Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Jumat, 17 Februari 2017

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online yang saya hormati, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami ingin menanyakan tentang hukum pencantuman nama suami di belakang nama istri. Sementara saya pernah mendengar ustadz tidak memperbolehkan pencantuman suami setelah nama istri. Mohon keterangannya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Mahmud/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa lazimnya nama yang dicantumkan di belakang nama seseorang adalah orang tuanya, terutama bapak kandung yang bersangkutan. Pencantuman itu adakalanya dibubuhi dengan “bin”, “binti”, atau tanpa itu semua. Nama anak itu digandeng langsung dengan nama orang tuanya. Ada juga yang menyandingkan namanya dengan nama kedua orang tuanya sekaligus seperti Abdullah bin Ubay bin Salul.
قوله على ابن أبي وكان رئيس الخزرج وينسب لأيبه وأمه. فأبوه أبي وأمه سلول. وكان اسمه عبد الله اهـ شيخنا

Artinya, “(Abdullah bin Ubay bin Salul) bin Ubay adalah pemuka Khazraj. Ia dinisbahkan kepada bapak dan ibunya. Bapaknya bernama Ubay. Ibunya bernama Salul. Namanya sendiri adalah Abdullah sebagai keterangan guru kami,” (Lihat Syekh Sulaiman Umar Al-Jamal, Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, Beirut, Darul Fikr, 2003 M/1423 H, juz III halaman 302).

Pencantuman nama orang tua di belakang nama anak biasanya dipakai untuk sejumlah kepentingan. Salah satunya pencantuman nama itu dimaksudkan untuk penegasan nasab atau hubungan biologis. Karenanya pencantuman nama orang lain yang bukan orang tua kandung di belakang nama seseorang terhitung aib yang sangat tercela dalam Islam seperti disebutkan Rasulullah SAW berikut ini.
عن أبي ذر رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول ليس من رجل ادعى لغير أبيه وهو يعلمه إلا كفر

Artinya, “Dari Abu Dzar, ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Tiada seorangpun yang menisbahkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur,’” (HR Bukhari).

Penjelasan hadits di atas diulas oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari berikut ini.
ويروي إلى غير أبيه قوله وهو يعلمه جملة حالية أي والحال أنه يعلم أنه غير أبيه وإنما قيد بذلك لأن الإثم يتبع العلم وفي بعض النسخ إلا كفر بالله ولم تقع هذه اللفظة في رواية مسلم ولا في غير رواية أبي ذر فالوجه على عدم هذه اللفظة أن المراد بالكفر كفران النعمة أو لا يراد ظاهر اللفظ وإنما المراد المبالغة في الزجر والتوبيخ أو المراد أنه فعل فعلا يشبه فعل أهل الكفر

Artinya, “(Kepada selain bapaknya) dan (dengan sengaja) kalimat hal atau penunjuk waktu kekinian. Artinya ia saat itu sadar bahwa nama penisbahan di belakang namanya itu bukanlah bapaknya. Penisbahan itu dikaitkan dengan kesengajaan karena kesalahan dianggap dosa ketika dilakukan dengan sengaja. Sebagian naskah menyebut, ‘kufur kepada Allah’ yang mana hal ini tidak terdapat dalam riwayat Muslim. Dan tidak ada pada riwayat selain Abu Dzar. Tidak adanya penyebutan ‘kufur kepada Allah’ bisa jadi dipahami sebagai kufur nikmat atau maksudnya tidak seperti yang tertera secara harfiah. Tetapi maksudnya adalah penegasan larangan dan aib atas penisbahan seseorang kepada orang lain yang bukan bapak kandungnya. Hadits itu juga bisa dipahami bahwa penisbahan itu merupakan perilaku yang serupa dengan perbuatan orang kafir,” (Lihat Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari, juz 24, halaman 35).

Dalil lain yang diangkat sebagai pengharaman penisbahan nama orang lain adalah Surat Al-Ahzab ayat 5.
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ الله

Artinya, “Kaitkan panggilan mereka (anak-anak angkat) itu dengan nama orang tua kandung mereka. Itu lebih adil statusnya di sisi Allah.”

