Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Rabu, 15 Maret 2017


Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menilai, kemelut masalah keagamaan yang bersumber dari imbas suhu politik pada musim pilkada baru-baru ini merupakan bentuk penggunaan agama yang dipakai berpolitik oleh orang-orang yang tidak ahli berpolitik.

“Ini yang mengacaukan kita kan orang yang kepengennya berpolitik tapi tidak mengerti politik. Lalu menggunakan agama tapi tidak tahu agama. Jadi repot semua, nggak begitu mengerti berpolitik, menggunakan agama tapi nggak mengerti agama. Kacaunya dobel-dobel atau murakkab,” ungkapnya saat mengisi pengajian yang Masjid Raya Alun-Alaun Bandung, Jawa Barat, Senin (13/3) malam.

Untuk meluruskan pemahaman, kiai yang masyhur disapa Gus Mus itu menuturkan tentang tiga bentuk politik. Pertama, ada politik kebangsaan. Politik ala NU selalu berpikir tentang bangsa Indonesia. Bermula dari pikiran sederhana bahwa Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu, politik kebangsaan adalah suatu hal penting untuk menjaga NKRI yang mutlak sebagai orang NU.

“Yang dipikirkan NU itu Indonesia. Dulu ketika Gus Dur diturunkan kenapa tidak menggerakkan rakyat (Nahdliyin) yang berjumlah lebih dari 60 juta orang. Itu berapa kali lipat penduduk Arab Saudi. Kalau Gus Dur mengerahkan rakyat itu, kayak apa Indonesia? Politik kebangsaan mengalahkan politik kekuasaan,” ujarnya.

Kedua, politik kerakyatan. Politik ini, kata Gus Mus, yang sudah jarang-jarang dijalankan oleh orang-orang NU. Ia memamparkan bahwa politik kerakyatan itu politik yang membela rakyat. “Kalau menjadi anggota dewan ya betul-betul menjadi wakil rakyat betul, jangan mewakili diri sendiri. Wakil rakyat kok mewakili diri sendiri,” sindirnya disambut tawa hadiri yang memenuhi serambi masjid dan alun-alun.

Gus Mus melanjutkan bentuk ketiga adalah yang paling diminati oleh orang, yaitu politik kekuasaan atau politik praktis. Ini yang bagi Gus Mus merupakan hal yang sangat sepele, paling hanya 5 tahun.

“Urusan lima tahunan lha kok bawa-bawa Al-Qur’an yang ila yaumil qiyamah (sampai hari kiamat). Memang kepentingan duniawi itu kadang-kadang meskipun cuma lima tahunan tetapi bisa menghilangkan pikiran kita,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Ia mengingatkan bahwa mencintai dunia secara berlebihan-lebihan adalah sumber dari segala kesalahan, sumber malapetaka. “Tidak usah berlebih-lebihan suka pangkat, suka harta, yang sedang-sedang saja. Kalau bahasa NU, tawassuth dan i’tidal. Berlebihan apa saja itu yang menyebabkan rusak,” pesan Gus Mus. 


Sumber : NU.OR.ID

Foto : Ilustrasi

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail NU Online. Belakangan ini banyak spanduk-spanduk berisi penolakan masyarakat untuk menshalatkan jenazah Muslim atau Muslimah yang mendukung orang yang dianggap sebagai penista agama.

Bahkan selain spanduk, penolakan seperti ini juga pernah kejadian di beberapa tempat di Jakarta. Padahal hukum shalat jenazah itu fardhu kifayah. Pertanyaan saya, apa hukumnya umat Islam yang meninggalkan fardhu kifayah tanpa uzur? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Ali/Jakarta).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Kita memaklumi bahwa pilkada Jakarta ini membawa rahmat bagi sebagian orang. Tetapi kita juga turut prihatin karena pilkada ini pula menyita banyak energi sehingga banyak perintah agama terabaikan seperti menyambung silaturahmi, menjaga akhlak dalam bicara, dan menuntut ilmu agama lebih dalam.

Menurut bacaan kami, pernyataan saudara Ali di atas sudah benar, bahwa hukum shalat atas jenazah Muslim atau Muslimah adalah fardhu kifayah. Selain shalat, memandikan, mengafankan, dan memakamkan jenazah Muslim atau Muslimah juga fardhu kifayah.

Sebagaimana kita maklum bahwa fardhu kifayah adalah kewajiban yang ditujukan bagi semua orang. Namun kewajiban itu gugur sebab dikerjakan oleh sejumlah orang. Tetapi kalau semua orang juga tidak melakukannya, tentu mereka berdosa karena mengabaikan kewajiban itu.

Lalu bagaimana kalau ada umat Islam yang dengan nyata dan sengaja menolak kewajibannya itu tanpa uzur? Ada baiknya kita melihat kembali pandangan para ulama yang kami himpun berikut ini terutama perihal penolakan masyarakat untuk menshalatkan jenazah saudaranya yang Muslim atau Muslimah.


ثم ذكر القسم الثاني وهو فرض الكفاية وبه شرع في أصول الفقه فقال ( وما سوى هذا من الأحكام فرض كفاية على الأنام ) أى ما سوى فرض العين من علو أحكام الله كالتوغل في علم الكلام بحيث يتمكن من إقامة الأدلة وإزالة الشبه فرض كفاية على جميع المكلفين الذين يمكن كلا منهما فعله فكل منهم مخاطب بفعله لكن إذا فعله البعض سقط الحرج عن الباقين فإن امتنع جميعهم من فعله أثم كل من لا عذر له ممن علم ذلك وأمكنه القيام به أو لم يعلم وهو قريب يمكنه العلم به بحيث ينسب إلى التقصير ولا إثم على من لم يتمكن لعدم وجوبه عليه

Artinya, “Kemudian penulis menyebut kewajiban jenis kedua, yaitu fardhu kifayah. Fardhu kifayah ini termasuk hukum syariat seperti pada kajian ushul fiqih. Penulis mengatakan, (Selain hukum yang disebut itu ada juga hukum fardhu kifayah bagi segenap manusia), maksudnya, selain fardhu ain itu sebagai hukum-hukum Allah yang luhur ada juga fardhu kifayah seperti penguasaan mendalam kajian ilmu kalam yang sekiranya dapat membangun argumentasi dan menghilangkan keraguan dalam soal ketuhanan. Penguasaan mendalam ilmu kalam dengan dua kemampuan itu menjadi fardhu kifayah bagi semua orang yang dapat melakukannya. Artinya setiap mukallaf harus membangun argumentasi dan menghilangkan keraguan dalam soal ketuhanan. Tetapi ketika kewajiban ini sudah dilakukan oleh sejumlah orang, maka gugurlah dosa orang di luar mereka yang melakukannya. Namun, ketika semuanya tidak melakukan itu, maka orang-orang yang tanpa uzur, mengetahui hal itu, dan mampu melakukannya berdosa. Kalaupun orang-orang yang tanpa uzur ini tidak mengetahui, tetapi seharusnya mereka mengetahui (karena pesatnya informasi misalnya), maka mereka dinilai telah lalai. Sedangkan orang yang tidak mungkin (mengetahui) tidak berdosa karena tidak ada kewajiban padanya,” (Lihat Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli Al-Anshari, Ghayatul Bayan Syarah Zubad ibni Ruslan, Singapura-Jeddah, Al-Haramain, tanpa tahun, halaman 20).

