Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Jumat, 03 Maret 2017

Bagi Sahabat-sahabat yang berkeinginan untuk mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar Gerakan Pemuda Ansor dan Pendidikan dan Latihan Dasar BANSER, silahkan ikuti INFO dalam PAMLET atau brosur terlampir.



Laporan Kunjungan KH. Said Aqil ke Al-Azhar Mesir sebagai undangan.

*KH Said Aqil Siroj Ajak WNI di Mesir Tahlil di Makam Cucu Rasulullah SAW Dan Para Ulama Besar

Kairo: Usai Konferensi Internasional di Universitas Al-Azhar, rangkaian kunjungan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA ke Mesir berikutnya adalah ziarah ke makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib di kawasan Old Kairo.

"Ayo kita tahlil," ajak Kiai Said Aqil Siroj sesampai di makam Sayyidina Husain.

Tahlil dengan bacaan khas Indonesia pun berkumandang. Kiai Said Aqil memimpin langsung bacaan tahlil. Suasana khusyu' tercipta hingga tahlil usai. Kiai Said Aqil pun sedikit memberikan nasehat kepada para mahasiswa NU yang mengikuti ziarah.

"Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU," kata Kiai Said Aqil.

Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib, Kiai Said mengajak untuk ziarah ke makam Ibn Atha'illah as-Sakandari. Sufi besar ini sangat mempengaruhi Kiai Said Aqil di samping Syaikh as-Syadzili.

"Masih ada waktu, kita ke makam Syaikh Ibn Atha'illah." Ajak Kiai Said Aqil Siroj.

Selesai tahlil di makam Syaikh Ibn Atha'illah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu juga mengenang kehidupan Syaikh Ibn Atha'illah.

"Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyu'an di dalam hatinya," ujar Kiai Said Aqil.

Karena itu, imbuh Kiai Said Aqil, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berzikir kepada Allah. "Menjadikan hati kita khusyu' tempat bersemayamnya Allah," kata Kiai Said Aqil. Berikutnya ziarah dilanjut ke makam Imam Waqi'. (ANW/KSF/KIA).

Sumber : FB Santri Online


Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, "Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan." Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur'an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.

Masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlus Sunnah wal Jama'ah (ASWAJA) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dna rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan. Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, ASWAJA tidak akan mudah mengkafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik. Kalau ada yang sampai tega mengkafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari ASWAJA.

Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua:

‎. لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء
‎ من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى

"Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala".

Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta'ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta'ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno.

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT.  Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)".

Belakangan ini di medsos seringkali banyak yang berkomentar "anda muslim?" untuk meragukan dan mempertanyakan keislaman orang lain hanya karena berbeda pendapat. Atau menjadi viral saat ini ajakan untuk tidak menshalatkan jenazah mereka yang memilih pemimpin non-Muslim karena dianggap Munafik. Penjelasan saya di atas telah menunjukkan bahwa sikap meragukan keislaman orang lain dan mudah memvonis orang lain Munafik adalah sikap yang tidak pantas dilakukan sesama Muslim. Para sahabat Nabi dan ulama salaf akan berhati-hati dalam soal ini.

Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Kiai Said Suatu hari di tengah Jalan Tol sepulang dari Surabaya

Driver "wah Bocor nih kayaknya vidz"
akuh "minggir dulu mang, ganti ban"
Kyai "ada apa vidz"
Akuh "Maaf kyai,,, ban bocor,, kiranya berkenan menunggu"
Kyai "oh ya..." sembari memejamkan mata kembali untuk istirahat di dalam mobil.

Satu Jam kemudian, keringat sudah mengucur, terik matahari makin menyengat, lalu lintas makin padat, bahkan sudah dua mobil patroli menawarkan bantuan, alat-alat sudah dicoba semua.