Ada baiknya kita lihat keterangan singkat Syekh Wahbah Az-Zuhayli perihal ayat ini dalam tafsirnya berikut ini.
انسبوا الأبناء لآبائهم الحقيقيين الذين هم من أصلابهم لا للذين تبنوهم فنسب الابن لأبيه الأصيل هو أعدل حكما

Artinya, “Nisbahkan anak-anak (angkat) itu kepada bapak mereka yang sebenarnya di mana mereka adalah orang tua kandung mereka, bukan kepada orang tua angkat mereka. penisbahan anak kepada bapak kandung itu lebih adil statusnya,” (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Wajiz ala Hamisyil Qaur’anil Azhim, Damaskus, Darul Fikr, cetakan kedua 1416 H/ 1996 M, halaman 419).

Namun begitu, penjelasan Sayyid Al-Alusi berikut ini sedikit banyak menjawab masalah yang ditanyakan. Menurutnya, penisbahan nama secara biologis kepada selain orang tua itu dilarang kalau memang dilakukan secara sengaja.
وظاهر الآية حرمة تعمد دعوة الإنسان لغير أبيه ، ولعل ذلك فيما إذا كانت الدعوة على الوجه الذي كان في الجاهلية ، وأما إذا لم تكن كذلك كما يقول الكبير للصغير على سبيل التحنن والشفقة يا ابني وكثيراً ما يقع ذلك فالظاهر عدم الحرمة

Artinya, “Secara lahiriyah, ayat ini mengharamkan dengan sengaja penyebutan nisbah seseorang kepada selain bapaknya. Bisa jadi keharaman itu karena penyebutan nama dilakukan seperti tradisi masyarakat Jahiliyah. Sedangkan panggilan yang berbeda dengan konsep penyebutan nama dalam Jahiliyah seperti bentuk panggilan orang dewasa kepada mereka yang lebih muda dengan sapaan ‘Anakku’ dan banyak sapaan kasih-sayang dan ramah-bersahabat serupa itu, secara lahiriyah tidaklah haram,” (Lihat Sayyid Mahmud Al-Alusi, Ruhul Ma‘ani, Beirut, Daru Ihya’it Turatsil Arabi, tanpa tahun, juz 21, halaman 149).

Berangkat dari pelbagai penjelasan di atas, kita mengambil sejumlah simpulan. Pertama, Islam mengecam keras mereka yang mencantumkan nama orang lain di belakang namanya secara sengaja dengan niat nisbah biologis. Karena perbuatan itu merupakan pengingkaran terhadap bapak kandungnya sendiri. Ini bagian dari kufur nikmat dan kedurhakaan.

Kedua, pencantuman nama suami di belakang nama istri jelas tidak dimaksudkan untuk penisbahan biologis. Dengan demikian boleh saja seorang istri membubuhi nama suami di belakang namanya.

Ketiga, sapaan seseorang yang lebih dewasa kepada mereka yang lebih muda atau sebaliknya dengan kata “Nak”, “Dik”, “Pak”, “Om”, "Tante", “Cing”, “Bu”, “Pak dhe”, atau sapaan serupa lainnya untuk menunjukkan kehangatan dan keakraban dua orang yang sama sekali tidak berkaitan secara biologis, tidak diharamkan seperti penjelasan Al-Alusi di atas.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Sumber : NU.OR.ID

Rabu, 15 Februari 2017

JAKARTA – Dalam berbagai kesempatan, Rais Am Jam’iyah Ahlu Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdiyah Maulana, Habib Luthfi bin Yahya, tak henti-hentinya menitipkan pesan yang sangat penting bagi penerus bangsa Indonesia perihal Pancasila, Nasionalisme, Merah Putih, Cinta Tanah Air, dan NKRI.
Berikut di antara pesan-pesan beliau:
1. Saya salut banyak bendera Merah Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air.
Dalam Merah Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?
2. Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan, dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan.
Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda.
3. Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama.
4. Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa.
5. Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw mengatakan, Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab. Ini contoh konkret kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya.
Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah Swt atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI, atau POLRI.
6. Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya.
7. Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara, dan Jam’iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati.
Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik.
8. Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin.
Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran.
9. Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral ‘ini’ adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal.
Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.
10. Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt untuk memiliki Bangsa Indonesia.
11. Bendera Merah Putih adalah harga diri bangsa, kehormatan bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa.
Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri bangsa, pada sang saka Merah Putih.
12. Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih.
Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?
13. Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih.
Karena itu, sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.
Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.
15. Yang memperjuangkan bangsa ini adalah para ulama, kiai, dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah.
Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.
16. Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah.
Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan.
Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.
17. Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu.
Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini.
Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.
18. Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab, Pancasila akan dimiliki semua pihak.
Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di back-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan, dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan.
Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik, sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air, dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.
19. Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penjajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang.
Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.
20. Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka bangsa dan negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll, pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja.
Saya tidak melarang kritik, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.
21. Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah.
Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.

