Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Selasa, 07 Maret 2017


Jumhur (mayoritas) ulama fiqh mengatakan bahwa sunnah hukumnya khatib memegang tongkat dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dijelaskan oleh Imam Syafi'i di dalam kitab al-Umm: 


قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى) بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا
t;


Imam Syafi'i RA berkata: Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah saw berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi' mengabarkan dari Imam Syafi'i dari Ibrahim, dari Laits dari 'Atha', bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan". (al-Umm, juz I, hal 272)

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ 


Dari Syu'aib bin Zuraidj at-Tha'ifi ia berkata ''Kami menghadiri shalat jum'at pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka  Beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur". (Sunan Abi Dawud hal. 824). 


As Shan’ani mengomentari hadits terserbut bahwa hadits itu menjelaskan tentang “sunnahnya khatib memegang pedang atan semacamnya pada waktu menyampaikan khutbahnya”. (Subululus Salam, juz II, hal 59)

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ 


Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama' ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain". (Ihya' 'Ulum al-Din, juz I, hal 180)


Hikmah dianjurkannya memegang tongkat adalah untuk mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak mempermainkan tangannya. Demikian dalam kitabSubulus Salam, juz II, hal 59).

Jadi, seorang khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah. Tujuannya, selain mengikuti jejak Rasulullah SAW juga agar khatib lebih konsentrasi (khusyu’) dalam membaca khuthbah. Wallahua’lam bishshawab.



H.M.Cholil Nafis, MA.

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU


Sumber : NU.OR.ID

BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) adalah tenaga inti dari organisasi Gerakan Pemuda Ansor sebagai kader penggerak, pengemban dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan Gerakan Pemuda Ansor. Kader dimaksud adalah anggota Gerakan Pemuda Ansor yang memiliki kwalifkasi : Disiplin dan dedikasi yang tinggi, ketahanan fsik dan mental yang tangguh, penuh daya juang dan religius sebagai benteng ulama dan dapat mewujudkan cita-cita Gerakan Pemuda Ansor dan kemaslahatan umum.

Fungsi Utama Banser antara lain :
  1. Fungsi Kaderisasi BANSER merupakan perangkat organisasi Gerakan  Pemuda Ansor sebagai kader terlath untuk pengembangan kaderisasi dilingkungan Gerakan Pemuda Ansor.
  2. Fungsi Dinamisator BANSER merl.lpakan perangkat organisasi  Gerakan Pemuda Ansor yang berfungsi sebagai pelopor penggerak program-program Gerakan Pemuda Ansor.
  3. Fungsi Stabilisator BANSER merupakan perangkat organisasi  Gerakan Pemuda Ansor yang berfungsi sebagai pengaman program-program sosial kemasyarakatan Gerakan Pemuda Ansor.
  4. Fungsi Katalisator BANSER merupakan perangkat organisasi  Gerakan Pemuda Ansor yang berfungsi sebagai erekat hubungan silaturrohmi dan menumbuhkan rasa solidaritas sesama anggota Banser, anggota Gerakan Pemuda Ansor dan masyarakat.


Tugas BANSER :
  1. Merencanakan, mempersiapkan dan mengamalkan cita-cita  pejuangan Gerakan Pemuda Ansor serta menyelamatkan dan mengembangkan hasil-hasil perjuangan yang telah di capai.
  2. Melaksanakan program sosial kemasyarakatan dan program  pembangunan yang berbentuk rintsan dan partsipasi.
  3. Membantu terselenggaranya keamanan dan ketertban di  lingkungan Gerakan Pemuda Ansor dan lingkungan sekitarnya.
  4. Menumbuhkan terwujudnya semangat pengabdian, kebersamaan,  solidaritas dan silaturrohim sesama anggota Banser dan anggota Gerakan Pemuda Ansor.


Tanggung Jawab BANSER adalah:
  1. Menjaga, memelihara dan menjamin kelangsungan hidup dan  kejayaan Gerakan  Pemuda Ansor khususnya dan NU umumnya
  2. Berpartsipasi aktf melakukan pengamanan dan ketertban  terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan Badan Otonom Nahdlatul Ulama lainnya.
  3. Bersama dengan kekuatan Bangsa yang lain untuk tetap menjaga  dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, hambatan, gangguan dan tantangan.


Kegiatan BANSER :
Kegiatan BANSER adalah kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan, pembangunan serta bela Negara

STATUS BANSER
Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) adalah lembaga semi otonom  dari Gerakan Pemuda Ansor, artinya Banser tidak pernah lepas sama  sekali dari GP Ansor dan secara struktural dibawah koordinasi Ketua Umum ditingkat pusat dan Ketua - Ketua di masing-masing tingkatan di bawahnya.


Keterangan (Sumber) :
  • Berdasarkan Keputusan Konferensi Besar XVIII Gerakan Pemuda Ansor Tahun 2012 Nomor : 18/KONBES-XVIII/VI/2012

Senin, 06 Maret 2017

Diriwayatkan bahwa setelah Nabi Dawud a.s. menyaksikan sendiri betapa hebat dan dahsyat balasan cinta Allah SWT kepada para wali-wali-Nya—para pecinta Allah merindukan perjumpaan dengan-Nya—beliau pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dengan apa mereka memperoleh anugerah ini dari-Mu?