Driver "wah,,, kuncinya slek vidz,,, terlalu kecil,,, bautnya ada yang beda satu nih... gimana, harus panggil bengkel resmi"
Akuh "saya tawarkan dulu ke kyai ya,,, apa mau menunggu atau dijemput Driver lainnya"
Akuh "maaf kyai,,, ban tidak bisa dibuka, harus dipanggilkan bengkel resmi, berkenan kyai untuk saya panggil Driver supaya jemput disini"
Kyai "tidak perlu,,, panggil bengkel saja, kita keluar tol terdekat dulu,,, dan cari tempat yang rindang"
Aku "baik kyai, laksanakan"

Sembari membereskan semua alat-alat...
Akuh "Mang, panggil bengkel resmi dan kita keluar tol dulu cari tempat yang rindang, ketemu bengkel disana"
Driver "Oks"

Keluarlah kami dari tol dengan kondisi ban bocor,,, tempat rindang tidak ditemukan,,, pintu tol merayap karena jam makan siang,,, akhirnya kita berhenti di depan Minimarket arah jalan Antasari ( bukan antasari Azhar :D )

Kyai "bagaimana vidz,,, bengkelnya sudah arah kesini belum "
Akuh "belum kyai,,, kena macet,,, berkenan untuk dijemput saja kyai daripada menunggu lama disini kurang kondusif"
Kyai "tidak perlu, kita tunggu saja disini,,,belikan air minum saja, Kopi atau air mineral"

Aku segera bergegas masuk ke Minimarket sembari melirik Kyai yang perlahan menuju tempat duduk kusam tempat bapak2 tukang parkir berjaga.

Aku menghampiri kyai yg sudah duduk ditemani Juru Parkir. Terlihat keringat sudah bercucuran pertanda ia kepanasan. Akhirnya ...

Kyai "Vidz,,, kamu tunggu disini saja,,, saya pulang dulu naik taxi ya,,, kita jalan ke seberang sana supaya taxi tidak memutar balik,,, kasihan macet,,, Ohya jangan lupa... Pak Juru Parkir dikasih rokok sebungkus dan minuman ya... ayo kesana"
Akuh "baik kyai,,, mari" sembari menggandeng tangan beliau menyeberang jalan, sambil tak peduli banyak sekali pengguna jalan yang "heran" dengan wajah familier kyai. (Maklum waktu itu masih hangat2nya demo yang oleh beliau dilarang)

Tiba-tiba... sreeeetttt. Sebuah mobil Harier berplat LEMHANNAS berhenti, nampak dari Jendela seseorang bicara "Kyai,,, koq jalan kaki,,, saya antar saja kyai ke rumah".

Tanpa bicara,,, kyai cuma mengatupkan kedua telapak tangan ke dada,,, pertanda maaf tidak perlu.

Akhirnya.... setelah lama menunggu Taxi datang.... tergopoh Driver Taxi akan membukakan pintu ... tapi saya tahan...

Semoga sehat selalu kyaiku....
Semoga berkah Driver Taxi

Dituturkan oleh Hafidz Ismail (Asisten Kiai Said Aqil Siroj)

Semoga Kiai Said Panjang umur, sehat wal 'afiyah Aamiin Allohumma Aamiin....


Pada suatu hari seorang ulama besar bernama Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar yang ada di Kota Basrah. Melihat kedatangannya orang-orang menyambut beliau dan salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Syeikh Ibrahim, bertahun-tahun kami berdo'a kepada Alloh tapi sampai sekarang belum mendapatkan ijabah, padahal Alloh SWT berfirman; bahwa kita diperintahkan untuk berdo'a kepada-Nya niscaya pasti dikabulkan..!”

Mendapatkan pertanyaan ini beliau menjawab, “Wahai penduduk Bashroh, do'a kalian tak kunjung dikabulkan karena hati kalian mati dengan sepuluh hal berikut ini,
1. Kalian mengerti kewajiban kepada Alloh SWT  tapi tidak kalian kerjakan,
2. Kalian membaca kitab suci Al-Quran, akan tetapi kalian enggan mengamalkannya,
3. Kalian mengaku cinta kepada Rasululloh SAW akan tetapi kalian tidak pernah mengamalkan sunnah-sunnahnya,
4. Kalian menyatakan dengan tegas, benci dan bermusuhan dengan syetan akan tetapi kalian justru patuh dengan ajakannya,
5. Kalian selalu menyatakan ingin masuk syurga tapi enggan beramal baik untuk mendapatkan nya,
6. Kalian mengaku takut neraka akan tetapi melakukan pekerjaan yang bisa menjerumuskan diri kalian di dalamnya,
7. Kalian percaya akan datangnya kematian akan tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya,
8. Kalian sering mengantar mayit ke kuburan tapi tidak pernah merenung bagaimana jika itu menimpa kalian,
9. Kalian mendapatkan nikmat dari Alloh SWT tapi kalian sering lupa untuk mensyukurinya,
10. Kalian sibuk mengoreksi kesalahan orang lain, sibuk dengan hal-hal di luar sana tapi kalian lupa berintrospeksi diri terhadap diri dan lingkungan kalian.”