**Tulisan ini dimuat berdasarkan persetujuan Humas Habib Lutfhi setelah berkonsultasi dengan Rais Am Jam’iyah Ahlu Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdiyah Maulana Habib Luthfi bin Yahya.
Menurut Humas Habib Luthfi, 21 pesan di atas dirangkum dari ceramah-ceramah yang disampaikan Habib Luthfi bin Yahya.

Sumber : ANSORNews

*SLUKU-SLUKU BATHOK*

_Sluku-Sluku Bathok_ _Bathoke Ela Elo_
_Si Rama Menyang Solo_
_Oleh-Olehe Payung Mutho_
_Mak Jenthit Lolo Lo Bah_
_Yen Mati Ora Obah_
_Yen Obah Medeni Bocah_
_Yen Urip Goleko Duwit_

*_Sluku-Sluku Bathok_*
_Artinya:_ Hidup Tidak Boleh Dihabiskan Hanya Untuk Bekerja, Waktunya Istirahat Ya Istirahat, Untuk Menjaga Jiwa Dan Raga Agar Selalu Dalam Kondisi Yang Seimbang, Bathok Atau Kepala Kita Perlu Beristirahat Untuk Memaksimalkan Kemampuanya.

*_Bathoke Ela Elo_*
_Artinya:_ Dengan Berdzikir (ela elo= Laa ilaaha ilalloh) Mengingat Allah, Syaraf Neuron Di Otak Akan Mengendur, Ingatlah Allah, Dengan Mengingat-Nya Hati Menjadi Tentram.

*_Si Rama Menyang Solo_*
_Artinya:_
Siram (Mandilah, Bersucilah) Menyang (Menuju) Solo (Sholat) Lalu Bersuci Dan Dirikan Sholat.

*_Oleh-Olehe Payung Mutho_*
_Artinya:_ Maka Kita Akan Mendapatkan Perlindungan (Payung) Dari Allah, Tuhan Kita,

*_Mak Jenthit Lolo lo Bah_*
_Artinya:_ Kematian itu Datangnya Tiba-Tiba, Tak Ada Yang Tahu, Tak Dapat Diprediksi Dan Tak Juga Dikira-Kira, Tak Bisa Dimajukan Dan Tak Bisa Pula DiMundurkan,

*_Wong Mati Ora Obah_*
_Artinya:_ Saat Kematian Datang, Semua Sudah Terlambat, Kesempatan Beramal Hilang.

*_Yen Obah Medeni Bocah_*
_Artinya:_ Banyak Jiwa Yang Rindu Untuk Kembali Pada Allah Ingin Minta Dihidupkan, Tapi Allah Tak Mengijinkan, Jika Mayat Hidup Lagi Maka Bentuknya Pasti Menakutkan Dan Mudhorotnya Lebih Besar.

*_Yen Urip Goleko Dhuwit_*
_Artinya:_ Kesempatan Beramal Untuk Beramal Hanya ada Di Saat Sekarang (Selagi Mampu Dan Ada Waktu) Bukan Dinanti (Ketidak Mampuan Dan Hilangnya Kesempatan) Tempat Beramal Hanya Disini (Dunia) Bukan Disana (Akherat) Disana Bukan Tempat Beramal (Bercocok Tanam) Tapi Tempat Berhasil (Panen Raya)

_Subhanalloh, Dalam Banget Arti Dan Makna Tembang "Sluku-Sluku Bathok" Karya Kanjeng Sunan KaliJaga, Semoga Kita Semua Di Beri Keselamatan Dunia Dan Akhirat Aamin..._


Minggu, 12 Februari 2017

Trenggalek ~ Ahad, 12 Pebruari 2017 telah berlangsung kegiatan Istighotsah Kebangsaan dan Apel Kesetiaan kepada Kyai dan NKRI di Alun-alun Kabupaten Trenggalek. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Trenggalek bersama Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Trenggalek, serta jajaran Satuan Koordinasi Cabang Banser Trenggalek. Nampak hadir dalam kegiatan tersebut jajaran MUSPIDA Kabupaten Trenggalek, tokoh agama, pengasuh pondok pesantren, dan tentunya segenap Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom yang berada di bawah PCNU Kabupaten Trenggalek. 