Allah SWT menjawab, “Dengan berbaik sangka, mencegah diri dari dunia dan penghuninya, mengasingkan diri bersama-Ku dan munajat mereka kepada-Ku. Ini adalah peringkat yang tidak mudah dicapai oleh siapa pun kecuali orang yang bersungguh-sungguh menutup mata terhadap dunia dan penghuninya, juga sedikit pun tidak disibukkan olehnya, bahkan tidak terlintas dalam ingatannya.
Ia mengosongkan dirinya hanya untuk-Ku dan hanya memilih-Ku di antara seluruh makhluk-Ku.

Ketika itulah Aku bersimpati kepadanya. Aku kosongkan jiwanya dan Aku singkapkan tirai antara Aku dengannya hingga ia melihat-Ku sebagaimana mata melihat sesuatu.

Aku perlihatkan kepadanya kemuliaan-Ku setiap waktu. Aku dekatkan dia pada cahaya ‘wajah’-Ku. Jika ia jatuh sakit, maka Akulah yang merawat dan mengobatinya, persis seperti seorang ibu yang penuh kasih merawat anaknya. Jika ia haus, maka Aku memberikan minum dan Aku cicikan padanya kelezatan mengingat-Ku.

Aku berbuat begitu kepadanya, maka ia buta akan dunia dan seluruh penghuninya. Aku jadikan ia tidak berselera kepadanya. Ia pun tidak susah-payah sibuk dengan-Ku. Lalu, ia pun ingin cepat-cepat mendatangi-Ku.

Aku tak ingin cepat-cepat mencabut nyawanya, sebab ia tidak melihat apa pun selain Aku. Hal yang sama pun terjadi pada-Ku. Aku tak melihat selain darinya. Jika Aku melihatnya, maka melelehlah dirinya, kuruslah badanya, dan berhamburlah organ-organ tubuhnya.
Ketika ia mendengar Aku menyebutnya, kalbunya langsung tercerabut.

Aku banggakan ia pada malaikat-malaikat-Ku dan para penghuni langit-Ku. Lalu, rasa takut dan ibadahnya pada-Ku pun semakin bertambah. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan dudukkan dia di Surga Firdaus, Aku akan menyembuhkan dadanya dengan melihat-Ku sampai ia rela dan benar-benar rela!”