Sumber : Kitab Hilyatul Auliya, hal : 430.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

اللهم صل على من فضله فينا مبين  ، امام المحسنين  والمتقين، قمرالوجود حميد المحمود شافى للارواح والقلوب، سيدنا محمد الحبيب المحبوب واله وصحبه هم اهل الركوع والسجود


Kamis, 02 Maret 2017

Oleh Muhtar Said

Prof KH Mohammad Tolhah Mansoer (akrab dipanggil dengan nama Tolhah) lebih dikenal sebagai seorang Kyai dan penggerak daripada seorang aktor intelektual dalam bidang hukum tatanegara. Padahal beberapa karya dan pemikirannya telah mampu memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu hukum tatanegara di Indonesia.

Pada tahun 1969 dibawah bimbingan Prof. Abdul Gaffar Pringgodigdo, Tolhah mampu merampungkan disertasinya yang berjudul “Pembahasan Beberapa Aspek tentang Kekuasaan-kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia”. Disertasinya diselesaikan melalui kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Bagi Tolhah, kekuasaan eksekutif dan legislatif perlu dibedakan, kedua jenis kekuasaan tersebut tidak bisa dicampuradukan ranah kerjanya. Hal ini diperlukan supaya model check and balance diantara keduanya terjaga. Kedua ranah kekuasaan tersebut harus mempunyai pekerjaan yang berbeda.

Untuk menjaga agar dua wilayah kekuasaan itu maka, dibutuhkan Balance of Power supaya tidak ada ketimpangan diantara keduanya. Ketika kedua lembaga kekuasaan tersebut mempunyai kekuatan yang berimbang maka tidak akan ada yang seenaknya memonopoli kebijakan.

Tholhah menyadari betul arti pentingnya balance of power, sehingga pemikirannya itu ia catat dalam karyanya. Melihat itu semua maka, tidak heran jika isi disertasi Tolhah tentang gambaran ideal mengenai ranah kerja eksekutif dan legislatif. Bisa jadi, apabila penemuan-penemuan Tolhah yang tercantum dalam disertasinya itu diterapkan kedalam sistem ketatanegaraan di Indonesia, memungkinkan bisa menjadi pedoman bagi Indonesia menuju good govenernance.

Karya Tolhah menjadi istimewa lagi, karena pada waktu yang bersamaan muncul gelombang liberalisasi politik, ekonomi, dan kebudayaan di seluruh dunia (Jimly Asshiddiqie, 2006 :65). Sehingga Tolhah “ditantang” untuk memberikan karya otentik yang bercirikhas budaya Indonesia, bukan malah menjadi agen dari paham liberal yang mudah diterima oleh banyak kalangan cendekiawan di bumi nusantara ini. 

Sebagai orang yang lahir dari kalangan santri, Tolhah juga tidak menginginkan adanya faham liberal yang menguasasi sendi-sendi sistem ketatanegaraan Indonesia. Namun, Tolhah sendiri juga tidak menginginkan adanya sistem totalitarian menguasai Indonesia. Dalam hal mencermati fenomena ini, Tolhah menggunakan cara-cara Nahdlatul Ulama (NU) yakni menggunakan cara pandang tawasuth, berpikiran tengah-tengah atau moderat dalam menyikapi sesuatu. 

Ahli Hukum Tata Negara Pasca Proklamasi

Cara pandang moderat ini digunakan oleh Tolhah ketika mengkaji sistem pemerintahan di Indonesia. Pada tahun 60-an sistem pemerintahan Indonesia terdapat ketidakjelasan pemisahan kekuasaan antara legislatif dan eksekutif. Pada masa ini, eksekutif lebih berkuasa daripada legislatif, sehingga eksekutif bisa dengan mudahnya mengontrol tugas dan wewenang legislatif.

Wilayah eksekutif menjadi lebih istimewa daripada legislatif itu tidak bisa dipungkiri pada waktu orde lama dan orde baru berkuasa, karena pada waktu itu pemerintah menganut faham negara integral, kekuasaan terpusat. Keistimewaan ini terjadi dibanyak hal, termasuk dalam ranah “pendapatan”. Mahbub Junaidi seorang intelektual muda saat itu pernah menyindir melalui tulisannya yang berjudul “Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya”. Tulisan ini menceritakan tentang lemahnya organ legislatif di Indonesia. 