Berikut Dokumentasi kegiatannya :













Selasa, 07 Februari 2017

Oleh Ahmad Yahya

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Keberadaan atau eksistensi NU sampai saat ini tidak lepas dari grass root atau akar rumput NU (Jamaah). Boleh dikata basis akar rumput NU adalah basis yang sangat loyal menjaga dan memperjuangkan NU, serta memperkuat dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dipegang teguh oleh kultur NU di pedesaan ini memberi bukti bahwa paham Aswaja mampu menyeimbangkan rasa persaudaraan antara masyarakat dilingkungan sosial warga NU. Kultur NU seperti yasinan dan tahlil, sholawat, pengajian, dan lain-lain yang dilakukan warga NU harus tetap dilestarikan. Karena kegiatan tersebut merupakan mesin religi atau religi sosial yang mampu memperkuat persaudaraan di kalangan warga Nahdliyyin.

Tumbuh kembangnya arus informasi dan teknologi yang deras sudah tidak dapat dipungkiri, pengaruh masyarakat terhadap arus informasi ini bisa disikapi secara positif dan negatif. Sikap positif ini bisa kita maknai bahwa berkembangnya informasi dan teknologi mempercepat segala informasi sampai ke desa-desa, termasuk bisa dinikmati oleh seluruh warga NU untuk belajar dan mengembangkan diri.

Unsur negatif yang timbul dari arus informasi ini adalah banyaknya kejahatan yang bersumber dari elektronik dan komputer, termasuk kejahatan pencucian uang, kejahatan terorisme, banyaknya situs-situs porno serta kejahatan dunia maya yang membahayakan kader-kader muda NU.

Fakta terungkap hari ini adalah banyaknya informasi hoax sudah menyebar di kalangan akar rumput NU, ini bisa diartikan bahwa segala sumber informasi dan kecanggihan teknologi harus di waspadai secara bijak, jangan sampai informasi yang mengandung fitnah ini menimbulkan keresahan di kalangan Nahdliyyin.

Sebagai contoh berbagai fitnah dan hasutan yang dibaca di sosial media tidak luput menyasar para kiai, ulama, sesepuh dan pengurus di kalangan NU. Perang nyata serta menyelamatkan NU akar rumput dari berita-berita hoax harus segera dibendung. 

Lain lagi yang menyasar di akar rumput NU adalah sasaran empuk para elit politik untuk mendulang suara saat mendekati pemilihan kepala daerah; gubernur, bupati atau wali kota, untuk mendukung syahwat politik mereka untuk menjadi orang nomor 1 di daerah pemilihannya. 

Ini membuktikan bahwa akar rumput NU memiliki makna dan arti tersendiri di kalangan elit politik, jangan sampai akar rumput ini dijadikan alat serta obyek mobilisasi untuk memperjuangkan kepentingan pribadi bukan kepentingan masyarakat umum.

Strategi menyelamatkan akar rumput NU

Setiap organisasi mempunyai strategi untuk mengelola dan menjaga struktur dan elemen-elemen yang terlibat didalamnya. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia pastinya mempunyai rencana strategis jangka panjang dan jangka pendek untuk mengelola dan menjaga setiap unsur yang terlibat di Nahdlatul Ulama. 

Salah satu unsur yang terlibat di tubuh NU adalah warga Nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Negara Indonesia, yang mempunyai komitmen untuk menjaga paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Menurut penulis, strategi menyelamatkan akar rumput NU dari berbagi sumber informasi hoax dan pemanfaat elit politik tertentu yaitu; Pertama, membangkitkan kesadaran masyarakat, khususnya Nahdliyyin agar lebif selektif menerima informasi dari sumber dan obyek apapun serta melawannya.

Kedua, bukti perlawanan tersebu adalah menyeimbangkan dengan berita dan tulisan-tulisan yang inspiratif dan membangun. Maka strategi kedua ini perlunya di lakukan pelatihan-pelatihan penulisan ilmiah secara nasional diseluruh jajaran struktural NU mulai dari pusat hingga ranting. Ini sebagai usaha untuk membekali dan membentengi kaum muda NU di bidang pengetahuan dan skill jurnalistik.

Ketiga, untuk membendung benturan dan perpecahan di kalangan NU akar rumput akibat perbedaan pandangan politik serta berita-berita hoax yang berujung fitnah dan permusuhan antar umat Islam, maka perlunya gerakan kegiatan positif secara seperti penyuluhan warga NU cerdas politik, cerdas hukum dan cerdas Informasi Tekhnologi (IT). 