Dari keterangan Syamsuddin Ar-Ramli, kita dapat mengerti bahwa mereka yang memiliki uzur tidak berkewajiban menshalatkan jenazah. Hanya saja mereka yang mengetahui dan tanpa uzur menolak kewajibannya terhadap sesama Muslim yang sudah wafat akan mendapat dosa besar.

Di samping itu perlu diingat juga bahwa sesekali fardhu kifayah ini dapat berubah status menjadi fardhu ain. Dalam kondisi tertentu kewajiban memandikan, mengafankan, menshalatkan, serta memakamkan jenazah yang mulanya hanya fardhu kifayah dapat berubah menjadi fardhu ain khususnya bagi mereka memiliki keterampilan dan kemampuan memandikan, mengafankan, menshalatkan, memakamkan. Hal ini disinggung oleh Jalaluddin Al-Mahalli dalam Syarah Jam‘il Jawami‘ berikut ini.


ويتعين) فرض الكفاية (بالشروع) فيه أن يصير بذلك فرض عين في وجوب الإتمام (على الإصح) بجامع الفرضية

Artinya, “Fardhu kifayah (menjadi fardhu ain dengan sebab masuk) di dalamnya sehingga dengan begitu fardhu kifayah menjadi fardhu ain dalam kewajiban menyempurnakannya (menurut qaul paling shahih) karena memandang kesamaan fardhu keduanya,” (Lihat Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Syarah ala Matni Jam‘il Jawami‘, Surabaya, Darun Nasyar Al-Mishriyyah, juz I, halaman 185-186).

Tentu saja fardhu kifayah bukan hanya shalat atas jenazah, tetapi juga penghafalan Al-Quran, penguasaan nahwu dan sharaf, dakwah, kerajinan-kerajinan, keterampilan seperti menjahit dan lain seterusnya, aneka profesi seperti pertanian, perikanan, kelautan, industri, dan lain seterusnya.

Perihal perubahan status fardhu kifayah menjadi fardhu ain itu disebut oleh Syekh Wahbah Zuhayli yang kami kutip berikut ini.


كما إذا لم يوجد في البلد إلا طبيب واحد فإن إسعاف المريض يكون واجبا عينيا عليه. وكذلك لو شهد الغريق الذي يستغيث شخص واحد يحسن السباحة، أو لم ير الحادثة إلا واحد ودعي للشهادة، فإن هذين يكون الواجب الكفائي عينيا بالنسبة لهما

Artinya, “Demikian juga bila di sebuah kota hanya terdapat seorang dokter, maka upaya mengobati orang sakit menjadi fardhu ain baginya. Demikian pula bila ada seorang yang pandai berenang melihat seorang tenggelam lalu meminta tolong atau misalnya hanya ada seorang yang menyaksikan peristiwa di TKP lalu ia diminta pengadilan sebagai saksi, maka kewajiban itu yang awalnya adalah fardhu kifayah menjadi fardhu ain bagi keduanya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Ushulul Fiqhil Islami, Beirut, Darul Fikril Mu’ashir, 1434 H/2013 M, juz I, halaman 71).

Dari keterangan di atas jelas bahwa penolakan kewajiban fardhu kifayah tanpa uzur merupakan sebuah tindakan berlebihan yang tidak dikehendaki agama. Alasan penolakan atas shalat jenazah seorang Muslim dengan alasan politis jelas tidak bisa diterima. Karena selagi seseorang mengucapkan syahadat dan tidak melakukan kekufuran secara nyata, maka ia tetap sebagai seorang Muslim yang memiliki hak-hak tertentu sebagaimana Muslim pada umumnya. Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengulas masalah ini dari sudut pandang paham Ahlussunnah wal Jamaah dalam kitab kalam berikut ini.


وأما بالنظر إلى أحكام الدنيا فيكفي فيها الإقرار فقط. فمن أقر جرت عليه الأحكام الإسلامية ولم يحكم عليه بالكفر إلا إن اقترن بشئ يقتضى الكفر كالسجود لصنم

Artinya, “Berkaitan dengan hukum duniawi, maka cukup ikrar (dua kalimat syahadat) saja. Siapa saja yang mengikrarkannya, maka berlaku pula hukum Islam padanya dan ia tidak boleh divonis sebagai kafir kecuali jika ia sambil melakukan sesuatu yang membuatnya jatuh menjadi kafir seperti penyembahan terhadap berhala,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, tanpa tahun, halaman 22).

Hukum duniawi berlaku baginya. Hukum duniawi yang dimaksud Syekh Al-Baijuri antara lain hak perkawinan sebagai seorang Muslim, halal daging hewan sembelihannya, hak waris, serta dimakamkan di pekuburan umat Islam, (Al-Baijuri [Tuhfatil Murid]: 22).

Sebagai penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah, kita perlu kembali merujuk rambu-rambu dalam hal akidah maupun fikih dari para ulama sebagai pedoman hidup kita dalam beragama. Saran kami, sebaiknya kita menunaikan fardhu kifayah selagi tiada uzur.

Kami juga menyarankan agar kita memberikan hak-hak sesama Muslim seperti paham Ahlussunnah wal Jamaah yang diterangkan Syekh Al-Baijuri tanpa memandang perbedaan suku, warna kulit, kelompok, kelas sosial, selagi ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Mari kita perkuat ukhuwah Islamiyah yang selama ini renggang karena kepentingan politik jangka pendek karena masih banyak tugas kita yang lain untuk kepentingan jangka panjang dan lebih maslahat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