Tolhah merupakan ahli hukum tatanegara yang berani menyuarakan adanya ketidakberesan sistem tatanegara Indonesia. Dalam hal menyuarakannya, Tolhah lebih memilih melalui jalur akademik, salah satunya melalui karya disertasinya yang berjudul “Pembahasan Beberapa Aspek tentang Kekuasaan-kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia”.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, disertasi Tolhah itu lahir di tengah-tengah gelombang liberalisasi politik dan otoritarianisme eksekutif yang “menyelimuiti” wajah sistem pemerintahan di Indonesia memberikan daya tarik tersendiri bagai para kalangan akademisi hukum tatanegara masa kini, karena dirasa mampu menjaga orisinalitas pemikiran, tidak condong mengikuti arus yang digelontorkan oleh bangsa barat ke Indonesia, juga tidak menjadi legitimasi akademik bagi pemerintahan otoriter pada waktu itu.

Keunikan karya yang dibuat oleh Tolhah tersebut mampu menjadi daya tarik bagi ahli hukum tatanegara saat ini untuk merujuknya. Jimly Asshiddiqie dan Mahfud merupakan tokoh atau ahli hukum tata negara kekinian yang sering merujuk karya Tolhah.

Pemikiran Tholhah dalam sistem ketatanegaraan ini, seolah-olah menjadi jembatan antara ilmu tatanegara sebelum prokalamasi dengan perkembangan ilmu tatanegara pasca proklamasi. Hal itu bisa terjadi karena karyanya lahir di tengah-tengah peralihan pemerintahan orde lama ke pemerintahan orde baru.

Soepomo dan Muhammad Yamin Ahli apa?

Tholhah bersama Ismail Suny (Fakultas Hukum Universitas Indonesia) merupakan generasi awal munculnya ahli hukum (murni) tatanegara di Indonesia semenjak proklamasi dikumandangkan. Sebelum Ismail Suny dan Tolhah, Indonesia belum pernah mempunyai sosok ahli hukum yang memang murni bergerak dalam hukum tatanegara. 

Bisa jadi gelar tersebut (ahli hukum tatanegara murni) dianggap berlebihan, karena sebelum era Tolhah dan Ismail Suny sudah ada orang-orang yang mempunyai peran (lebih daripada Tolhah dan Ismail Suny) dalam membangun sistem negara Indonesia, yakni Soepomo dan Muhammad Yamin.

Tidak bermaksud merendahkan Soepomo dan Muhammad Yamin, kedua punggawa ini merupakan ahli hukum tatanegara yang dilahirkan bukan dari rezim ilmu hukum tatanegara. Soepomo merupakan ahli hukum yang lahir dari rezim ilmu hukum adat. Soepomo ditasbihkan sebagai ahli hukum tatanegara, karena ada unsur “keterpaksaan”. Pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Soekarno tidak mempunyai ahli hukum lain yang mampu membuat draff Undang-Undang Dasar (UUD) kecuali Soepomo. Demi percepatan, maka dengan isidental Soekarno menyuruh Soepomo untuk membuat UUD. Dari peristiwa ini jadilah nama Soepomo dikenang sebagai penata sistem ketatanegaraan Indonesia, sehingga banyak kalangan yang melabelinya sebagai ahli hukum tatanegara juga.

Sedangkan Muhammad Yamin mempunyai cerita lain. Tidak bisa dipungkiri peran Yamin dalam menata sistem pemerintahan republik Indonesia sangat terasa, terutama dalam hal merumuskan sistem unitaris di Pemerintahan Indonesia. Adanya pemerintahan pusat sampai dengan pemerintahan daerah tidak bisa dilepaskan dari usulannya. Meskipun demikian, sistem-sistem tersebut bukanlah murni dari dirinya sendiri.

Di dalam karyanya Yamin yang berjudul “Sapta Parwa”, dirinya lebih banyak menceritakan sistem pemerintahan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Bagi Yamin, sistem pemerintahan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya itu akan cocok diterapkan sebagai sistem pemerintahan. Jadi, pemikiran Yamin berisikan anjuran untuk meniru, meskipun ada beberapa inovasi yang telah dibuat oleh Yamin.  

