: 8) “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufassir ‘kaum’ disini yang dimaksud adalah orang-orang kafir!) menyeretmu untuk berlaku tidak adil; berlaku adillah! Itu lebih dekat kepada takwa…”
Pastilah antara lain karena pentingnya sikap dan laku adil ini pula, konon sang Khalifah Adil Umar ibn Abdul Aziz mentradisikan dalam akhir khotbah Jum’at dibacanya ayat Q.16: 90. “InnaLlaha ya’muru bil’adli…”.
Berlaku adil tentu tidak hanya dituntut dari pihak penguasa dan penegak hukum saja, tapi juga dari kita semua, terutama yang merasa mendapat firman dari Allah dan mempercayainya. Namun, seperti disinggung di atas, bersikap dan berlaku adil memang hanya gampang diucapkan. Untuk mempraktekkannya sangat sulit.
Sering kali kita menuntut perlakuan adil dari pihak lain, namun sering kali juga kita tidak sadar telah berlaku tidak adil terhadap pihak lain. Adil, jejeg, mengandung pengertian objektif, i’tidaal, proporsional, tawaazun. Ketika ada seorang oknum polisi yang doyan sogok, misalnya, lalu kita mengatakan semua polisi doyan sogok. Ucapan kita ini jelas tidak benar dan tidak adil. Sama dengan tidak benar dan tidak adilnya orang yang mengatakan bahwa pesantren adalah sarang teroris, hanya karena ada oknum pengamat yang menulis bahwa ada peran alumni pesantren dalam aksi terror dan pernyataan oknum pejabat tinggi yang sembrono menyatakan bahwa aktifitas pesantren harus diawasi.
Di mana-mana – di negara, di bangsa, di kalangan umat beragama, bahkan di organisasi mana pun—selalu ada orang atau kelompok yang buruk di samping yang baik-baik; ada yang jahat di samping yang saleh-saleh; ada yang tolol di samping yang berakal sehat. Di Indonesia — negeri yang disebut-sebut tercatat sebagai salah satu negara terkorup di dunia– misalnya, meski ada Edy Tanzil dan sekian ribu koruptor (yang konangan maupun yang tidak), pastilah masih banyak orang-orang yang lurus sebagai mayoritas bangsa. Sangat tidak adil bila dikatakan bangsa Indonesia adalah bangsa maling. Apalagi yang dirugikan oleh –atau kasarnya: yang dimalingi– para koruptor itu justru mayoritas bangsa Indonesia sendiri. Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu tersinggung dan marah disebut bangsa maling.
Meskipun ada beberapa orang Islam yang ngebom dan melakukan aksi terror, kita sebagai umat Islam tentu tersinggung dan marah bila dikatakan bahwa orang Islam tukang ngebom; apalagi dikatakan bahwa agama Islam adalah agama kekerasan dan terror.
Analog dengan itu saya kira sama dengan misalnya, melihat Amerika . Meski di negeri paman Sam itu ada orang zalim bermuka dua yang bernama George W. Bush dan sekian pemimpin pemerintahan bahkan juga sekian banyak rakyatnya yang adigang-adiguna, adalah tidak adil apabila kita kemudian menafikan adanya orang-orang lurus dan berakhlak –termasuk sekitar 5,5 juta warga yang beragama Islam– di Amerika; dan mengatakan secara gebyah uyah: bangsa Amerika adalah bangsa yang jahat, kafir, dan zalim.
Demikian pula di Denmark. Meski ada kartunis dan sekian redaktur tolol di harian Jyllands-Posten yang mempublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW yang diagungkan umat Islam; adalah tidak adil jika kemudian kita mengecap Denmark sebagai negara tolol dan bangsanya adalah bangsa tolol yang memusuhi Islam. Dalam kaitan ini, adalah menarik apa yang ditulis kolomnis Abdullah Bijad al’Utaiby di harian Ar-Riyadh. Tulisnya antara lain: “Adalah hak kita untuk marah karena Rasul kita yang mulia dilecehkan; dan adalah hak kita untuk mengungkapkan kemarahan kita secara berbudaya seperti pemutusan hubungan perdagangan, namun jangan sampai kemarahan itu berkembang ke arah kekerasan dan pembunuhan; jangan sampai memberi peluang ‘orang-orang menyusupkan racun dalam makanan’. Tujuan kita harus jelas. Bukan marah sekedar marah.”
Benar kan, adil itu sulit? Tapi sangat penting dan harus. Karena itulah kita dianjurkan untuk saling menasehati, saling beramar-makruf-nahi-munkar, dan saling membantu dalam kebajikan, termasuk membiasakan memandang sesuatu tidak hanya secara ‘hitam-putih’ dan membiasakan berlaku adil. Wallahu a’lam