Memang mewujudkan akar rumput NU cerdas hukum, cerdas politik, dan cerdas Informasi Tekhnologi (IT) bukanlah hal mudah. Menyelamatkan akar rumput NU adalah sebuah keniscayaan yang harus tetap dijalankan demi tegakknya NU dan keberlangsungan menjaga paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wallahu A’lam.

Penulis adalah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Sosial Masyarakat IMAN Institute, Pengagum Gus Dur, tinggal di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sumber : NU Online

Sabtu, 04 Februari 2017

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selalu berhasil menyegarkan suasana yang kaku menjadi cair dengan humor khasnya yang mencerdaskan.

Tak heran setiap memberikan ceramah di berbagai tempat, masyarakat selalu penasaran dengan banyolan barunya selain memetik banyak hikmah dari ceramahnya itu.

Pertama kali melontarkan anekdotnya terkait tingkah laku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menurutnya seperti anak TK, masyarakat mengamini sembari tertawa geli.

Namun  belakangan, Gus Dur meningkatkan level penilaiannya terhadap mereka yang menyatakan bahwa Anggota DPR bukan lagi seperti anak TK, tetapi ‘meningkat’ seperti anak-anak Playgroup seiring makin parahnya tingkah mereka. 

Penilaian terhadap tingkah pola Anggota DPR tidak berhenti sampai di situ. Gus Dur juga memberikan anekdot segar ketika memperhatikan banyak mobil mewah Anggota DPR yang setiap hari berjejer di dalam maupun di luar gedung.

“Persis seperti show room mobil-mobil mewah. Mobil jenis apapun dengan harga fantastis ada di sana,” kata Gus Dur dengan tawa khasnya. 

(Fathoni Ahmad) 


Sumber : NU Online

Jumat, 03 Februari 2017

Rembang, NU Online 
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair yang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini selalu dinanti nasehat dan bimbingannya oleh warga Nahdliyin dan khalayak. 

Kiai karismatik yang lahir di Rembang bertepatan dengan dicetuskannya hari Sumpah Pemuda itu, Kamis (2/2) lalu mengungkapkan tentang warga Nahdliyin dan masa remajanya bersama NU. 

Putra pertama KH Zubair Dahlan yang merupakan salah satu tokoh pejuang NU bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah ini menceritakan kecintaannya terhadap NU yang tumbuh sejak masa remaja. 

"Sebelum saya di PBNU tahun 1990. Saya mulai di NU tahun 1950 sebagai kader IPNU, tahun 1960  di Ansor, terus tahun 1970 di NU Cabang," terang Mbah Moen sapaan akrabnya kepada NU Online di Rembang, Jawa Tengah. 

Pada tahun 1980, lanjut Mbah Moen, ia masuk di kepengurusan PWNU Jawa Tengah, tahun 1990 di PBNU sebagai Rais sampai kepada Thariqat. 

"Kemudian saya pensiun sebentar di tahun 2000, dan masuk lagi menjadi Mustasyar PBNU hingga sekarang," ungkapnya. 

Sebelum Mbah Moen menceritakan tentang masa remajanya bersama NU. Ia lebih dulu menjelaskan tentang siapa warga Nahdliyin. Menurutnya, sejak dahulu sudah ada anggota Nahdliyin secara alami dan organisasi. 

"Anggota organisasi yaitu yang tercatat sebagai anggota, sedangkan yang alami adalah mereka yang mengikuti para ulama," terangnya. (Aan Ainun Najib/Zunus)


Sumber : NU Online

Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma'ruf Amin.

Kiai Ma'ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma'ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma'ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma'ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin "serangan". Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma'ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma'ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi'i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.

Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma'ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma'ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir.

Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma'ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, al-jumud 'alal manqulat dhalalun fi al din. Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.

Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.

Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma'ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma'ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.

Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma'ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, al-muhafadhah 'alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Poinnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.

Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran. Semoga sehat selalu, Kiai.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.