Dari sinilah kemudian banyak orang yang menyebut Yamin sebagai ahli sejarah, bukan hanya itu saja, Yamin juga dijuluki sebagai ahli bahasa, karena peranannya dalam menata bahasa Indonesia. Kedua gelar ini mampu menyisihkan pemikiran ketatanegaraan yang dimiliki oleh Yamin.

Supaya tidak terkesan membandingkan pemikiran Tolhah dengan Soepomo dan Yamin maka, penulis memberikan gelar kepada Tolhah sebagai ahli hukum tatanegara pasca proklamasi. Sedangkan Soepomo dan Yamin merupakan tokoh hukum yang lahir sebelum Proklamasi.***

Penulis adalah Alumni Ponpes Al-Barokah, Penggaron Kidul, Semarang; Dosen Ilmu Hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.


Sumber : NU.OR.ID

Menikah adalah sunah Nabi Muhammad SAW yang pelaksanaannya sangat dianjurkan bagi umat Islam. Bahkan Nabi pernah melarang sahabat yang berniat untuk meninggalkan nikah agar bisa mempergunakan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah, karena hidup membujang tidak disyariatkan dalam agama.

Suatu ketika ada tiga rombongan datang bertamu ke salah satu istri Rasulullah SAW menanyakan perihal tentang ibadah sunah yang dikerjakan oleh beliau. Setelah rombongan tersebut merasa cukup jawaban dari istri Nabi tersebut.

Kemudian mereka yang tergabung dalam rombongan tersebut saling memandang. Salah satu diantara mereka melempar pertanyaan, "Manakah Ibadah sunah Nabi Muhammad SAW  yang telah kita kerjakan, yang ibadah tersebut dapat mengampuni dosa-dosa kita baik yang sudah lampau maupun dosa yang akan datang".

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan pertama menjawab, "Aku telah sholat sepanjang malam".

"Aku telah berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka" sahut orang yang tergabung dalam rombongan kedua.

Salah seorang yang tergabung dalam rombongan yang ketiga pun tidak mau ketinggalan perihal ibadahnya.

"Aku telah menjauhi wanita, dan aku tidak mau menikah selamanya,” jelasnya.

Tiba-tiba Rasulullah SAW mendatangi kerumunan tiga rombongan dan berkata,"Kalian telah berkata begini dan begitu, tapi demi Allah aku adalah manusia yang paling takut kepada-Nya. Oleh karena itu, salah berpuasa, sholat, tidur, dan menikah. Barang siapa yang tidak suka dengan sunahku (nikah), maka bukan golonganku".

Untuk itu, manusia disyariatkan untuk menikah. Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat hubungan antar sesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih sayang. 

(Ahmad Rosyidi)

Disarikan dari kitab Jawahirul Bukhari wa Syarhul Qasthalani karya Musthafa Muhammad 'Imarah, halaman 227, Penerbit Daar al-Kutub al-Alamiyah.

Sumber : NU.OR.ID


Sebagai wilayah berpenduduk Muslim terbesar di dunia, hubungan antara Indonesia dan Saudi Arabia sudah terjalan sejak lama, sejak umat Islam mulai ada di negeri ini. Jauh sebelum kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Muslim di Nusantara berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Secara emosional, Muslim Indonesia selalu merasa dekat dengan wilayah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan menyebarkan dakwahnya. Muslim Indonesia selalu merindukan untuk bisa mengunjungi dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pada 2017 ini, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 221 ribu. Ini merupakan kuota haji terbesar di kuota haji lokal bagi penduduk Saudi Arabia. Jika ditambah dengan jumlah jamaah umrah, maka warga Indonesia yang berkunjung ke Saudi Arabia semakin besar.

Sebagai sesama produsen minyak dunia, Indonesia memiliki hubungan erat dalam bidang ekonomi. Saat Indonesia masih menjadi anggota OPEC karena masih menjadi net exporter, bersama dengan Saudi Arabia, berbagai kebijakan perminyakan dunia dibahas bersama-sama. Kini, negeri dengan padang pasir yang luas tersebut menjadi salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak untuk memenuhi berbagai keperluan industri di Indonesia. Belum lagi jika bicara soal tenaga kerja Indonesia yang pergi mengais Real di negeri tersebut. 