Sumber : NU.OR.ID

Selasa, 14 Maret 2017

JAKARTA – Pendidikan budi pekerti menjadi persoalan serius kita. Karena dikucilkan puluhan tahun, kini melacaknya bagai mencari jarum di tumpukan jerami.  Sebagai suatu materi pendidikan, pendidikan budi pekerti timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional di Indonesia. Tanda kita tak serius membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan berakhlak mulia.
Bicara pendidikan, intinya budi pekerti. Karena budi pekerti dianggap sepele, kita sekadar mengajarkan ilmu tentang budi pekerti. Bukan mendidik budi pekerti. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, belajar adalah proses jiwa yang bertujuan untuk membentuk akhlak yang mulia. Jiwa yang baik menghasilkan akhlakul karimah, sedangkan jiwa yang buruk menghasilkan akhlak mazhmumah. Maka, tugas sejati pendidikan adalah mendidik jiwa (qalbu) anak dengan siraman iman.
Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, akan baik pula (amal dan perilaku) semua jasadnya. Dan, apabila segumpal daging itu buruk, akan buruk pula (amal dan perilaku) semua jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu namanya Qalbu.” (HR. Muslim)
Ketika anak sudah berani membantah nasihat orang tua, berkata-kata kasar dan menyakiti perasaan orang tua, apakah ada pendidikan budi pekerti di rumah? Mengapa pula ada orang tua yang resah karena anaknya tidak juara kelas, tetapi tak resah ketika anaknya berani meninggalkan shalat? Setali tiga uang dengan yang terjadi di sekolah. Banyak orang terpelajar, tapi tak terdidik. Terpelajar bicara kecerdasan, terdidik bicara budi pekerti. Gelarnya tinggi, tapi perilakunya membuat masyarakat prihatin. Inilah akibat jika manusia hanya dilatih kecerdasannya saja tanpa dididik budi pekertinya. Beruntunglah keluarga dan sekolah yang istiqamah mendidik dan menyucikan jiwa anak-anak sehingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur (QS asy-Syams: 9 – 10).
Orang tua dan guru hendaknya setia membimbing anak kepada akhlak mulia. Diriwayatkan dari Anas RA yang telah menceritakan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepadanya: “Wahai anakku, jika engkau mampu membersihkan hatimu dari kecurangan terhadap seseorang, baik pagi hari maupun petang hari, maka lakukanlah!” Selanjutnya, beliau melanjutkan: “Wahai anakku, yang demikian itu termasuk tuntunanku. Barang siapa yang menghidupkan tuntunanku, berarti ia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku, niscaya akan bersamaku di dalam surga.” (HR Tirmidzi).
Idealnya, mendidik budi pekerti pada diri anak-anak dilakukan sejak dini. Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddîn, menjelaskan beberapa cara untuk mendidik budi pekerti anak-anak, “… Hendaknya dia dilarang memulai pembicaraan dan dibiasakan untuk tidak berbicara selain untuk menjawab sesuai dengan kadar pertanyaan. Hendaklah dia dibiasakan untuk mendengar dengan baik jika orang lain yang lebih besar daripadanya berbicara, berdiri menghormat orang yang lebih atas daripadanya, meluaskan tempat duduk baginya, duduk di hadapannya dengan sopan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang kotor, tidak mengeluarkan kutukan dan makian, serta tidak bergaul dengan orang yang mulutnya biasa mengeluarkan sesuatu dari kata-kata tersebut. Demikian, itu karena sesungguhnya hal itu pasti karena terpengaruh dari teman-teman yang buruk, padahal pokok pendidikan bagi anak-anak adalah menghindarkannya dari teman-teman yang jahat.” (Abdur Rahman, 135)
Sebagai orang tua dan guru, didiklah diri sendiri sebelum kita mendidik anak-anak. Karena tanpa keteladanan, pendidikan budi pekerti tak akan pernah bisa melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia. Mendidik budi pekerti bukan berwacana. Dengan niat dan ikhtiar mendidik karena mengharap ridha Allah SWT, alangkah lebih baiknya jika disempurnakan dengan doa yang kerap dipanjatkan Rasulullah SAW supaya kita senantiasa diberi kemuliaan akhlak: “Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang paling baik, karena tiada seorang pun yang mampu menunjukkan hal ini kecuali Engkau. Ya Allah, jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkan hal itu kecuali Engkau.” (HR Ahmad).
Wallahu a’lam bishawab.


Sumber : ANSOR News

JAKARTA – Sehubungan dengan tren kehidupan keagamaan di Indonesia ini yang menunjukkanadanya gejala yang semakin intoleran dan menafikan kelompok lain, kami Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor merasa perlu untuk membahas tema kepemimpinan non-Muslim di Indonesia dalam Halaqah Bahtsul Masail yang diselenggarakan secara rutin.

Pilihan tema kali ini semata-mata karena kami meyakini bahwa Islam dan Indonesia itu suatu hal yang tidak bisa dipertentangkan dengan dalih apapun, termasuk kepentingan politik. Tema kali ini juga sebagai respon atas kegelisahan Gerakan Pemuda Ansor ketika melihat Islam dipolitisasi sedemikian berlebihan dan menghakimi pihak yang berbeda preferensi politiknya sebagai bukan Islam.
Lebih parah lagi, kegelisahan dan kekhawatiran yang kami rasakan ini muncul setelah melihat potret kontestasi politik di Jakarta tidak terkontrol dan cenderung ganas, dan bukan tidak mungkin dapat menyebar di daerah lain. Kecenderungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasat mata dan tergambar dengan adanya spanduk di sejumlah masjid yang tidak menerima pengurusan jenazah Muslim bagi pemilih dan pendukung calon pemimpin non-Muslim.

Oleh karena itu, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyatakan beberapa hal berikut:
  1. Mengenai prinsip berbangsa dan bernegara, kami memandang bahwa dengan diterimanya NKRI, UUD 1945 dan Pancasila sebagai sebuah kesepakatan para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah tokoh NU KH. Wahid Hasyim, maka sebagai warga NU, kami menerima sistem bernegara dan berbangsa dalam bingkai NKRI. Dan karena itu, produk turunan dari konsititusi itu sah dan mengikat bagi warga NU dan tentunya warga Indonesia pada umumnya.
  1. Tentang terpilihnya non-Muslim di dalam kontestasi politik, berdasarkan konstitusi adalah sah jika seseorang non-Muslim terpilih sebagai kepala daerah. Dengan demikian keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan adalah juga sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun secara agama.
  1. Sebagai warga negara yang beragama (dalam ranah pribadi) boleh memilih atau tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin formal pemerintahan. Karena kami melihat, hal ini sebagai persoalan yang masih dalam tataran khilafiyah (debatable), sehingga masingmasing pandangan yang menyatakan wajib memilih Muslim maupun boleh memilih non-Muslim sebagai kepala pemerintahan memiliki landasan dalam hukum Islam.
  1. Karena itu, Halaqah Bahtsul Masail Kiai Muda GP Ansor menghimbau kepada umat Islam di Indonesia untuk meredakan ketegangan pada setiap kontestasi politik, karena hal tersebut dapat berpotensi memecah belah umat Islam dan NKRI. Dengan demikian, siapapun yang setuju atau tidak setuju, memiliki landasan hukum agama (fiqh) yang dapat dibenarkan. Namun dalam hal khilafiyah (debatable) hendaknya masing-masing tetap memegang teguh etika amar makruf dan tata krama perbedaan pendapat.
  1. Menyikapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini dimana muncul pandangan sebagian kelompok untuk tidak mensholatkan jenazah lawan politik, GP Ansor berpendapat bahwa ini merupakan cerminan sikap yang tidak Islami juga tidak Indonesianis. Bagi GP Ansor, setiap jenazah Muslim tetap wajib disholatkan. Untuk itu jika tindakan seperti ini terus berlanjut, GP Ansor menyediakan diri untuk mensholatkan jenazah tersebut, termasuk mentahlilkan selama 40 hari.
Jakarta, 13 Maret 2017
H. YAQUT CHOLIL QOUMAS
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor


Sumber : ANSOR News

Sifat adil mungkin termasuk yang paling sulit dalam sikap dan laku,. Alasannya karena adil itu jejeg, tegak lurus, tidak condong dan tidak miring ke sana-kemari. Sementara kita sebagai manusia, dari sononya memiliki ‘athifah atau emosi yang bawaannya mirang-miring kesana kemari.
ِApalagi dalam dan di sekeliling kehidupan kita banyak faktor yang mempengaruhi kita, yang mendorong kesana atau menarik kemari. Kita mencintai dan senang, condong kemari; kita marah dan benci, miring kesana.
Hakim yang sedang marah atau benci kepada seseorang, katakanlah si Fulan, misalnya, jangan suruh ia mengadili si Fulan itu. Karena hampir dipastikan si hakim tidak bisa berlaku adil dan jejeg. (Ingat kasus hakim yang diberhentikan gara-gara memvonis maling arloji dengan hukuman maksimal, lantaran gregetan; pasalnya yang dicuri si maling adalah arloji beliau). Demikian pula bila seorang hakim –karena sesuatu hal– sangat senang kepada si terdakwa, bisa ditebak putusannya akan tidak adil.
Bagaimana pun sulitnya, kita semua tahu bahwa bersikap dan berlaku adil adalah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Maraknya kasus-kasus mulai dari korupsi, main hakim sendiri, perkelahian ‘antar pemain’, krisis kepercayaan, hingga tindak kekerasan dan terorisme; misalnya, jika ditelusuri, sumbernya tidak lain adalah ketidak-adilan. Itulah sebabnya –wallahu a’lam—Allah SWT dalam kitab sucinya Al-Quran sering menegas-tekankan pentingnya bersikap dan berlaku adil (lebih dari 30 ayat!). Bahkan perintah menegakkan kebenaran dan bersaksi pun diberi catatan: harus dengan adil (Q. 4: 135; 5: 8). Bahkan Allah wanti-wanti: “Walaa yajrimannakum syana-aanu qaumin anlaa ta’diluu; i’diluu huwa aqrabu littaqwa…”(Q.5: 8) “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufassir ‘kaum’ disini yang dimaksud adalah orang-orang kafir!) menyeretmu untuk berlaku tidak adil; berlaku adillah! Itu lebih dekat kepada takwa…”
Pastilah antara lain karena pentingnya sikap dan laku adil ini pula, konon sang Khalifah Adil Umar ibn Abdul Aziz mentradisikan dalam akhir khotbah Jum’at dibacanya ayat Q.16: 90. “InnaLlaha ya’muru bil’adli…”.
Berlaku adil tentu tidak hanya dituntut dari pihak penguasa dan penegak hukum saja, tapi juga dari kita semua, terutama yang merasa mendapat firman dari Allah dan mempercayainya. Namun, seperti disinggung di atas, bersikap dan berlaku adil memang hanya gampang diucapkan. Untuk mempraktekkannya sangat sulit.
Sering kali kita menuntut perlakuan adil dari pihak lain, namun sering kali juga kita tidak sadar telah berlaku tidak adil terhadap pihak lain. Adil, jejeg, mengandung pengertian objektif, i’tidaal, proporsional, tawaazun. Ketika ada seorang oknum polisi yang doyan sogok, misalnya, lalu kita mengatakan semua polisi doyan sogok. Ucapan kita ini jelas tidak benar dan tidak adil. Sama dengan tidak benar dan tidak adilnya orang yang mengatakan bahwa pesantren adalah sarang teroris, hanya karena ada oknum pengamat yang menulis bahwa ada peran alumni pesantren dalam aksi terror dan pernyataan oknum pejabat tinggi yang sembrono menyatakan bahwa aktifitas pesantren harus diawasi.
Di mana-mana – di negara, di bangsa, di kalangan umat beragama, bahkan di organisasi mana pun—selalu ada orang atau kelompok yang buruk di samping yang baik-baik; ada yang jahat di samping yang saleh-saleh; ada yang tolol di samping yang berakal sehat. Di Indonesia — negeri yang disebut-sebut tercatat sebagai salah satu negara terkorup di dunia– misalnya, meski ada Edy Tanzil dan sekian ribu koruptor (yang konangan maupun yang tidak), pastilah masih banyak orang-orang yang lurus sebagai mayoritas bangsa. Sangat tidak adil bila dikatakan bangsa Indonesia adalah bangsa maling. Apalagi yang dirugikan oleh –atau kasarnya: yang dimalingi– para koruptor itu justru mayoritas bangsa Indonesia sendiri. Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu tersinggung dan marah disebut bangsa maling.
Meskipun ada beberapa orang Islam yang ngebom dan melakukan aksi terror, kita sebagai umat Islam tentu tersinggung dan marah bila dikatakan bahwa orang Islam tukang ngebom; apalagi dikatakan bahwa agama Islam adalah agama kekerasan dan terror.
Analog dengan itu saya kira sama dengan misalnya, melihat Amerika . Meski di negeri paman Sam itu ada orang zalim bermuka dua yang bernama George W. Bush dan sekian pemimpin pemerintahan bahkan juga sekian banyak rakyatnya yang adigang-adiguna, adalah tidak adil apabila kita kemudian menafikan adanya orang-orang lurus dan berakhlak –termasuk sekitar 5,5 juta warga yang beragama Islam– di Amerika; dan mengatakan secara gebyah uyah: bangsa Amerika adalah bangsa yang jahat, kafir, dan zalim.
Demikian pula di Denmark. Meski ada kartunis dan sekian redaktur tolol di harian Jyllands-Posten yang mempublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW yang diagungkan umat Islam; adalah tidak adil jika kemudian kita mengecap Denmark sebagai negara tolol dan bangsanya adalah bangsa tolol yang memusuhi Islam. Dalam kaitan ini, adalah menarik apa yang ditulis kolomnis Abdullah Bijad al’Utaiby di harian Ar-Riyadh. Tulisnya antara lain: “Adalah hak kita untuk marah karena Rasul kita yang mulia dilecehkan; dan adalah hak kita untuk mengungkapkan kemarahan kita secara berbudaya seperti pemutusan hubungan perdagangan, namun jangan sampai kemarahan itu berkembang ke arah kekerasan dan pembunuhan; jangan sampai memberi peluang ‘orang-orang menyusupkan racun dalam makanan’. Tujuan kita harus jelas. Bukan marah sekedar marah.”
Benar kan, adil itu sulit? Tapi sangat penting dan harus. Karena itulah kita dianjurkan untuk saling menasehati, saling beramar-makruf-nahi-munkar, dan saling membantu dalam kebajikan, termasuk membiasakan memandang sesuatu tidak hanya secara ‘hitam-putih’ dan membiasakan berlaku adil. Wallahu a’lam

Sumber : ANSOR News

Senin, 13 Maret 2017

Foto Sahabat Rokhani Bersama Istri Tercinta
☪ Organisasi ini pada awalnya bernama Gerakan Pemuda Ansor disingkat GP Ansor sebagai kelanjutan dari Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO), dalam AD/ART NU diubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor Nahdltul Ulama yang selanjutnya disebut GP Ansor, didirikan pada 10 Muharram 1353 Hijriyah atau bertepatan dengan 24 April 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur untuk waktu yang tidak terbatas. Dan Pusat Organisasi Gerakan Pemuda Ansor berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

☪ Gerakan Pemuda Ansor, beraqidah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan menempuh manhaj dalam bidang fiqih salah satu madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Hambali. Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi manhaj dalam bidang teologi. Al-Ghazali dan Junaidi Al-Baghdadi manhaj dalam bidang tasawwuf dan Al-Mawardi manhaj dalam bidang siyasah.