Sumber : ANSOR News

Kamis, 09 Maret 2017


Oleh A. Khoirul Anam

Guru besar kita ini mengaku terkejut ketika Syntia, karyawati bank swasta bersuara cantik yang menghubunginya lewat telepon itu ternyata berjilbab. Syntia bekerja di bank internasional swasta yang beraliran liberal, bukan bank syariah. Yang membuat sang guru besar terkejut sebenarnya bukan karena Syntia berjilbab, tapi karena nama "Syntia" itu. "Kalau nama Anda Nur Hasanah atau sejenisnya mungkin saya maklum," katanya.

Sang guru besar melanjutkan cerita, masih soal perempuan yang menghubunginya lewat telepon. Namanya Tiara. Ia bekerja sebagai guest booker di salah satu media nasional. Ketika sang guru besar hadir memenuhi undangan sebagai narasumber, Tiara menyambutnya di loby gedung. Ternyata Tiara juga berjilbab.

Tiara bekerja di media nasional yang oleh sebagaian orang diidentikkan dengan medianya orang Katholik. Tahun 1980-an beberapa karyawan media ini mengundurkan diri karena tuntutan mereka untuk disediakan musholla di kantor tidak dikabulkan. Sekarang, bukan hanya setiap lantai kantor menyediakan tempat shalat, tapi banyak sekali wartawan dan karyawan kantornya yang lalu lalang mengenakan jilbab.

Masih soal jilbab. Orang Barat mengidentikkan jilbab sebagai urusan domestifikasi. Dengan jilbab itu perempuan dikungkung di rumah. Mungkin orang Barat melihat Saudi Arabia atau sebagian negara muslim di Timur Tengah. Tapi di Indonesia, perempuan-perempuan berjilbab mengambil banyak peran di ranah publik. 

Banyak sekali perempuan Arab yang segera melepas jilbab dan berbagai penutup tubuh mereka yang membuat gerah ketika mereka berada di mobil, di pesawat, di tempat wisata, bepergian keluar daerah atau tempat lain yang sudah tidak menerapkan peraturan wajib jilbab. Di Indonesia, perempuan tetap memakai jilbab dimana pun, bahkan ketika pergi ke pasar, mall, ke Hongkong atau ke New York. Jilbab dikenakan kapan pun selama berada di tempat umum. Jilbab adalah ekspresi keislaman perempuan Indonesia, itu saja.

Tentu saja sang guru besar tidak sedang ingin membicarakan jilbab saja, tapi lebih luas soal gaya hidup Islami yang sekarang ini dipertontokan para profesional muslim di Indonesia. Bukan saja soal busana, kata "assalamualaikum" atau "alhamdulillah" dan istilah-istilah Islami lainnya juga beredar di tempat-tempat umum dan di media sosial.

Para pakar kependudukan saat ini sedang ramai membicarakan soal bonus demografi, yakni besarnya penduduk Indonesia yang berusia produktif. Ini berbeda dengan Jepang misalnya yang penduduk berusia lanjutnya besar sekali. Nah sang guru besar kita ini lebih fokus membicarakan bonus demografi muslim. Keberhasilan dakwah para penyebar Islam di Indonesia telah menyebabkan mayoritas penduduk beragama Islam, bahkan terbesar dibandingkan dengan jumlah warga muslim di berbagai negara. 

Setelah Indonesia mengalami bonus demografi, umat Islamlah sebenarnya yang mengalami bonus itu. 85 persen warga Indonesia beragama Islam dan sebagian besar sudah mengalami mobilitas sosial yang luar biasa terutama melalui jalur pendidikan, baik lewat jalur Kemendikbud atau Kemenag. Kata sang guru besar, persebaran para profesional muslim di berbagai pos penting dan berbagai bidang keahlian itu tidak bisa dihalangi oleh siapapun.