Bagi NU, hubungan emosional tersebut juga sangat kental. Para pelopor dan pendiri NU seperti KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah merupakan para ulama yang menghabiskan sebagian masa belajarnya di Makkatul Mukarraham. Tradisi tersebut masih terus berlanjut. Bahkan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj merupakan alumni dari Universitas Ummul Qura Makkah. 

Dengan kedekatan-kedekatan tersebut, wajar jika kunjungan Raja Salman yang kini menjadi penguasa tertinggi di Saudi Arabia ini mendapat sambutan yang antusias di Indonesia. Kunjungan terakhir raja Saudi dilakukan oleh Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tahun 1970 atau 47 tahun lalu. 

Besarnya jumlah anggota rombongan yang dibawa kali ini menunjukkan pentingnya makna yang akan dibangun. 10 orang menteri yang ikut, termasuk menteri energi Saudi Arabia, menandaskan adanya peluang besar kerja sama di bidang ekonomi. Kedua belah pihak memiliki kepentingan agar hubungan ekonomi ini terjalin lebih erat. Turunnya harga minyak belakangan ini telah menyebabkan anjloknya pendapatan pemerintah Saudi Arabia sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran tahunan. Dengan demikian, Saudi harus mempersiapkan diri untuk mendiversifikasikan sumber pendapatannya dari berbagai sektor. Indonesia bisa menjadi partner untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. 

Yang juga patut mendapat perhatian adalah pentingnya perlindungan bagi para pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia di berbagai sektor. Kasus-kasus penganiayaan yang sering terjadi telah melukai rasa kemanusiaan kita. Karena itu, Indonesia harus menekan pemerintah Saudi agar sistem ketenagakarjaan dibuat lebih baik sehingga para pekerja keselamatannya sekaligus menerima hak-haknya dengan baik.

Di samping hal-hal yang menarik terkait dengan bidang ekonomi, aspek keagamaan dari Saudi Arabia juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi NU. Pandangan keagamaan yang dianut oleh Saudi yang konservatif dengan paham wahabisme selama ini tidak selalu sejalan dengan pandangan mayoritas Islam di Indonesia. Ajaran wahabisme yang cenderung tekstual dan tumbuh di negeri yang tertutup tersebut memaknai secara kaku ajaran-ajaran Islam. Apa yang tidak sesuai dengan pandangannya dianggap bid’ah atau bahkan sesat. Apalagi dengan klaim posisi sebagai pewaris Nabi sehingga segala sesuatu yang berasal dari Arab Saudi dianggap sebagai tafsir paling otentik tentang Islam oleh Muslim awam. Bagi sebagian orang, apa yang datang dari Saudi Arabia masih dianggap sebagai sebuah kebenaran. Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam. 

Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah terbuka dan hidup dengan berbagai macam jenis keragaman memunculkan sikap keagamaan yang toleran dan menghargai harmoni hidup bersama. Perbedaan-perbedaan berusaha dicarikan jalan tengah tanpa menghilangkan hal-hal yang prinsip. Kemungkinan konsolidasi kekuatan wahabisme inilah yang harus kita waspadai dalam kunjungan kali ini mengingat klaim-klaim kebenaran tunggal yang selama ini selalu muncul dari kelompok tersebut telah memiliki potensi merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Bukan hanya Indonesia yang harus belajar berbagai ilmu agama dari Saudi Arabia. Dengan melihat kondisi yang selama ini selalu hidup dengan tenang dan damai, Saudi bisa belajar Islam indonesia yang ramah yang sangat cocok dengan dunia yang semakin terbuka di era global. Penyelesaian persoalan di Timur Tengah yang selama ini identik dengan menggunakan kekuatan bersenjata dengan tingkat kehancuran yang massif bisa menggunakan pendekatan ala Asia Tenggara yang mengedepankan dialog antartetangga. 

Akan ada selalu perbedaan jika kita mencarinya, tetapi Indonesia dan Saudi Arabia sebagai negara Muslim harus mengedepankan hubungan yang saling menghormati dan lebih melihat pada hal-hal besar untuk mencapai kemajuan bersama umat Islam dunia yang kini masih menghadapi berbagai tantangan besar. (Mukafi Niam)