Sumber : NU Online

Alquran qodim Wahyu Minulyo Tanpo Ditulis Biso Diwoco Wejangan Guru Waskito Den Tancepake Ing Jero Dodo
Kumintil Ati Lan Pikiran Merasuk Ing Badan Kabeh Jeroan Mu'jizat Rosul Dadi Pedoman Minongko Dalan Manjinge Iman
Kelawan Alloh Kang Moho Suci Kudu Rangkulan Rino Lan Wengi Ditirakati Diriyadohi Dzikir Lan Suluk Jo Nganti Lali
Uripe Ayem Rumongso Aman Dununge Roso Tondo Yen Iman Sabar Narimo Najan Pas Pasan Kabeh Tinakdir Saking Pangeran
Kelawan Konco Dolor Lan Tonggo Kang Podo Rukun Ojok Ngasio Iku Sunae Rosul Kang Mulyo Nabi Muhammad Panutan Kito
Ayo Ngelakoni Sekabehane Alloh Kang Bakal Ngangkat Drajate Senajan Asohor Toto Dhoire Ananging Mulyo Maqom Drajate
Lamun Palestro ing Pungkasane Den Gadang Alloh Swargo Manggone Utuh Mayite Ugo Ulese
Ngawite Ingsun Nglarasa Syi'iran Kelawan Muji Maring Pangeran Kang Paring Rohmat Lan Kenikmatan Rino Wengine Tanpo Pitungan
Duh Bolo Konco Priyo Wanito Ojok Mong Ngaji Syare'at Bloko Gur Pintee Ndongeng Nulis Lan Moco Tembe Burine Bakal Sengsoro
Akeh Kang Apal Qur'an Hadise Seneng Ngafirke Marang Liyane Kafire Dewe Dak Digatekke Yen Isih Kotor Ati Akale
Gampang Kebujuk Nafsu Angkoro ing Pepaese Gebyare Ndunyo Iri Lan Meri Sugine Tonggo Mulo Mulo Atine Peteng Lan Nisto
Ayo Sedulur Jo Ngelaleake Wajibe Ngaji Sak Pranatane Nggo Ngendaleake iman Tauhite Baguse Sangu Mulyo Matine
Kang Aran Soleh Bagus Atine Kerono Mapan Seri Ngelmune Laku Thoriqot Lan Ma'rifate Ugo Hakekot Manjing Rasane
Al-Fatihah Dumateng Gus Dur!


Assalamu ’alaikum wr. wb.
Pak Ustadz yang terhormat, saya ingin menanyakan hukum mengenai perpindahan atau geser dari tempat semula yang dijadikan untuk shalat fardlu ke tempat lain ketika hendak menjalankan shalat sunah. Praktik seperti ini sudah lazim di mana-mana.

Ketika seseorang telah selesai menjalankan shalat fardlu, dan ingin menjalankan shalat sunah, maka ia biasanya bergeser ke tempat lain. Bagaimana hukum pergeseran atau perpindahan tersebut? Mohon penjelasannya, karena saya juga melakukan hal yang seperti tetapi belum tahu dasar hukumnya. Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih banyak. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Musa/Bekasi Utara)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana yang kita pahami bersama, shalat sunah merupakan pelengkap dari shalat fardlu.

Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya—yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui jalur Zaid bin Tsabit—menganjurkan untuk menjalankan shalat sunah di rumah. Tentunya tidak semua shalat sunah dianjurkan untuk dilaksanakan di dalam rumah seperti shalat Id dan shalat sunah gerhana.

Atas dasar ini para ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa jika shalat itu termasuk dari shalat yang setelahnya dianjurkan untuk menjalankan shalat nafilah atau shalat sunah, maka orang yang ingin mengerjakan shalat sunah tersebut dianjurkan melaksanakannya di rumah.

قَالَ اَصْحَابُنَا اِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ مِمَّا يُتَنَفَّلُ بَعْدَهَا فَالسُّنَّةُ اَنْ يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ لِفِعْلِ النَّافِلَةِ لِاَنَّ فِعْلِهَا فِي الْبَيْتِ اَفْضَلُ " لِقَوْلِهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا اَيُّهَا النَّاسِ فِي بُيُوتِكُمْ فَاِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ اِلَّا الْمَكْتُوبَةَ " رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَي عَنْهُ

Artinya, “Menurut para ulama dari kalangan kami (Madzhab Syafi’i) bahwa jika shalat itu merupakan yang termasuk disunahkan untuk melakukan shalat sunah setelah shalat tersebut, sebaiknya seseorang untuk kembali rumahnya untuk menjalankan shalat sunah (nafilah). Sebab, menjanlakan shalat sunah tersebut lebih utama dilaksanakan di rumah karena terdapat sabda Nabi saw yang menyatakan: ‘Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian, karena yang paling utama shalatnya seseorang adalah di rumah kecuali shalat maktubah’. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit ra,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz III, halaman 472).