--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Ridha


Perjuangan Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban dalam membabat kawasan timur pulau Jawa menjadi daerah yang sarat dengan nilai-nilai religius sudah tidak disangsikan lagi. Hasil jerih payahnya masih dapat kita saksikan sampai sekarang
Sekitar pertengahan abad ke-16 M tersebutlah seorang pemuda gagah berdarab Arab di pinggir laut Jawa, Cirebon. Selama beberapa bulan, ia berlayar dari kampung halamannya di negara Yaman. Saat itu memang sedang gencar-gencarnya orang-orang Arab berimigrasi ke Tanah Jawa. Dan salah satu dari mereka adalah Abdurrahman Ba Syaiban.
Ba Syaiban adalah gelar warga habib keturunan Sayyid Abu Bakar Syaiban, seorang ulama terkemuka di Tarim, Hadhramaut yang terkenal alim dan sakti. Sayyid Abu Bakar mendapat julukan Syaiban (yang beruban) karena ada kisah unik dibalik julukan itu. Suatu ketika, Sayyid Abu Bakar yang saat itu masih tergolong muda menghilang. Sejak itu ia tidak muncul-muncul. Konon, ia uzlah untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Baru, setelah tiga puluh tahun, Sayyid Abu Bakar muncul di Tarim. Anehnya, ia tetap muda. Tapi yang lebih aneh lagi, rambutnya telah berubah putih keperakan, tak sehelai rambutnya yang berwarna hitam. Kepalanya seperti berambut salju. Sejak ituah orang-orang menjulukinya Syaiban (yang beruban).
Abdurrahman masih tergolong cicit dari Sayyid Abu Bakar Ba Syaiban. Ia putra sulung Sayyid Umar bin Muhammad bin Abu Bakar Ba Syaiban. Lahir pada abad ke-16 M di Tarim, Yaman bagian selatan sebuah perkampungan sejuk di Hadhramaut yang masyhur sebagai gudang para wali dan auliya’ Allah.
Ketika dewasa ia merantau ke Nusantara, tepatnya di Pulau Jawa. Sayyid Abdurrahman memilih tempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin, Demak. Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama Syarifah Khadijah dan masih cucu Raden Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati.
Dari pasangan ini lahir tiga putra, yakni Sayyid Sulaiman, Sayyid Abdurrahim dan Sayyid Abdul Karim. Mewarisi keturunan leluhurnya dalam berdakwah, keluarga ini berjuang keras menyebarkan Islam di Jawa, tak jauh dengan apa yang telah dilakukan oleh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Pengaruh dan ketekunan mereka dalam berdakwah membuat penjajah Belanda khawatir. Maka ketika menginjak dewasa Sayyid Sulaiman dibuang oleh mereka. Ia kemudian tinggal di Krapyak, Pekalongan Jawa Tengah. Di Pekalongan, ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra. Empat diantaranya laki-laki yakni Hasan, Abdul Wahhab, Muhammad Baqir dan Ali Akbar.
Dari Pekalongan, Sayyid Sulaiman berkelana lagi. Kali ini, ia menuju Solo sebagai tempat tujuan berdakwah. Selama di Solo, ia terkenal sakti mandraguna. Kesaktiannya yang sudah masyhur itu mengundang rasa iri seorang ratu dari Mataram. Sang ratu ingin membuktikan kesaktian Sayyid Sulaiman. Maka diundanglah ke keraton Mataram yang saat itu sedang berlangsung pernikahan putrid bungsu sang Ratu. Untuk memeriahkan pesta pernikahan putri bungsunya itu, Ratu meminta Sayyid memperagakan pertunjukan yang tak pernah diperagakan oleh siapa pun.
Mendengar permintaan sang Ratu, sayyid meminta pada Ratu untuk meletakkan bambu di atas meja, sembari berpesan untuk ditunggu, Sayyid Sulaiman lalu pergi kea rah timur. Masyarakat sekitar kraton menunggu kedatangan Sayyid sedemikian lama, namun Sayyid belum juga datang. Ratu Mataram hilang kesabaran. Ia marah, lalu membanting bambu di atas meja hingga hancur berkeping-keping. Ajaib, kepingan bambu-bambu itu menjelma menjadi hewan bermacam-macam. Ratu Mataram tersentak kaget melihat keajaiban ini, barulah ia mengakui kesaktian Sayid Sulaiman.
Ratu Mataram kemudian menitahkan beberapa prajuritnya untuk mencari Sayyid Sulaiman. Sedang hewan-hewan jelmaan bamboo itu terus dipelihara. Hewan-hewan itu ditampung dalam sebuah kebun binatang yang kemudian diberi nama Sriwedari. Artinya, Sri adalah tempat, sedangkan Wedari adalah wedar sabdane Sayyid Sulaiman. Kebun binatang itu tetap terpelihara.Tak lama berselang, Sriwedari menjadi sebuah taman dan objek wisata terkenal peninggalan Mataram.
Setelah meninggalkan Solo, Sayyid Sulaiman menuju ke timur tepatnya, Ampel Surabaya. Ia kemudian berguru kepada santri-santri Raden Rahmat, Sunan Ampel. Kabar keberadaan Sayyid Sulaiman akhirnya sampai ke telinga Ratu Mataram. Ia mengirim utusan ke Surabaya untuk memanggilnya. Diantara utusan itu ternyata ada Sayyid Abdurrahim, adik kandungnya sendiri. Sesampainya di Ampel, ia sangat terharu bertemu kembali dengan kakaknya tercinta. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Ia juga ingin belajar kepada santri-santri Sunan Ampel bersama Sayyid Sulaiman.
Setelah nyantri di Ampel, kakak beradik ini pergi ke Pasuruan untuk nyantri kepada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro. Lepas dari itu mereka mondok di Mbah Soleh, Sayyid Sulaiman tinggal di Kanigoro, Pasuruan. Sehingga ia mendapat julukan Pangeran Kanigoro dan sempat pula menjadi penasehat Untung Surapati. Untung Surapati adalah tokoh terkemuka Pasuruan dan tercatat sebagai pahlawan yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Nusantara.
Berita kesaktian Sayyid Sulaiman juga terdengar oleh Ratu Keraton Pasuruan. Ratu Pasuruan tidak percaya tentang kesaktiannya. Ia seringkali melecehkan kesaktian Mbah Sayid. Sampai suatu ketika Putri Keraton yang sedang berjalan-jalan keliling kota hilang. Sang ratu menjadi bersedih bermuram durja.
Lalu diadakanlah sayembara; Bagi yang menemukan sang putri, akan mendapat hadiah yang sangat besar. Tapi malang, sampai berhari-hari diadakan sayembara itu, tak satupun dari peserta yang berhasil menemukan sang putri. Akhirnya, sang Ratu meminta bantuan Sayyid Sulaiman, dan dengan mudah ia menemukan sang putri keraton. Begitu sampai di hadapan Sang Ratu, Sayyid Sulaiman memasukan tangannya ke dalam saku. Tak berapa lama kemudian ia melemparkannya ke halaman. Luar biasa! Dengan ijin Allah, sang putri muncul dengan kereta dan kusirnya di halaman Keraton. Konon, ia dibawa lari oleh jin ke alam gaib.
Melihat putrinya kembali, ia menjadi gembira, dan meminta Sayyid Sulaiman menikahi putrinya sebagai ucapan terima kasih atas jasanya itu. Namun, Sayyid Sulaiman menolaknya, ia lebih memilih tinggal di Kanigoro dan tak berapa lama kemudian ia diambil menantu oleh Mbah Soleh Semendi. Sayyid Sulaiman juga mempunyai istri dari Malang dan mempunyai seorang putra yang bernama Hazam.
Setelah menikah dengan putri kedua Mbah Soleh, Sayyid Sulaiman kembali ke Cirebon. Tapi suasana Cirebon dan banten saat itu sedang terjadi kericuhan besar, dimana Sultan Ageng Tirtayasa sedang berperang dengan putranya sendiri yakni Sultan Haji (1681-1683). Melihat pertikaian ini, Sayyid Sulaiman kemudian kembali ke Pasuruan dan menetap di desa Gambir Kuning.Di Gambir Kuning ia mendirikan dua buah masjid dan sampai sekarang masjid itu masih ada dan mengalami sedikit perubahan pada lantai dan sebagian bangunan lainnya.
Rupanya kekeramatan Sayyid Sulaiman kembali di dengar oleh Ratu Mataram, kembali ia memanggilnya untuk bertemu. Ratu Mataram kemudian mengutus salah satu Adipatinya untuk menemuinya dan mengajak Sayyid Sulaiman untuk bertemu dengan sang Ratu. Bersama tiga orang santrinya yakni, Mbah Jaelani (Tulangan, Sidoarjo), Ahmad Surahim (putra Untung Surapati), dan Sayyid Hazam (putranya) mereka berangkat ke Solo. Ratu Mataram pada waktu itu berembuk untuk mengangkat Sayid Sulaiman sebagai hakim, namun ia menolak dengan alasan akan meminta pertimbangan dan restu dari istri dan masyarakat yang ada di Pasuruan.
Tentu saja, mereka yang ada di Pasuruan tidak menyetujuinya. Sayyid Sulaiman kemudian pamit kepada istrinya yang sedang hamil tua untuk pergi ke Solo. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di kampung Batek, Mojoagung Jombang, ia jatuh sakit. Selama masa sakit, ia dirawat oleh seorang kiai bernama Mbah Alif sampai beliau wafat dan kemudian wafat dan di makamkan di sana.
Perjuangan Sayyid Sulaiman dalam membabat kawasan timur pulau Jawa menjadi daerah yang sarat dengan nilai-nilai religius sudah tidak disangsikan lagi. Hasil jerih payahnya masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Sayyid Sulaiman berjasa mendirikan pesantren Sidogiri,s ebuah pesantren tertua di Jawa Timur dan menurunkan pewaris perjuangan, di mana anak keturunannya di kemudian hari banyak menjadi pemangku pesantren-pesantren besar di tanah Jawa, mulai dari pesantren Sidogiri (Pasuruan), Sidoresmo (Surabaya), Al Muhibbain (Surabaya) sampai Syaikhona Cholil (Bangkalan).
Sayyid Sulaiman dari istri pertamanya di Krapyak (Pekalongan), ia dikaruniai empat putra yakni Hasan, Abdul Wahab, Muhammad Baqir (Galuran, Sidoarjo) dan Ali Akbar. Dari galur Abdul Wahab banyak keturunannya yang tinggal di Magelang dan Pekalongan. Sedangkan dari jalur Muhammad Baqir berada di Krapyak (Pekalongan).
Abdul Wahab dan Hasan (Pangeran Agung) dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan penjajah Portugis dan Belanda. Melalui jalur Ali Akbar terlahir ulama-ulama pemangku pesantren di Jawa Timur seperti Sidogiri, Demangan (Bangkalan), dan Sidoresmo (Surabaya).
Sayyid Ali Akbar meninggalkan enam putra yakni Imam Ghazali (Tawunan, Surabaya), Sayiyd Ibrahim (Kota Pasuruan), Sayyid Badrudin (makamnya di sebelah Tugu Pahlawan, Surabaya), Sayyid Iskandar (Bungkul, Surabaya), Sayyid Abdullah (Bangkalan, Madura), Sayyid Ali Ashghar (Sidoresmo).
Dari Sayyid Abdullah inilah menurunkan para pemangku pesantren Sidogiri dan Demangan (Bangkalan) yang memiliki puluhan ribu santri. Keturunan dari Sayyid Ali Ashghar di Surabaya banyak tinggal di Sidoresmo dan Sidosermo. Sekarang, di dua desa itu terdapat sekitar 28 pondok pesantren dan semuanya adalah anak keturunan dari Sayyid Sulaimain. Sayyid Ali Asghar juga menurunkan ulama-ulama pemangku pesantren di Tambak, Yosowilangon. Dari istri kedua, putri mbah Soleh Semendi Sayyid Sulaiman menurunkan Sayyid Ahmad (Lebak, Pasuruan). Dari istri ketiganya di Malang, ia mempunyai satu putra, Sayyid Hazam.


Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaktur bahtsul masail NU Online, saya ingin bertanya mengenai pernikahan yang dilaksanakan dengan mempelai wanita sudah dalam keadaan hamil, sedangkan hal tersebut ditutupi pihak keluarga (tidak jujur) terhadap sang naib.

Apakah pernikahan tersebut sah sedangkan ada unsur kebohongan di dalamnya? Apabila tidak sah, apakah dosa bagi sang naib yang telah menyatukan mereka dalam kubangan zina? Kemudian apakah perlu diadakan ijab-qabul ulang setelah sang bayi lahir? Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada redaksi NU Online. Wassalamu 'alaikum. (Deni Hilman/Banten)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami mencoba menjawab pertanyaan di atas. Kami akan memulai dengan kebohongan. Kalau informasi yang ditutup-tutupi hanya soal status kehamilan, ini tidak masalah dalam perkawinan. Karena kebohongannya tidak berkaitan dengan akad pernikahan.

Lain halnya bila pihak keluarga menyembunyikan status iddah atau status perkawinan calon mempelai wanita. Karena perkawinan perempunan yang tengah mengalami masa iddah atau masih dalam status perkawinan dengan seseorang-menurut agama-tidak sah. Hal ini disinggung oleh Imam Al-Ghazali sebagai berikut.