Jadi, apakah yang membuat Anda risau jadi warga muslim Indonesia, lalu membuat ribut-ribut?

Penulis adalah Dosen UNU Indonesia (Unusia) Jakarta, Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Sumber : NU.OR.ID

Rabu, 08 Maret 2017

Oleh : KH. Ubaidillah Shodaqoh (Rois Syuriah PW. NU Jawa Tengah)
Sebagai Nahdliyyin saya sering bersentuhan dengan Banser. Pengajian rutin, akbar, karnaval, penanggulangan bencan, mantu sampai parkirpun mereka terlibat. Dus saya sebagai warga negara merasa kapiran kalau tidak ada Banser.
Saya sering iseng menggoda mereka dengan meminta rokok. " mas minta rokoknya mas ." Kataku. Mas Banser inipun meraba-raba kantongnya di baju tebal seragamnya. Satu menit kira-kira dia baru berhasil mengeluarkan bungkusan rokok. Ketika disodorkan padaku ternyata tinggal dua batang yang sudah bengkong hampir putus karena tertekan-tekan dalam kantong sempitnya. Itupun JISAMSU yang dapat dihisap sampai batas maksimal karena tidak berfilter.
Aduh.. gagah-gagah demikian rokoknya eceran. Betul juga guyonan KH. Hasyim Muzadi. Mereka hanya mampu membeli rokok eceran. Dalam acara-acara pengajian dan lainnya merekapun diberi konsomsi paling ahir. Yah kalau snak dan makanan besar sudah cukup untuk tamu2 dan jamaah tentunya. Kalau tidak ya makan seadanya.
Pernah ketika saya ndereake pak Kyai di kabupaten Semarang. Dijemput delapan Banser yang menaiki empat motor. Ada yang Gendut, gagah tapi motornya bebek kuno yamaha. Untuk melancarkan perjalanan kyaiku empat pembonceng membawa peluit satu-satu. Mereka meniup bergantian untuk menyibak kemacetan jalan. Yah jangankan sirine,, sumpritan saja kayaknya sudah berkarat.
Bayangkan,, malam mengawal dan mengamankan acara, pagi mereka harus bekerja mencari nafkah. Ada tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, tukang batu atau kuli batu. Demi khidmah pada guru dan kyai mereka rela berpayah-payahan. Mungkin dirumahnya hanya tersedia beberapa liter beras saja. Tapi juga ada dosen, pedagang, dan bahkan doktor yang golongan ini sebagai pendonor cigaret atau jajan mereka.
Selama ini kemanapun saya blusukan di Jateng selalu menjumpai Banser. Setiap keramaian di pantura maupun jawa bag selatan. Dalam penanggulangan bencana. Masyaalloh tanpa upah tanpa bayaran mereka berkhidmah pada masyarakat dilapisan apapun.
Hah... kalau sejarah perjuangan membela negara janganlah bertanya lagi. Cikal bakalnya selalu aktif melawan penjajah. Apalagi masa revolusi 65. Betapa besar jasanya meskipun setelah lahir orde baru mereka digencet segencet-gencetnya, namun tak melawan tak mengeluh, tetap berkhidmah pada masyarakat.
Kini ketika NKRI terancam, merekapun tak mau bertumpang dagu pura2 dungu. Nahi munkar dengan mencegah provokator kerukunan umat yg berkoar-koar di masjid. Mereka tidak tega ulamaknya diperolok2 dan dijelek-jelekkan sebagai ahli bidah. Mereka tidak rela Pancasila sebagai kesepakatan ummat dilecehkan. Bukan hanya rokok dua gelintir taruhannya, tapi juga nyawa mereka.
Hah anehnya, pak Prof Mahfud sang guru besar yang dikagumi mereka malah melihat sinis. Menyayangkan mereka dan dikabarkankan di seantero dunia lewat tweetnya. Aduh kasian kang-kang banser. Jasamu tak terlihat dari penggede2 jakarta yang selama ini kita tokohkan. Tapi saranku jangan surut,,, penghargaan Gusti Alloh taala jauuuuhhhhhhhh lebih besar dari pujian seorang pengamat. Lillahi ta'ala lillahi taala.
Semoga amalmu diterima oleh Gusti Alloh,,, dan rizqimu lancar sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor, dan yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran.
Dikutip dari Berbagai Sumber

Minggu, 05 Maret 2017

Setelah kejadian kemarin (Penolakan Ansor terhadap Penceramah Chalid Basalamah) muncul banyak isu dan berita baik di Media online dan sosial Media. Diantaranya Ansor membubarkan majlis ilmu, Ansor merusak masjid, gereja dijaga namun kegiatan ilmu sesama muslim dibubarkan dan banyak berita miring yang muncul.