Gerakan Pemuda Ansor berasaskan Ke-Tuhanan YME, kemanusiaan yang beradil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


☪ Tujuan GP. Ansor adalah :
1. Membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang tangguh, memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, berkepribadian luhur, berakhlak mulia, sehat, terampil, patriotik, ikhlas dan beramal shalih.

2. Menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan menempuh manhaj salah satu madzhab empat di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Berperan secara aktif dan kritis dalam pembangunan nasional demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang berkeadilan, berkemakmuran, berkemanusiaan dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia yang diridhoi Allah SWT.


Gerakan Pemuda Ansor bersifat kepemudaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berwatak kerakyatan dengan kedaulatannya berada ditangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Kongres.

Untuk mencapai tujuan, Gerakan Pemuda Ansor berusaha:
1. Meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda Indonesia untuk memperjuangkan cita-cita proklamasi Kemerdekaan dan memperjuangkan pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal jama’ah.

2. Mengembangkan kualitas sumberdaya manusia melalui pendekatan keagamaan, kependidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan nasional.

3. Meningkatkan kesadaran dan aktualisasi masyarakat sebagai upaya peningkatan kualitas kesehatan, ketahanan jasmani dan mental spiritual serta meningkatkan apresiasi terhadap seni dan budaya bangsa yang positif serta tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

4. Meningkatkan hubungan dan kerjasama dengan berbagai organisasi keagamaan, kebangsaan, kemasyarakatan, kepemudaan, profesi dan lembaga-lembaga lainnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

5. Mengembangkan kewirausahaan di kalangan pemuda baik secara individu maupun kelembagaan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat.


Oleh : Ahmad Rokhani
Ketua PAC GP Ansor Watulimo

Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa berarti mulia, Syeikh Thahir bin Shaleh Al-Jazairi dalam kitab Jawahirul Kalamiyah mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi.
Karomah Mbah Kholil sangatlah banyak baik yang diketahui umum maupun tersembunyi. Berikut ini beberapa karomah Mbah Kholil diantaranya:
1. Melihat berkat di kepala Kiyai Imam masjid
Kiyai Kholil muda dan besetatus sebagai santri, beliau melaksanakan shalat jumat di Pesantren yang beliau tempati, tiba-tiba saat akan melaksanakan takbirotul ikhrom Kiyai Kholil Muda tertawa sangat keras, hingga terdengar seluruh jamaah sholat jumat, kiyai ditegur oleh teman-temanya tidak boleh tertawa ditakutkan kiyai yang menjadi imam marah-marah, namun beliau masih saja terpingkal.

Dugaan teman-temannya tidak keliru, setelah selesai sholat sang kyai menegur Kyai Kholil muda bahwa dalam shalat itu tidak boleh tertawa, Akhirnya Kyai Kholil muda menjawab “Saya melihat berkat (makanan yang dibungkus) di kepala Kiyai saat shalat berlangsung tadi” sambil tersenyum. Mendengar jawaban tersebut, sang kyai menjadi sadar dan merasa malu karena kyai ingat bahwa saat mejadi imam tadi merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri sehingga mengakibatkan solatnya tidak khusyuk.
2. Mengambil Kepiting dan Rajungan di Laut saat Bahtsul Masail di Makkah
Para Ulama Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk berdiskusi membahas masalah dan hukum Islam yang sedang terjadi di Makah. Semua masalah dapat diselesaikan kecuali mengenai halal haramnya kepiting dan rajungan terjadi banyak pendapat dan tidak menemukan solusi. Kyai Kholil duduk berada diantara peserta lainya, Melihat permasalah tersebut belum menemukan solusi, Kyai Kholil minta izin untuk menawarkan solusi. Akhirnya Kyai Kholil dipersilahkan kedepan oleh pimpinan diskusi untuk mejelaskan.

“Saudara sekalian, ketidaksepakatan dalam menentukan hukum kepiting dan rajungan ini disebabkan kita belum pernah melihat bentuk aslinya” Ujar Kiyai Kholil.
“Kepiting seperti ini” ucap kyai Kholil sambil memegang dan menunjukan kepiting yang masih basah.
“Sedangkan rajungan seperti ini” lanjut beliau, seakan beliau baru saja mengambilnya dari laut. Semua hadirin merasa terpana dan suasana menjadi gaduh, mereka saling bertanya dari mana Kyai Kholil mendapatkan kedua hewan tersebut dalam sekejap saja. Setelah kejadian tersebut, akhirnya para ulama menemukan solusi dan Kyai Kholil disegani para ulama Masjidil Haram.
3. Kehabisan Waktu Shalat Ashar di Madura, Akhirnya Jamaah di Masjidil Haram
Kyai Kholil dan Kyai Syamsul Arifin sedang berdiskusi di pinggir pantai, membahas pesantren dan keadaan umat pada masa itu, beliau berdiskusi begitu lama, hingga lupa bahwa waktu sholat ashar segera habis.

“Kita belum shalat Ashar kyai” kata Kyai Syamsul Arifin mengingatkan.
“Astaghfirullah” kata kyai Kholil menyadari kekhilafannya.
“Waktu ashar hampir habis, kita tidak mungkin sholat secara sempurna Kyai.” ucap Kyai syamsul Arifin.
“Kalau begitu, ambil kerocok” kata Kyai Kholil. Kiyai Samsul Arifin, masih bingung, bukanya mencari tempat wudlu dan musholla, malah disuruh mencari daun kerocok, namun Kiyai Syamsul sami’na wa atho’na, beliau tetap mencari daun kerocok, setelah menemukan diberikan Kiyai Kholi, lantas kiyai kholil mengajak Kiyai Syamsul untuk menaiki di atas kerocok tersebut. tiba-tiba kerocok itu melesat super cepat ke arah Makkah. Sesampainya di Makkah, Adzan shalat Ashar baru saja dikumandangkan dan mereka mendapatkan Shaf pertama sholat Ashar berjamaah di Masjidil Haram.
4. Mengubah Arah Kiblat Masjid
Kyai Kholil sedang memantau masjid yang dibangun oleh menantu beliau Kyai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat, Kyai Kholil menegur menantu yang alim itu untuk membenahi arah kiblatnya. Sebagai orang alim, Kyai Muntaha mempunyai alasan sendiri dalam menentukan arah kiblat, beberapa argumen ditunjukan kepada Kyai Kholil untuk memperkuat pendapatnya. Melihat menantu masih tetap mempertahankan pendapatnya lantas Kyai Kholil tersenyum sambil berjalan kearah pengimaman diikuti menantu. Kemudian Kyai Kholil mengambil kayu untuk melubangi dinding dan meminta Kyai Muntaha melihat lubang tersebut. Betapa kagetnya, setelah melihat lubang itu ternyata terlihat Ka’bah sangat jelas. Akhirnya Kyai Muntaha sadar bahwa pendapatnya salah dan merubah arah kiblat sesuai dengan pendapat Kiyai Kholil.