الركن الثاني المحل وهي المرأة الخلية من الموانع مثل أن تكون منكوحة الغير أو مرتدة أو معتدة أو مجوسية أو زنديقة أو كتابية بعد المبعث أو رقيقة والناكح قادر على حرة أو مملوكة الناكح بعضها أو كلها أو من المحارم أو بعد الأربعة أو تحته من لا يجمع بينهما أو مطلقة ثلاثا ولم يطأها زوج آخر أو ملاعنة أو محرمة بحج أو عمرة أو ثيبا صغيرة أو يتيمة أو زوجة رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Rukun kedua nikah adalah calon istri. Ia adalah perempuan yang terlepas dari larangan-larangan (untuk dinikahi) seperti (ia bukan) (1) istri orang lain (2) murtad (3) dalam masa iddah (4) penganut Majusi (5) zindiq (6) ahli kitab setelah Nabi Muhammad SAW diutus (7) budak milik orang lain di mana calon suami mampu mengawini perempuan merdeka (8) budak milik calon suami itu sendiri baik separuh atau sepenuhnya dalam kepemilikan (9) salah satu dari mahram (10) calon istri kelima darinya (11) perempuan yang tak lain saudara (kandung, susu, atau bibi) dari istri calon suami (yang ingin poligami) di mana dilarang menghimpun dua perempuan bersaudara dalam satu perkawinan (12) istri talak tiga yang belum dinikahi (harus dijimak) laki-laki lain (13) istri yang dili’an (14) perempuan yang sedang ihram haji atau umrah (15) janda di bawah umur (16) bocah perempuan status yatim (17) salah satu istri Rasulullah SAW,” (Lihat Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Al-Wajiz fi Fiqhil Imamis Syafi‘i, Beirut, Darul Arqam, tahun 1997 M/1418 H, juz II, halaman 10).

Adapun akad perkawinan itu sendiri sejauh syarat dan rukun perkawinan terpenuhi sah sekalipun calon mempelai wanitanya dalam kondisi hamil. Karena kehamilan bukanlah faktor yang menghalangi keabsahan akad nikah. Hal ini dijelaskan oleh Syekh M Nawawi Al-Bantani sebagai berikut dalam karyanya Qutul Habibil Gharib, Tausyih ala Fathil Qaribil Mujib.


ولو نكح حاملا من زنا، صح نكاحه قطعا، وجاز له وطؤها قبل وضعه على الأصح

Artinya, “Kalau seorang pria menikahi perempuan yang tengah hamil karena zina, maka akad nikahnya secara qath’i sah. Menurut pendapat yang lebih shahih, ia juga tetap boleh menyetubuhi istrinya selama masa kehamilan,” (Lihat Syekh M Nawawi Al-Bantani, Qutul Habibil Gharib, Tausyih ala Fathil Qaribil Mujib, Beirut, Darul Fikr).

Karena sudah sah, maka mereka tidak perlu mengulang kembali akad perkawinan itu setelah janinnya terlahir. Sementara naib tidak bisa dipersalahkan (dosa) karena ia telah bekerja sesuai prosedur, bahkan mendapat pahala karena telah membantu dua hamba Allah memasuki pintu ridha-Nya.

Saran kami, orang tua perlu mengajak anak-anak mereka yang telah beranjak dewasa untuk hadir dalam majelis taklim agar mengerti mana halal dan haram. Di samping itu para orang tua juga perlu mengawasi pergaulan anak-anaknya agar terhindar dari perzinaan, bahaya narkoba, dan keburukan lainnya.

Demikian jawaban dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)



Sumber : NU.OR.ID


Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online yang baik, saya mohon izin bertanya. Suatu hari, kami pernah ikut sembahyang Jumat di sebuah daerah. Setelah sujud pertama pada rakaat kedua, imam tiba-tiba berdiri. Ia tidak duduk di antara dua sujud. Mengetahui itu, jamaah masjid di depan membaca “subhanallah...” lalu imam melakukan sujud kedua tanpa ada duduk di antara dua sujud. Sebelum salam imam melakukan sujud sahwi.

Yang kami tanyakan adalah...apakah sah shalat tersebut karena imam tidak melakukan duduk di antara dua sujud? Terima kasih atas perhatian dan jawabannya. 
Wassalamu 'alaikum wr. wb. (Prasetyo/Purbalingga).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Pertama sekali yang perlu dipahami adalah bahwa duduk di antara dua sujud merupakan salah satu dari rukun atau tiang sembahyang baik sembahyang sunah maupun sembahyang wajib.

Kedua, duduk di antara dua sujud seperti juga i’tidal merupakan rukun singkat yang tidak boleh diperpanjang waktunya, tetapi juga tidak boleh dipersingkat tanpa thuma’ninah (diam sesaat). Hal ini disebutkan antara lain oleh Syekh Ar-Ramli dalam karyanya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut.


الثَّامِنُ ) مِنْ أَرْكَانِهَا ( الْجُلُوسُ بَيْنَ سَجْدَتَيْهِ مُطْمَئِنًّا ) وَلَوْ فِي نَفْلٍ نَظِيرَ مَا مَرَّ ( وَيَجِبُ أَنْ لَا يَقْصِدَ بِرَفْعِهِ غَيْرَهُ ) أَيْ الْجُلُوسِ لِمَا مَرَّ فِي الرُّكُوعِ ، فَلَوْ رَفَعَ فَزَعًا مِنْ شَيْءٍ لَمْ يَكْفِ وَيَجِبُ عَلَيْهِ عَوْدُهُ إلَى سُجُودِهِ ( وَأَنْ لَا يُطَوِّلَهُ وَلَا الِاعْتِدَالُ ) لِكَوْنِهِمَا رُكْنَيْنِ قَصِيرَيْنِ غَيْرَ مَقْصُودَيْنِ لِذَاتِهِمَا بَلْ لِلْفَصْلِ