_Sengaja atau tidak, namun inilah gaya mereka Dalam berdakwah_ menyebarkan berita yang tidak seebenarnya, mendramatisir bahkan kluar dari konteks kejadian dengan tujuan menjelekkan kelompok lain dan mengambil simpati.
Maka dari itu perlu ada klarifikasi dan kronologi kejadian.

1. Yang kita tolak bukanlah majlis ilmunya sebagai bukti ketika basalamah turun diganti ustadz lain kita tdk mempermasalahkan.

2. Saat forum mediasi oleh kapolresta antara MWC NU, Ansor, Panitia dan pengurus Masjid. Kapolresta meminta bukti rekaman / contoh ceramah Cholid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik? Ansor sdah menyiapkan 3-video bagaimana Cholid Basalamah menelanjangi ajaran lain, menyalahkan aliran lain tanpa memahami duduk permasalah, mensyirikkan tampa perbandingan dalil, inilah yang kemudian kami anggap menjadi pokok persoalan.
Bukan perbedaan madzhabnya tapi bagaimana menghargai perbedaan. Ansor dan NU sdh terbiasa berbeda faham dengan muhammadiyah dan aliran lain yang seiman bahkan dengan agama lain namun tdk ada provokasi dan tetap hidup dngan rukun dan damai.

2. Ketika terjadi negoiasi dengan Kapolresta, panitia menyatakan bahwa yang ceramah bukan chalid basalamah melainkan cd rekaman. Inilah gaya mereka berbohong.
dan ketika kita mengetahui bahwa yang berceramah adalah asli Cholid Basalamah maka Ansor merasa dibohongi. Namun kita tetap sabar. Dan tetap pada koridor negoisasi dan percaya pada pihak kepolisian.

4. Namun Apa yang terjadi? berita yang beredar dimedia kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid.
Masyallah tidak ada satupun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor Banser NU.
Justru.

5. Disaat situasi sdah tenang dan selesai karena ada kesepakatan MOU bahwa panitia akan menghentikan ceramah Cholid Basalamah serta tdk akan menaikkan mimbar lagi bahkan pengurus masjid tdk akan mengundangnya dikemudian hari. Situasi sdh tenang Ansor Banser mau pulang tiba tiba ada laporan bahwa: Ketua PAC Ansor tulangan dipukul jamaah pegajian. Dan pemukulnya sdh diamankan polisi. Ketua PAC atas nama Zaini tdk melawan bahkan di Mapolsek Gedangan Shbt. Zaini memaafkannya kerena islam yang diajarkan para pendiri NU adalah islam yang ramah. Atasnama ukhuwah islamiyah pelaku yang mengaku warga kamal dimaafkan.

6. Selain melakukan penolakan terhadap penceramah Cholid Basalamah, PC GP Ansor juga meminta untuk melakukan Tabayyun, berdialog dan berbagi ilmu dengan Cholid Basalamah tujuannya kita menjaga tradisi keilmuan sekaligus ingin menghilangkan kesalahfahaman namun permintaan ditengah negoisasi itu tidak kesampaian kerena kita konsentrasi atas hasil kesepakatan (MOU) untuk mendinginkan suasana dan mudah-mudahan kedepan Cita-Cita mempertemukan antara Cholid Basalamah dengan Kyai NU akan terselenggara.

Minggu 5 Maret 2017

*H. Riza Ali Faizin*
Ketua Ansor Cabang Sidoarjo


Jumat, 03 Maret 2017

MEMIMPIN DENGAN PERILAKU
Oleh : Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung)
----------------------------
via Kabag Humas Pemkot Bandung di kuliah umum ESDM.

Kepemimpinan terbaik menurut Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil adalah memimpin dengan akhlak dan keteladanan. Bagi dia, dengan memberi contoh yang baik, ia akan lebih mudah memberi pengaruh yang baik bagi yang dipimpinnya.