5. Menyelamatkan Perahu Tenggelam
Kesaktian lain dari Mbah Kholil yang diluar nalar manusia yaitu beliau bisa berada dibeberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau pengajian di pesantren, Mbah Kholil melakukan gerakan yang tak terlihat mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup,” Cerita KH. Ghozi. Para santri heran dan penuh teka-teki. Sedangkan beliau cuek tidak bercerita apapun. Langsung meninggalkan santrinya dan masuk rumah untuk ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Mbah Kholil untuk mengucapkan terimakasih, karena pertolongan beliau bisa selamat dari bahaya tenggelamnya perahu di tengah laut. “Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu” Papar KH. Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

6. Menyembuhkan Orang Lumpuh Seketika
Dalam buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar” menerangkan bahwa Mbah Kholil Bangkalan termasuk salah satu guru Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar yang mempunyai karomah luar biasa. Diceritakan oleh penulis buku tersebut sebagai berikut: “Suatu hari, ada seorang keturunan Cina sakit lumpuh, padahal ia sudah dibawa ke Jakarta, namun belum juga sembuh. Lalu ia mendengar bahwa di Madura ada orang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit. Kemudian pergilah ia ke Madura yakni ke Mbah Kholil untuk berobat. Ia dibawa dengan menggunakan tandu oleh 4 orang. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang Madura yang dibopong karena sakit (kakinya kerobohan pohon). Lalu mereka sepakat pergi bersama-sama berobat ke Mbah Kholil. Orang Madura berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Kira-kira jarak kurang dari 20 meter dari rumah Mbah Kholil, muncullah Mbah Kholil dalam rumahnya dengan membawa pedang seraya berkata: “Mana orang itu?!! Biar saya bacok sekalian” Melihat hal tersebut, kedua orang sakit tersebut ketakutan dan langsung lari tanpa ia sadari sedang sakit. Karena Mbah Kholil terus mencari dan membentak-bentak mereka, akhirnya tanpa disadari, mereka sembuh. Setelah Mbah Kholil wafat kedua orang tersebut sering ziarah ke makam beliau.

7. Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk
Pada suatu hari petani timun di Bangkalan mengeluh. Timun yang siap panen selalu raib dipanen maling. Kejadian tersebut berlangsung lama, akhirnya para petani bermusyawarah, untuk sowan ke Mbah Kholil. Sesampainya di rumah Mbah Kholil, sebagaimana biasanya Kyai sedang mengajar Nahwu. “Assalamu’alaikum, Kyai,” Salam para petani serentak. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Mbah Kholil. Salah satu dari petani menceritakan kejadian timun raib dan meminta Kiyai kholil untuk mencarikan solusi penangkal. Kebetulan ngaji beliau sampai pada kalimat “Qoma Zaidun” salah satu contoh pelajaran nahwu yang artinya Zaid berdiri, Lalu serta-merta Mbah Kholil berbicara sambil menunjuk lafald “Qoma Zaidun”. “Ya.., Karena pengajian ini sampai ‘qoma zaidun’, ya ‘qoma zaidun’ ini saja pakai sebagai penangkal,” Seru Kyai dengan tegas dan mantap. “Sudah, Pak Kyai?” Ujar para petani dengan nada ragu dan tanda tanya. “Ya sudah,” Jawab Mbah Kholil menguatkan.

Keesokan harinya, Betapa terkejutnya mereka melihat Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling tersebut. Maling itu tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton banyak warga. Andaikan zaman sekarang mungkin maling itu akan di foto dan di upload di facebook. Kasihan melihat kawanan maling, salah satu dari petani sowan ke Mbah Kholil dan diberi obat penangkat, Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak mencuri lagi. Sejak saat itu, petani timun di Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terimakasih, petani menyerahkan hasil panen ke pondok pesantren berdokar-dokar.
8. Kisah Ketinggalan Kapal Laut
Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Mekkah. Semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba salah satu penumpang wanita meminta pada suaminya untuk membelikan anggur. Suaminya menulusuri seluruh wilayah pelabuhan namun tidak menjumapai penjual buah, kemudian mencoba menuju ke pasar agak jauh dari pelabuhan, alhamdulilah akhirnya anggur didapatkan juga. bergegas kembali ke pelabuhan. Namun betapa terkejutnya, kapal sudah berangkat dan jauh dari dermaga, ia berteriak sekeras mungkin memangil awak kapal, namun tak membuahkan hasil. Ia menyesali keadaan itu dan duduk di pinggir pantai, datanglah laki-laki menghampirinya memberikan nasihat agar mendatangi Mbah Kholil, ia bertanya-tanya siapa Mbah Kholil, apa bisa menolong saya saat ini, lelaki itu meyakinkan bahwa mbah kholil insyallah bisa menolongmu. Lalu suami yang malang itu sowan dan menceritakan kejadian dari awal hingga datang ke Mbah Kholil, dengan nada datar mbah kholil menjawab “ini bukan urusan saya, ini urusan petugas pelabuhan!” Suami malang itu kembali dengan tangan hampa.

Saat sampai di pelabuhan bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi, dan suami menjelaskan dengan nada putus asa bahwa ia di suruh ke petugas pelabuhan. Namun lelaki tadi mengulang perkataanya untuk kembali ke Mbah Kholil. Tanpa Putus asa suami kembali lagi ke Mbah Kholil. Baru setelah ketiga kalinya, Mbah Kholil berucap: “Baik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.” Lalu Mbah Kholil memberi syarat tidak boleh menceritakan apapun yang terjadi kepada orang lain termasuk istrinya, kecuali Mbah Kholil sudah meninggal.
Suami menyanggupi syarat tersebut. Lantas, mbah kholil memerintahkan untuk memegang buah anggur dan memejamkan mata, Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya ia sudah berada di dalam kapal. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dialaminya. Dikucek-kucek matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di kapal. Segera ia temui istrinya dan memberikan anggur pesanannya tadi.
9. Kyai Kholil dipenjara oleh Penjajah
Masa hidup Kiai Kholil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Kholil melakukan perlawanan;s pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, Kiai Kholil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebuireng.

Cara yang kedua, Kiai Kholil tidak melakukan perlawanan secara terbuka, melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang, pun Kiai Kholil tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian. Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Kholil, malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri. Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Kiai Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Kiai Kholil untuk di bebaskan saja.
10. Semalam Menghafal Imriti, Asymuni dan Al-Fiyah Ibnu Malik
Ketika Kiai Kholil masih muda, dia mendengar bahwa di Pasuruan ada se­orang kiai yang sangat sakti mandra­guna. Namanya Abu Darin. Kholil muda ingin sekali belajar kepada Abu Darin. Sema­ngat untuk menimba ilmu itu begitu meng­gebu-gebu pada dirinya sehingga jarak tempuh yang begitu jauh dari Bang­kalan di Pulau Madura ke Pasuruan di Pulau Jawa tidak dianggapnya sebagai rintangan berarti, meski harus berjalan kaki. Namun apa daya, sesampainya Kholil muda di Desa Wilungan, Pasuruan, tem­pat kiai Abu Darin membuka pesantren, ternyata Kiai Abu Darin sudah wafat. Dia meninggal hanya beberapa hari sebelum kedatangan Kholil muda. Habislah ha­rapannya untuk mewujudkan cita-cita­nya berguru kepada kiai yang mempu­nyai ilmu tinggi tersebut.