Artinya, “(Kedelapan) dari rukun sembahyang adalah (duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah) meskipun hanya sembahyang sunah dengan perbandingan keterangan sebelumnya. (seseorang tidak boleh bermaksud dengan bangun [dari sujud pertama] selainnya) yaitu selain duduk di antara dua sujud seperti keterangan sebelumnya pada bab ruku’. Kalau seseorang bangun (dari sujud pertama) karena takut sesuatu, maka tidak memadai. Ia wajib kembali ke sujud pertamanya. (Ia juga tidak boleh memperpanjang duduk di antara dua sujud begitu juga i’tidal) karena keduanya (baik i’tidal maupun duduk di antara dua sujud) hanya rukun singkat yang tidak dimaksudkan untuk keduanya itu sendiri tetapi sekadar pembatas saja,” (Lihat Syekh Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan ketiga, 2003 M/1424 H, juz I, halaman 517).

Keterangan Syekh Ar-Ramli ini menunjukkan bahwa duduk di antara dua sujud merupakan rukun yang tidak boleh ditinggalkan dalam sembahyang, termasuk sembahyang Jumat. Bahkan duduk di antara dua sujud harus dilakukan dengan niat atau sengaja. Duduk di antara dua sujud yang dilakukan tanpa niat atau tanpa sengaja dianggap tidak sah.

Pertanyaan selanjutnya adalah kalaupun hanya sebagai pembatas atau pemisah, apakah duduk di antara dua sujud bisa digantikan dengan pemisah lainnya seperti berdiri atau bacaan tertentu? Syekh M Nawawi Al-Bantani dari Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa duduk sebagai pemisah antara dua sujud tidak bisa digantikan oleh lainnya sebagai keterangan berikut ini.


الحادى عشر الجلوس بين السجدتين) في كل ركعة ولو في نفل سواء أ صلى قائدا أو مضطجعا فلا يكفي ما دون الجلوس

Artinya, “(Kesebelas, duduk di antara dua sujud) pada setiap raka‘at meskipun sembahyang sunah. Hal ini juga berlaku baik bagi mereka yang sembahyang dalam keadaan duduk maupun berbaring. Tidak memadai selain duduk,” (Lihat Syekh M Nawawi Al-Bantani, Syarah Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja fi Ushuliddin wal Fiqh, Indonesia, Daru Ihya’il Kutubu Al-Arabiyyah, tanpa tahun, halaman 55).

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sembahyang semua jamaah Jumat dengan kaifiyat seperti yang ditanyakan di atas tidak sah karena meninggalkan salah satu dari rukun sembahyang. Sementara berdirinya imam dari sujud pertama pada rakaat kedua tidak bisa diakui sebagai rukun pemisah antara dua sujud.

Harusnya setelah berdiri, imam tersebut duduk terlebih dahulu sejenak sebelum sujud kedua. Lalu ia mengerjakan sujud sahwi sebelum salam. Kalau ini tidak dilakukan, maka terang sembahyang makmum dan imam Jumat itu tidak sah kendati telah sujud sahwi karena sembahyang Jumat wajib dilakukan berjamaah.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)


Sumber : NU.OR.ID

Habib Abdullah Asy Syathiri, Hadramaut, Yaman pernah mempunyai seorang murid yang cerdas, sajian ceramahnya indah. Setiap kali si murid ini akan menyampaikan ceramah di suatu tempat, ia pasti menghadap terlebih dahulu kepada Habib Abdullah untuk meminta izin dan restu. 

"Iya, saya kasih izin, semoga engkau dilimpahi keberkahan," kata Habib Abdullah. 

Berbagai majelis didatangi oleh murid ini. Namun tiba satu waktu yang dilematis. Ia mendapat undangan mengisi ceramah dalam satu tempat, namun berbenturan dengan jadwal mengaji yang diasuh gurunya, Habib Abdullah.

Timbul dalam hati si murid ini untuk membolos. "Ah, sesekaIi tak masalah lah kalau aku tidak masuk majelis taklim," pikirnya. 

Namun tidak seperti biasa, dalam pengajian Ribath Tarim ini, tiba-tiba Sang Guru, Habib Abdullah Asy-Syathiri mengabsen satu persatu nama murid hingga sampai pada panggilan nama seorang murid yang bolos tadi. 

"Fulan bin Fulan," Panggil Habib Salim.

"Maaf, dia tidak hadir Tuan Guru," kata salah satu murid yang duduk di majelis. 

"Lho, ke mana dia?" tanya sang guru.

"Dia mengisi ceramah di suatu tempat."

"Kenapa dia tidak izin terlebih dahulu kepadaku? Aku tidak ridho dunia akhirat," tegas Habib Abdullah.

Tiba-tiba si murid yang sedang memulai ceramah itu mendadak ia hanya bisa menyampaikan "amma ba'du, amma ba'du, amma ba'du", begitu terus tidak bisa menyampaikan ceramah satu patah kata pun sebagaimana biasanya. 

Setelah kejadian itu, si murid di kemudian hari hidupnya selalu terlunta-lunta, miskin dan tidak bisa cemerlang sebagaimana sebelumnya di mana ceramah agamanya nikmat dan ditunggu banyak orang. Ini hilang semua karena dia tidak mendapat ridho guru. 