"Inilah yang susah. Sebagai wali kota, saya adalah wajah bagi warga Bandung. Maka perilaku saya harus mencerminkan perilaku warga yang positif," tutur Ridwan Kamil saat menjadi pembicara kegiatan One Hour University di hadapan para kader Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur, Jl. Cisitu Lama Kota Bandung, Rabu (1/3/2017).

Karena dijadikan teladan, maka seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan. Sebab dalam pandangan Emil, panggilan akrab Wali Kota Bandung, kualitas kepemimpinan berada pada akumulasi dari keputusan yang diambil.

"Kualitas Kepemimpinan adalah akumulasi dari kualitas keputusan. Jika dia rutin mengambil keputusan yang berdampak positif, maka kepemimpinannya punya nilai baik. Jika sebaliknya, maka kepemimpinannya belum baik," katanya.

Oleh karena itu, ia sebisa mungkin menghadirkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi orang banyak, terutama warganya sendiri. Setiap hari, ia mengukur kadar keputusan yang ia ambil, apakah membawa kebaikan atau tidak.

"Karena tugas pemerintah itu hanya dua, yakni membawa perubahan dan mengakselerasi kemajuan. Jika belum baik, maka kita ubah jadi baik. Jika sudah baik, maka kita percepat kemajuan itu," jelasnya.

Dilihat dari segi pemerintahan, pria lulusan University of California Amerika Serikat itu mengemukakan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik adalah ketika perubahan itu justru datang dari warganya. Perubahan tidak perlu melulu harus berasal dari pemerintah.

"Kalau masalah warga bisa diselesaikan oleh warga sendiri, itu berarti hebat. Pemerintah itu cuma regulator," katanya.
Maka dari itu, dalam masa pemerintahannya, ia sangat mengedepankan pastisipasi dari masyarakat dalam menentukan arah kebijakan Kota Bandung. Ia membentuk banyak tim penasehat Wali Kota yang berasal dari berbagai elemen masyarakat.

"Saya memfasilitasi ruang-ruang bagi masyarakat Bandung yang pintar-pintar untuk turut memberikan gagasan dalam hal pembangunan. Ada 12 tim kebijakan wali kota yang setiap saat saya minta pertimbangannya. Jadi, dalam membangun kota ini saya tidak one man show," jelasnya.

Dalam paparannya, Ridwan memotivasi para pegawai Kementerian ESDM agar senantiasa mencintai pekerjaan. Sebab dari mencintai pekerjaan, akan muncul semangat dan nilai-nilai positif dalam berkarya.

"Karya adalah apa yang akan kita wariskan ketika sudah tidak lagi memegang jabatan kita saat ini. Maka cintailah hidup dan jangan menua tanpa karya," tandasnya.


KAIRO | duta.co — Usai Konferensi Internasional di Universitas Al-Azhar, rangkaian kunjungan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj ke Mesir berikutnya adalah ziarah ke makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Thalib di kawasan Old Kairo.

“Ayo kita tahlil,” ajak Kiai Said kepada WNI di Mesir sesampai di makam Sayyidina Husain.

Tahlil dengan bacaan khas Indonesia itu pun berkumandang. Kiai Said didapuk menjadi imam tahlil. Suasana benar-benar khusyuk hingga tahlil usai. Kiai Said pun sedikit memberikan nasehat kepada para mahasiswa NU yang mengikuti ziarah.

“Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya, meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU,” begitu pesan Kiai Said.

Ziarah dilanjutkan ke makam Syaikh Ibn Atha’illah as-Sakandari – ulama besar pengarang Kitab Al-Hikam.
Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib, ia mengajak ziarah ke makam Ibn Atha’illah as-Sakandari. Sufi besar ini sangat mempengaruhi Kiai Said Aqil di samping Syeikh as-Syadzili.

“Masih ada waktu, kita ke makam Syaikh Ibn Atha’illah,” sarannya.

Selesai tahlil di makam Syeikh Ibn Atha’illah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu juga mengenang kehidupan Syeikh Ibn Atha’illah, pengarang kitab Al-Hikam ini.

“Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyukan di dalam hatinya,” ujarnya.

Karena itu, imbuh Kiai Said, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berzikir kepada Allah. “Jadikan hati kita khusyuk tempat bersemayamnya Allah,” kata Kiai Said Aqil. (anw/ksf/kia)


Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, "Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan." Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur'an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.

Masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlus Sunnah wal Jama'ah (ASWAJA) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dna rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan. Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, ASWAJA tidak akan mudah mengkafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik. Kalau ada yang sampai tega mengkafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari ASWAJA.

Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua:

‎. لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء
‎ من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى

"Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala".

Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta'ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta'ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno.

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT.  Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)".

Belakangan ini di medsos seringkali banyak yang berkomentar "anda muslim?" untuk meragukan dan mempertanyakan keislaman orang lain hanya karena berbeda pendapat. Atau menjadi viral saat ini ajakan untuk tidak menshalatkan jenazah mereka yang memilih pemimpin non-Muslim karena dianggap Munafik. Penjelasan saya di atas telah menunjukkan bahwa sikap meragukan keislaman orang lain dan mudah memvonis orang lain Munafik adalah sikap yang tidak pantas dilakukan sesama Muslim. Para sahabat Nabi dan ulama salaf akan berhati-hati dalam soal ini.

Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Kamis, 02 Maret 2017


Sebagai wilayah berpenduduk Muslim terbesar di dunia, hubungan antara Indonesia dan Saudi Arabia sudah terjalan sejak lama, sejak umat Islam mulai ada di negeri ini. Jauh sebelum kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Muslim di Nusantara berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Secara emosional, Muslim Indonesia selalu merasa dekat dengan wilayah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan menyebarkan dakwahnya. Muslim Indonesia selalu merindukan untuk bisa mengunjungi dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pada 2017 ini, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 221 ribu. Ini merupakan kuota haji terbesar di kuota haji lokal bagi penduduk Saudi Arabia. Jika ditambah dengan jumlah jamaah umrah, maka warga Indonesia yang berkunjung ke Saudi Arabia semakin besar.

Sebagai sesama produsen minyak dunia, Indonesia memiliki hubungan erat dalam bidang ekonomi. Saat Indonesia masih menjadi anggota OPEC karena masih menjadi net exporter, bersama dengan Saudi Arabia, berbagai kebijakan perminyakan dunia dibahas bersama-sama. Kini, negeri dengan padang pasir yang luas tersebut menjadi salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak untuk memenuhi berbagai keperluan industri di Indonesia. Belum lagi jika bicara soal tenaga kerja Indonesia yang pergi mengais Real di negeri tersebut. 

Bagi NU, hubungan emosional tersebut juga sangat kental. Para pelopor dan pendiri NU seperti KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah merupakan para ulama yang menghabiskan sebagian masa belajarnya di Makkatul Mukarraham. Tradisi tersebut masih terus berlanjut. Bahkan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj merupakan alumni dari Universitas Ummul Qura Makkah. 

Dengan kedekatan-kedekatan tersebut, wajar jika kunjungan Raja Salman yang kini menjadi penguasa tertinggi di Saudi Arabia ini mendapat sambutan yang antusias di Indonesia. Kunjungan terakhir raja Saudi dilakukan oleh Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tahun 1970 atau 47 tahun lalu. 

Besarnya jumlah anggota rombongan yang dibawa kali ini menunjukkan pentingnya makna yang akan dibangun. 10 orang menteri yang ikut, termasuk menteri energi Saudi Arabia, menandaskan adanya peluang besar kerja sama di bidang ekonomi. Kedua belah pihak memiliki kepentingan agar hubungan ekonomi ini terjalin lebih erat. Turunnya harga minyak belakangan ini telah menyebabkan anjloknya pendapatan pemerintah Saudi Arabia sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran tahunan. Dengan demikian, Saudi harus mempersiapkan diri untuk mendiversifikasikan sumber pendapatannya dari berbagai sektor. Indonesia bisa menjadi partner untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. 

Yang juga patut mendapat perhatian adalah pentingnya perlindungan bagi para pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia di berbagai sektor. Kasus-kasus penganiayaan yang sering terjadi telah melukai rasa kemanusiaan kita. Karena itu, Indonesia harus menekan pemerintah Saudi agar sistem ketenagakarjaan dibuat lebih baik sehingga para pekerja keselamatannya sekaligus menerima hak-haknya dengan baik.