Dengan langkah gontai karena capai fisik dan penat mental, hari berikutnya Kho­lil berta’ziyah ke makam Kiai Abu Da­rin. Di depan pusara Kiai Darin, Kholil membaca Al-Qur’an hingga 40 hari. Dan pada hari yang ke-41, ketika Kholil te­ngah ketiduran di makam, Kiai Abu Darin hadir dalam mimpinya. Dalam kesempatan itu almarhum mengatakan kepada Kholil, “Niatmu untuk belajar sungguh terpuji. Telah aku ajarkan ke­padamu beberapa ilmu, maka peliharalah” Kholil lalu terbangun, dan serta merta dia sudah hafal kandungan kitab Imrithi, Asymuni, dan Alfiyah, kitab utama pesantren itu. Subhanallah.
11. Melindungi calon santrinya dari musibah
Pada kisah yang lain, Kiai Kholil berusaha melindungi calon santrinya dari musibah, padahal dia berada di Bangkalan, sementara si calon santri di te­ngah Alas Roban, Batang, Pekalongan. Menurut cerita si calon santri yang ber­nama Muhammad Amin, ia berang­kat dari Kempek, Cirebon, bersama lima orang temannya, menuju Madura, untuk berguru kepada Kiai Kholil. Mereka tidak membawa bekal apa-apa kecuali beberapa lembar sarung, baju, dan celana untuk tidur, golok serta thithikan, alat pemantik api yang terbuat dari batu.

Setelah berjalan kaki berhari-hari, menerobos hutan dan menyeberangi sungai, mereka sampai di tepi Hutan Roban di luar kota Batang, Pekalongan. Hutan itu terkenal angker, sehingga tidak ada yang berani merambahnya. banyak perampok yang berkeliaran di tepi hutan itu. Menjelang malam, tatkala enam orang calon santri itu sedang mencari tempat untuk tidur, tiba-tiba muncul sosok laki-laki. Namun karena tampang­nya biasa-biasa saja, mereka tidak menaruh curiga. Bahkan orang itu kemudian bertanya apa mereka punya thithikan, karena ia akan menyulut rokok. Namun setelah benda itu dipegang­nya, ia mengatakan bahwa batu itu ter­lalu halus sehingga sulit dipakai untuk membuat api.
“Masih perlu dibikin kasar sedikit,” kata orang itu sambil memasuk­kan batu tersebut ke mulutnya lalu meng­gigitnya se­hingga pecah menjadi dua. Terbelalak mata enam orang calon santri itu menyaksikan kekuatan mulut laki-laki itu. Mereka gemetar ketakutan.
“Serahkan barang-barang kalian,” hardik orang itu.
Amin, yang paling berani di antara me­reka, menjawab, “Kalau barang-ba­rang kami diambil, kami tidak bisa me­lanjutkan perjalanan ke Bangkalan.” Mendengar kata “Bangkalan”, orang itu tampak waswas. “Mengapa kalian ke sana?” dia balik bertanya.
“Kami mau berguru kepada Mbah Kholil,” jawab Amin. Tersentak laki-laki itu, seperti pem­buru tergigit ular berbisa. Wajahnya pu­cat pasi, bibirnya menggigil. “Jadi kalian mau nyantri sama Kiai Kholil?” “Betul,” sahut enam calon santri itu ber­samaan. Mereka gembira karena me­rasa tidak akan dirampok. Tapi dugaan itu meleset.
“Kalau begitu, serahkan semua ba­rangmu kepadaku,” kata lelaki itu.
“Kali­an tidur saja di sini, dan aku akan men­jaga kalian semalaman.” Makin ketakutan saja para remaja itu. Mereka kemudian memang membaring­kan badan tapi mata tidak bisa diajak tidur sema­laman. Maut seakan sudah dekat saja. Keesokan harinya, selepas mereka shalat Subuh, lelaki itu mengajak mereka pergi. “Ayo kita berangkat,” ujarnya. “Ke mana ?” tanya para calon santri. “Akan kuantar kalian ke luar dari hu­tan ini agar tidak diganggu oleh peram­pok lain,” jawabnya tampak ramah.
Dalam hati mereka bertanya-tanya, apa maunya orang ini. Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, orang itu ber­kata. “Sebenarnya kalian akan aku ram­pok, dan menjual kalian kepada onder­neming untuk dijadikan kuli kontrak di luar Jawa. Tapi ilmu saya akan berbalik mencelakakan diri saya kalau berani mengganggu para calon santri Kiai Kholil. Sebab guru saya pernah dikalah­kan Kiai Kholil dengan ilmu putihnya.” Maka enam remaja dari Kempek itu kian mantap untuk nyantri ke Bangkalan. Terlebih lagi baru di perjalanan saja un­tuk menuju pesantren Kiai Kholil mereka telah memperoleh karamah dari pemim­pin pesantren tersebut. Tulisan ini diambil dari beberapa sumber, sedikit kami merubah tata bahasa untuk memudahkan pembaca.
Sumber : ANSOR News

Sabtu, 11 Maret 2017

Gemaharjo ~ Sabtu, 11 Maret 2017 Gerakan Pemuda Ansor Ranting Gemaharjo Kecamatan Watulimo mengadakan kegiatan Turba Perdana ditahun 2017 ini. Pada kesempatan kali ini ada yang spesial dalam kegiatan Turba, karena selain dihadiri oleh jajaran pengurus GP Ansor dan Banser, juga dihadiri oleh jamaah yang tak kurang dari 150 orang yang hadir. 

Kegiatan Turba Perdana ini, dilaksanakan di KAR (Kelompok Anak Ranting) Ndayu - Gemaharjo, tepatnya di Masjid "Al-Falah" Dukuh Srenggak-Ndayu, Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. 

Tujuan turba Gerakan Pemuda Ansor Ranting Gemaharjo ini, dikandung maksud untuk lebih mendekatkan diri kepada umat yang sekaligus sebagai ajang silaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah antar pengurus dan jamaah/anggotanya. 

Dalam Turba kali ini, rincian kegiatannya antara lain :

  1. Sholat Maghrib berjamaah (di tempat turba)
  2. Dzikir dan Tahlil bersama
  3. Sambutan Ketua GP Ansor Ranting Gemaharjo
  4. Ceramah Ilmiah
  5. Doa
  6. Sholat Isya Berjamaah, dan
  7. Dilanjutkan Musyawarah Lanjutan Pembahasan Program GP Ansor Gemaharjo

Untuk selanjutnya kegiatan Turba dilaksanakan setiap malam AHAD LEGI dengan mengambil istilah "LAILATUL IJTIMA" Gerakan Pemuda Ansor dan Satuan Koordinasi Kelompok Banser Ranting Gemaharjo. 