(Ahmad Mundzir)

Cerita ini disampaikan oleh KH Agus Reza Ahmad Zahid (Gus Reza Imam Yahya) dalam acara Haul Akbar Ngroto di Komplek Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (18/1/2017). 


Sumber : NU.OR.ID


Datang seseorang melarat kepada Sang Pemimpin mengeluhkan kondisinya yang sangat lapar. Sang Pemimpin pun bertanya kepada istrinya kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata di rumah Sang Pemimpin pun yang ada hanya air. Sang Pemimpin kemudian bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini?”

“Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke rumahnya sendiri membawa tamunya.

“Saya membawa tamunya pemimpin kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada istrinya.

“Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persiadaan untuk anak-anak kita;” bisik sang istri. 

“Sibukkan mereka;” kata suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur. Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita pura-pura ikut makan!”

Demikianlah keluarga itu menjalankan skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri hingga pagi.

Esok harinya sebelum laporan, Sang Pemimpin yang tidak lain adalah Rasulullah SAW, sudah menyambut kepala rumah tangga–seorang shahabat Anshor–itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalam.”

Anda tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya seperti dongeng, bukan?!

Cerita ini disampaikan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun Facebook pribadinya pada 19 Mei 2009 dengan judul “Bukan Dongeng”


Sumber : NU.OR.ID

Minggu, 05 Maret 2017

Setelah kejadian kemarin (Penolakan Ansor terhadap Penceramah Chalid Basalamah) muncul banyak isu dan berita baik di Media online dan sosial Media. Diantaranya Ansor membubarkan majlis ilmu, Ansor merusak masjid, gereja dijaga namun kegiatan ilmu sesama muslim dibubarkan dan banyak berita miring yang muncul.

_Sengaja atau tidak, namun inilah gaya mereka Dalam berdakwah_ menyebarkan berita yang tidak seebenarnya, mendramatisir bahkan kluar dari konteks kejadian dengan tujuan menjelekkan kelompok lain dan mengambil simpati.
Maka dari itu perlu ada klarifikasi dan kronologi kejadian.

1. Yang kita tolak bukanlah majlis ilmunya sebagai bukti ketika basalamah turun diganti ustadz lain kita tdk mempermasalahkan.

2. Saat forum mediasi oleh kapolresta antara MWC NU, Ansor, Panitia dan pengurus Masjid. Kapolresta meminta bukti rekaman / contoh ceramah Cholid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik? Ansor sdah menyiapkan 3-video bagaimana Cholid Basalamah menelanjangi ajaran lain, menyalahkan aliran lain tanpa memahami duduk permasalah, mensyirikkan tampa perbandingan dalil, inilah yang kemudian kami anggap menjadi pokok persoalan.
Bukan perbedaan madzhabnya tapi bagaimana menghargai perbedaan. Ansor dan NU sdh terbiasa berbeda faham dengan muhammadiyah dan aliran lain yang seiman bahkan dengan agama lain namun tdk ada provokasi dan tetap hidup dngan rukun dan damai.

2. Ketika terjadi negoiasi dengan Kapolresta, panitia menyatakan bahwa yang ceramah bukan chalid basalamah melainkan cd rekaman. Inilah gaya mereka berbohong.
dan ketika kita mengetahui bahwa yang berceramah adalah asli Cholid Basalamah maka Ansor merasa dibohongi. Namun kita tetap sabar. Dan tetap pada koridor negoisasi dan percaya pada pihak kepolisian.

4. Namun Apa yang terjadi? berita yang beredar dimedia kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid.
Masyallah tidak ada satupun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor Banser NU.
Justru.

5. Disaat situasi sdah tenang dan selesai karena ada kesepakatan MOU bahwa panitia akan menghentikan ceramah Cholid Basalamah serta tdk akan menaikkan mimbar lagi bahkan pengurus masjid tdk akan mengundangnya dikemudian hari. Situasi sdh tenang Ansor Banser mau pulang tiba tiba ada laporan bahwa: Ketua PAC Ansor tulangan dipukul jamaah pegajian. Dan pemukulnya sdh diamankan polisi. Ketua PAC atas nama Zaini tdk melawan bahkan di Mapolsek Gedangan Shbt. Zaini memaafkannya kerena islam yang diajarkan para pendiri NU adalah islam yang ramah. Atasnama ukhuwah islamiyah pelaku yang mengaku warga kamal dimaafkan.

6. Selain melakukan penolakan terhadap penceramah Cholid Basalamah, PC GP Ansor juga meminta untuk melakukan Tabayyun, berdialog dan berbagi ilmu dengan Cholid Basalamah tujuannya kita menjaga tradisi keilmuan sekaligus ingin menghilangkan kesalahfahaman namun permintaan ditengah negoisasi itu tidak kesampaian kerena kita konsentrasi atas hasil kesepakatan (MOU) untuk mendinginkan suasana dan mudah-mudahan kedepan Cita-Cita mempertemukan antara Cholid Basalamah dengan Kyai NU akan terselenggara.

Minggu 5 Maret 2017

*H. Riza Ali Faizin*
Ketua Ansor Cabang Sidoarjo


Untuk mengurangi angka kecelakaan pelajar serta pemberian fasilitas pelajar untuk akses menuju sekolah Pemkab Trenggalek melaunching kendaraan bagi pelajar, Jum'at (2/3). Lounching ini dilakukan oleh Bupati Trenggalek, Dr. Emil Elestianto Dardak di Gedung Bhawarasa. Untuk sementara Pemerintah Kabupaten Trenggalek menyediakan sembilan kendaraan untuk mengangkut para pelajar di Trenggalek.