Di samping hal-hal yang menarik terkait dengan bidang ekonomi, aspek keagamaan dari Saudi Arabia juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi NU. Pandangan keagamaan yang dianut oleh Saudi yang konservatif dengan paham wahabisme selama ini tidak selalu sejalan dengan pandangan mayoritas Islam di Indonesia. Ajaran wahabisme yang cenderung tekstual dan tumbuh di negeri yang tertutup tersebut memaknai secara kaku ajaran-ajaran Islam. Apa yang tidak sesuai dengan pandangannya dianggap bid’ah atau bahkan sesat. Apalagi dengan klaim posisi sebagai pewaris Nabi sehingga segala sesuatu yang berasal dari Arab Saudi dianggap sebagai tafsir paling otentik tentang Islam oleh Muslim awam. Bagi sebagian orang, apa yang datang dari Saudi Arabia masih dianggap sebagai sebuah kebenaran. Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam. 

Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah terbuka dan hidup dengan berbagai macam jenis keragaman memunculkan sikap keagamaan yang toleran dan menghargai harmoni hidup bersama. Perbedaan-perbedaan berusaha dicarikan jalan tengah tanpa menghilangkan hal-hal yang prinsip. Kemungkinan konsolidasi kekuatan wahabisme inilah yang harus kita waspadai dalam kunjungan kali ini mengingat klaim-klaim kebenaran tunggal yang selama ini selalu muncul dari kelompok tersebut telah memiliki potensi merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Bukan hanya Indonesia yang harus belajar berbagai ilmu agama dari Saudi Arabia. Dengan melihat kondisi yang selama ini selalu hidup dengan tenang dan damai, Saudi bisa belajar Islam indonesia yang ramah yang sangat cocok dengan dunia yang semakin terbuka di era global. Penyelesaian persoalan di Timur Tengah yang selama ini identik dengan menggunakan kekuatan bersenjata dengan tingkat kehancuran yang massif bisa menggunakan pendekatan ala Asia Tenggara yang mengedepankan dialog antartetangga. 

Akan ada selalu perbedaan jika kita mencarinya, tetapi Indonesia dan Saudi Arabia sebagai negara Muslim harus mengedepankan hubungan yang saling menghormati dan lebih melihat pada hal-hal besar untuk mencapai kemajuan bersama umat Islam dunia yang kini masih menghadapi berbagai tantangan besar. (Mukafi Niam)

Sumber : NU.OR.ID

Rabu, 15 Februari 2017

JAKARTA – Dalam berbagai kesempatan, Rais Am Jam’iyah Ahlu Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdiyah Maulana, Habib Luthfi bin Yahya, tak henti-hentinya menitipkan pesan yang sangat penting bagi penerus bangsa Indonesia perihal Pancasila, Nasionalisme, Merah Putih, Cinta Tanah Air, dan NKRI.
Berikut di antara pesan-pesan beliau:
1. Saya salut banyak bendera Merah Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air.
Dalam Merah Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?
2. Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan, dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan.
Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda.
3. Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama.
4. Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa.
5. Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw mengatakan, Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab. Ini contoh konkret kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya.
Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah Swt atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI, atau POLRI.
6. Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya.
7. Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara, dan Jam’iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati.
Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik.
8. Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin.
Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran.
9. Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal.
Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.
10. Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt untuk memiliki Bangsa Indonesia.
11. Bendera Merah Putih adalah harga diri bangsa, kehormatan bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa.
Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri bangsa, pada sang saka Merah Putih.
12. Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih.
Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?
13. Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih.
Karena itu, sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.
Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.
15. Yang memperjuangkan bangsa ini adalah para ulama, kiai, dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah.
Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.
16. Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah.
Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan.
Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.
17. Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu.
Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini.
Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.
18. Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab, Pancasila akan dimiliki semua pihak.
Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di back-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan, dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan.
Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik, sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air, dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.
19. Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penjajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang.
Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.
20. Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka bangsa dan negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll, pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja.
Saya tidak melarang kritik, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.
21. Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah.
Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.

**Tulisan ini dimuat berdasarkan persetujuan Humas Habib Lutfhi setelah berkonsultasi dengan Rais Am Jam’iyah Ahlu Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdiyah Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
Menurut Humas Habib Luthfi, 21 pesan di atas dirangkum dari ceramah-ceramah yang disampaikan Habib Luthfi bin Yahya.

Sumber : ANSORNews

SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)