Berikut Dokumentasi Kegiatannya ...!!
Klik DISINI


Kontributor : Murdiyanto

Trenggalek ~ Gerakan Pemuda Ansor Cabang Trenggalek pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 melaksanakan Rapat Kerja Cabang ke-2. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Gedung NU Cabang Trenggalek lantai III. Nampak hadir pada kegiatan Rakercab II antara lain Wakil Bupati Trenggalek, yaitu Sahabat H. Muhammad Nur Arifin, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Trenggalek, Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Pengurus PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, dan Pengurus Ranting se Kabupaten Trenggalek. Acara Rakercab II dibuka oleh Wakil Bupati Trenggalek. Dalam Sambutannya, wakil bupati menjelaskan bahwa Ansor Trenggalek harus lebih insten memberikan gerakan sosial yang berupa pelayanan/pertolongan maksimal kepada umat. Karena secara terminologi arti daripada Ansor adalah "penolong" itu katanya. 

"Gus, ditinjau dari terminologi sejarah, Ansor itu berarti penolong. Maka kita harus bergerak menolong sahabat-sahabat yang masih membutuhkan pertolongan". kata wakil bupati Trenggalek yang juga sebagai pengurus wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur itu.

Selain itu pada kegiatan Ansor kali ini ada yang lebih istimewa lagi, karena bersamaan dengan Rakercab II, juga dilaksanakan Akreditasi Organisasi oleh Team Assesor dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur. Akreditasi organisasi ini dikandung maksud untuk lebih memaksimalkan manajemen keorganisasian dalam hal keadministrasian. Dalam akreditasi organisasi, diikuti oleh 14 PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, yang meliputi : PAC GP Ansor Bendungan, PAC GP Ansor Pule, PAC GP Ansor Dongko, PAC GP Ansor Panggul, PAC GP Ansor Trenggalek, PAC GP Ansor Suruh, PAC GP Ansor Munjungan, PAC GP Ansor Gandusari, PAC GP Ansor Karangan, PAC GP Ansor Tugu, PAC GP Ansor Pogalan, PAC GP Ansor Durenan, PAC GP Ansor Kampak dan PAC GP Ansor Watulimo.

Berikut Dokumentasi Kegiatan Rakercab II Gerakan Pemuda Ansor Trenggalek dan Akreditasi Organisasi yang dilaksanakan oleh Team Assesor dari PW GP Ansor Jawa Timur.

Klik DISINI ....!!!


Kontributor : Murdiyanto

Tuan
Puisi karya: Afi Nihaya Faradisa
.
Tuan berdasi dan berkemeja
Sungguh kami ternganga
Saksikan sosokmu di layar kaca
Senyummu manis disorot kamera
Kami saksikan pula wajah-wajah bahagia
Di foto kunjunganmu ke negara tetangga
Senin ke Singapura, selasa ke Amerika
Saat kau di jalan, kau juga lambaikan tangan
Bersama rombongan Tuan menyapa
Dari mobil-mobil yang berkilap diterpa cahaya
Menuju tempat rayakan keberhasilan
Atas berjalannya program pemerintahan
.
Tuan, kiranya engkau lupa
Karena sibuk memperindah citra
Selama bermasa-masa
Kami hilang dari pandangan mata
Tergerus bisingnya retorika negara
.
Lihatlah!
Di sudut kota, Bi Siti menyeka air mata
Sebab anaknya berhenti sekolah karena biaya
.
Di dekat Sukabumi, Mang Udin menabur melati
Pada nisan istrinya yang mati jadi TKI
.
Di kampung seberang, gadis-gadis kehilangan masa depan
Sebab para hidung belang telah mengendusnya sejak setengah matang
.
Di dekat perigi, Budi kecil sibuk mencuci keladi
Sebab emak tak lagi menanak nasi
.
Lalu, Tuan,
Apalagi yang bisa kami lakukan
Selain menggugat kenyamanan kalian
Ketika hak tak terpenuhi
Ketika bahagia tak terbeli
.
Ah, kami tak berani bermimpi
Di atas janji yang tak pernah terealisasi
Kami hanya menunggu dalam keheranan
Kemana jutaan orang yang dulu turun ke jalan
Mengapa kali ini mereka bungkam
Melihat Tuan merampok triliunan

*) Ket. : EFI NIHAYA FARADISA
Siswa SMAN 1 Gambiran - Banyuwangi


Jumat, 10 Maret 2017

Pada Selasa (7/3) 2017, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam acara The 3rd International Conference Planning in the Era of Uncertainty (ICPEU) Sustainable Nation di Universitas Brawijaya, Malang. Pada ICPEU Ketiga ini saya bersama Dr. Ir. Surjono MTP, dari Universitas Brawijaya, Prof. Mamoru Shibayama  dan Prof. Masaaki Okamoto dari Kyoto University membahas isu seputar perencanaan wilayah dan perkembangan kota. Tema "Urban & Regional Planning in Trenggalek Regency" saya pilih, karena Indonesia memiliki potensi luar biasa dan tak terkecuali wilayah urban. Trenggalek sebagai salah satu representasinya, meski didominasi kehidupan agraris dan pedesaan, merupakan bagian poros maritim dunia, sehingga berpotensi menjadi daerah pusat ekonomi baru.

Untuk itu Trenggalek memiliki konsep segitiga pembangunan yaitu Pusat Kota (Kec. Trenggalek), Kota Maritim Baru Prigi (Kec. Watulimo), dan Kota Perdagangan Baru (Kec. Panggul). Kami yakin Trenggalek dapat bertransformasi menjadi jalur dagang penghubung kota-kota besar dan menjadi kota pelabuhan terbesar di Selatan Jawa. Pemerintah akan fokus pada optimasi public service berbasis IT, pemeliharaan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur integratif, Good Governance dan membangun konektivitas lokal antar wilayah yang akan memperkecil jarak antara fasilitas kota dan desa sehingga semakin banyak warga yang betah tinggal di daerah tanpa perlu melakukan urbanisasi. Yang kemudian kita dapat menjaring talenta terbaik untuk membangun daerah. Hal ini tentu memerlukan kesiapan dari kedua belah pihak.

Masyarakat Trenggalek tercinta, sebagai pemimpin saya harus siap menerima aspirasi masyarakat pada program kerja sekaligus  mengedukasikannya secara kontinyu. Meski memerlukan waktu, masyarakat pun harus siap mengubah mind set-nya agar dapat berkooperatif dan ikut serta. Kini, masyarakat pun semakin memahami pentingnya perombakan infrastruktur dan ahli geologis untuk meneliti daerahnya. Saya yakin, kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya menciptakan mutual trust yang menjadi aspek termahal dalam membangun Trenggalek. Untuk itu mari kita jaga bersama dan saling membumi, demi inovasi yang memberikan perubahan. (Foto: Universitas Brawijaya)

Sumber : Page FB Emil Elistianto Dardak


SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)