Sembilan kendaraan ini terdiri dari 3 kendaraan jenis minibus milik pemerintah dan enam MPU yang dimaksimalkan fungsinya untuk hal ini. Sementara kendaraan untuk pelajar ini bisa mengcover 109 pelajar dahulu.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Sigid Agus Hari Basoeki, SH, M.Si.   Dijelaskan olehnya "pertama kali ini, kita ingin mencoba sebuah sistem, bagaimana kita mencoba menerapkan angkutan pelajar gratis untuk awal, untuk mendapatkan penyikapan dari berbagai pihak untuk evaluasi kedepan," jelas Kadishub ini.

"Untuk awal ini Pemerintah baru bisa mengakomodir 109 siswa, bagi mereka yang datang dari Gandusari, Suruh, Tugu dan Bendungan. Kita menggunakan dua jenis kendaraan sesuai trayek MPU yang tersedia yaitu 6 kendaraan MPU dan tiga kendaraan milik Pemerintah," imbuhnya.

"Nanti pada saatnya akan sepenuhnya, sementara ini kita berdayakan MPU-MPU kita yang hampir kolaps. Kalau keberadaan MPU ini minim pasti akan kita back up dengan kendaraan dinas," ucapnya.

"Pelajar dari titik tersebut akan diantar kesekolah-sekolah yang dituju, dan kita utamakan bagi kelas VII dan kelas VIII."

"Sistem ini pastinya belum sempurna, sehingga akan terus kami perbaruhi kedepannya. diharapkan adanya himbauan dan saran dari masyarakat untuk menyempurnakan program ini."

Bupati Trenggalek, Dr. Emil Elestianto Dardak dalam launching tersebut menyampaikan, "kendaraan pelajar ini untuk mengurangi angka kecelakaan pelajar yang rangking kedua tertinggi di Trenggalek. Selain itu kendaraan pelajar ini ditujukan untuk menggeliakkan perekonomian rakyat termasuk juga dengan MPU yang mulai kolaps," jelas bupati.

"Dengan kendaraan pelajar ini siswa harus mau bangun pagi, karena kendaraan ini berangkat pukul 05.30 WIB, sedangkan pulangnya pukul 12.30 WIB. Pasalnya bila lewat jam tersebut pasti akan tertinggal karena pada jam itu kendaraan ini berangkat," imbuhnya.

Diharapkan oleh Bupati Emil Dardak, pelajar maupun sekolah bisa menyukseskan hal ini. Karena dengan program ini sukses, angka pelajar berkendara sendiri dapat ditekan. Dengan dibiarkan pelajar berkendara sendiri, sama halnya melepaskan ular ditengah Alun-alun atau di tempat keramaian. Bahaya bisa mengancam sewaktu – waktu, sehingga dengan tidak berkendara, bahaya yang mengancam dapat ditekan.”(Humas)

Sumber : http://humassetda.trenggalekkab.go.id/berita/maret/644-pemkab-trenggalek-launching-kendaraan-pelajar


Sabtu, 04 Maret 2017

JawaPos. com - Para orang tua dan siswa di Trenggalek harus bersabar. Niat pemerintah menyediakan layanan bus sekolah baru bisa dinikmati sekitar Mei mendatang. Dana untuk pengadaan kendaraan operasional pendidikan tersebut mencapai Rp 1,75 miliar.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kusprigianto menyatakan, pihaknya memang menganggarkan pengadaan bus sekolah tersebut dalam APBD 2017. Tujuannya, meminimalkan penggunaan kendaraan bermotor di kalangan pelajar.

Selain itu, kata dia, dengan adanya kendaraan sekolah, laka lantas yang melibatkan anak-anak sekolah bisa dicegah dan ditekan. ’’Diharapkan awal tahun pelajaran baru sudah bisa digunakan,’’ katanya.

Kuspri menjelaskan, dalam hal pengadaan kendaraan tersebut, dikpora menjadi pihak yang menganggarkan. Teknis pelaksanaan atau pengoperasian nanti ditangani dinas lain, yakni dinas perhubungan.

Anggaran Rp 1,75 miliar tersebut akan dirupakan empat unit kendaraan sejenis minibus. Untuk gambaran sementara, empat kendaraan itu nanti mengangkut anak sekolah dari tempat atau wilayah yang berbeda. Ada empat rute yang akan dilalui kendaraan sekolah tersebut, yakni Kecamatan Tugu, Gandusari, Durenan, dan Karangan, yang semua bertujuan akhir Trenggalek Kota.

’’Memang belum semua bisa diakomodir. Tetapi, minimal bisa mengurangi kerawanan kecelakaan pada pelajar,’’ terang dia.

Berdasar data kepolisian, terdapat 9.533 kasus pelanggaran lalu lintas pada 2016. Jumlah itu naik sekitar 5.388 kasus pelanggaran dari tahun sebelumnya (2015) yang hanya 4.145 kasus.

Ironisnya, pelanggar yang mendominasi adalah kelompok usia remaja atau pelajar. Yakni, pelanggaran tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) mencapai 5.098 kasus dan tidak menggunakan helm 1.028 kasus. (hai/rka/c5/diq)

Sumber: http://www.jawapos.com/read/2017/03/02/113427/kucurkan-rp-175-m-untuk-4-bus-sekolah


SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)