Sampai titik ini tidak ada persoalan berarti. Namun persoalan akan muncul jika orang yang sehabis shalat fardlu di masjid dan tidak ingin pulang ke rumah dulu tetapi ingin melaksanakan shalat sunah di masjid saja, misalnya. Apa yang sebaiknya ia lakukan, apakah ia shalat sunah di tempat yang telah digunakan untuk shalat fardlu?

Dalam kasus yang seperti ini menurut ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i—sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syaraf An-Nawawi—ia disunahkan untuk bergeser atau pindah sedikit dari tempat semula ke tempat lain. Pertanyannya adalah kenapa ia disunahkan bergeser dari tempat semula? Jawaban yang tersedia menyatakan bahwa hal tersebut untuk memperbanyak tempat sujud. Demikian menurut Al-Baghawi dan ulama yang lain.

قَالَ أَصْحَابُنَا فَإِنْ لَمْ يَرْجِعْ إِلَى بَيْتِهِ وَأَرَادَ التَّنَفُّلَ فِي الْمَسْجِدِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْتَقِلَ عَنْ مَوْضِعِهِ قَلِيلاً لِتَكْثِيرِ مَوَاضَعِ سُجُودِهِ ، هَكَذَا عَلَّلَهُ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ

Artinya, “Menurut para ulama dari kalangan kami, apabila orang yang shalat tidak segera kembali ke rumah, dan masih tetap ingin melaksanakan shalat nafilah di dalam masjid, maka disunahkan baginya untuk bergeser sedikit dari tempatnya semula demi memperbanyak tempat sujudnya. Demikian ini illat atau alasan di balik anjuran berpindah atau bergerser sebagaimana dikemukakan Al-Baghawi dan selainnya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz III, halaman 472).

Logika yang dibangun Al-Baghawi dan ulama lain menarik untuk dicermati. Memperbanyak tempat sujud sama artinya memperbanyak tempat ibadah. Karena tempat sujud kelak akan akan menjadi saksi bagi orang yang bersujud di tempat tersebut sebagaimana firman Allah swt: “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,” (QS Az-Zalzalah [99]: 4). Artinya, bumi akan mengabarkan apa yang diperbuat kepadanya. Demikian yang kami pahami dari pernyataan Asy-Syaukani berikut ini.

وَالْعِلَّةُ فِي ذَلِكَ تَكْثِيرُ مَوَاضِعِ الْعِبَادَةِ كَمَا قَالَ الْبُخَارِيُّ وَالْبَغَوِيُّ لِأَنَّ مَوَاضِعَ السُّجُودِ تَشْهَدُ لَهُ كَمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا } أَيْ تُخْبِرُ بِمَا عُمِلَ عَلَيْهَا

Artinya, “Illat di balik (anjuran untuk bergeser sedikit, pent) adalah memperbanyak tempat ibadah sebagaimana dikemukakan Al-Bukhari dan Al-Baghawi. Sebab tempat sujud kelak akan menjadi saksi baginya sebagaimana firman Allah: ‘Pada hari itu bumi menceritakan beritanya,’ (QS Az-Zalzalah [99]: 4). Maksudnya adalah bumi akan mengabarkan apa yang diperbuat di atasnya,” (Lihat Muhammad Asy-Syaukani, Nailul Awthar, Idarah At-Thiba’ah Al-Muniriyyah, juz III, halaman 241).

Selanjutnya bagaimana jika orang tersebut setelah shalat fardlu enggan bergeser sedikit untuk menjalankan shalat sunah? Apa yang sebaiknya ia lakukan jika ingin menjalankan shalat sunah? Solusi yang ditawarkan dalam konteks ini adalah sebaiknya ia memisah di antara shalat fardlu dan shalat sunah dengan berbicara kepada orang lain.

فَإِنْ لم يَنْتَقِلْ إِلَى مَوْضِعٍ آخَرَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَفْصِلَ بَيْنَ الْفَرِيضَةَ وَالنَّافِلَةَ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ

Artinya, “Namun jika ia enggan berpindah atau bergeser ke tempat lain, maka sebaiknya ia memisah antara shalat fardlu dan nafilah dengan cara berbicara dengan orang lain,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz III, h 472).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)


Sumber : NU.OR.ID

SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)