Sumber : NU.OR.ID

KHUTBAH
بسم الله الرحمن  الرحيم
اَلْحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ تَتِمُّ بِهِ الصَّالِحَاتِ، وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَوَاتِ، وَهُوَ الَّذِيْ نَمْدَحُ عَلَيْهِ بِالصَّلَوَاتِ الطَّيِّبَاتِ فِيْ جَمِيْعِ التَّحِيَّاتِ الْمُبَاركَاتِ، وَهُوَ الَّذِيْ فَضَّلَ بَنِى آدَمَ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ عَلَى جَمِيْع ِالْمَخْلُوْقَات، وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْهِ أَنْوَاعَ الْمُعْجِزَاتِ، وَهُوَ الْهَادِيْ إِلَى سَبِيْلِ النَجَاتِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اُوْلِى الْخَيْرَاتِ وَالْكَرَامَاتِ ، أما بعد
فَيَا أيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدَ قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَا أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Hadirin jamaah sahalat jum’at hafidhakumullah,
Dalam kesempatan yang baik ini, saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri dan kepada hadirin sekalian, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Ta’ala dengan selalu berusaha menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi aneka macam larangan-Nya.
Hadirin!
Sebagaimana sudah maklum, Baginda Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah Ta’ala di dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ

Oleh sebab itu, Rasulullah hadir memberikan contoh konkret dengan aneka ragam kebaikan sikap dan cara yang dapat kita baca sejarahnya di hadits-hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah tidak hanya mengajarkan kebaikan, namun beliau hadir memberi contoh berupa keteladanan. Maka, kenapa Allah mengutus utusan yang membawa risalah ke bumi itu berwujud manusia, tidak dari golongan malaikat? Karena jika malaikat yang diutus, manusia tidak mampu mengambil pelajaran secara nyata dalam sisi keteladanan berperilaku kepada Allah ta’ala atau adab antarsesama manusia.
Di akhir zaman ini kita lebih suka banyak berbicara tentang literatur ilmu, diskusi dengan materi selangit, membahas hal sulit nan rumit, namun amaliyah kita, ibadah kita, perilaku dan sikap kita tak seberapa. Naudzu billah.
Berbeda dengan zaman salaf dahulu. Para ulama salaf senantiasa mengamalkan ilmunya. Sedikit atau banyak ilmu yang mereka dapat.
Ibnul Mubarak mengatakan:
نَحْنُ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

Artinya: “Adab yang sedikit itu lebih kami butuhkan daripada ilmu yang banyak.”
Selain itu Imam Al-Ghazali juga mengatakan:
لَوْ قَرَأْتَ الْعِلْمَ مِائَةَ سَنَةٍ وَجَمَعْتَ أَلْفَ كِتَابٍ لاَ تَكُوْنُ مُسْتَعِدًّا لِرَحْمَةِ اللهِ إِلّا بِالْعَمَلِ

Artinya: “Andai saja kau baca literatur keilmuan selama seratus tahun dan kau kumpulkan sebanyak seribu buku, hal itu tak akan mampu menyiapkan dirimu menggapai kasih dan rahmat Allah kecuali hanya dengan cara mengamalkan ilmu yang kautahu.
Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata:
يَا حَمَلَة َالْعِلْمِ، اِعْمَلُوْا بِهِ، فَاِنَّمَا الْعَالِمَ مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ، وَوَافَقَ عِلْمُهُ عَمَلَهُ

Hai para pemilik ilmu, laksanakan ilmu yang pernah kau dapatkan. Sesungguhnya yang dinamakan cendekiawan itu adalah orang yang menjalankan apa yang ia mengerti, serta ilmunya sinkron dengan apa yang ia jalankan.
Hadirin!
Dengan hal itu, mari kita belajar saling mencari teladan atas kebaikan-kebaikan yang tersebar di sekitar kita dan mari kita beri teladan orang-orang di sekitar kita dengan contoh perilaku baik supaya kita dapat selamat dunia akhirat secara bersama-sama.
Menurut satu riwayat, dikisahkan bahwa Syekh Abdul Qadir Al Jilani mempunyai seorang sahabat yang mempunyai budak lelaki. Budak sahabatnya ini telah lama memimpikan untuk hidup merdeka, lepas dari ikatan perbudakan. Namun, ia tak berani  menyampaikan keinginan dan cita-citanya tersebut kepada majikan. Suatu ketika, si budak berinisiatif, ia minta tolong kepada Syekh Abdul Qadir untuk memberi saran kepada sang majikan supaya memerdekakannya.
Ditunggu sehari dua hari, si budak tak segera mendapat berita kemerdekaan. Seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, kabar gembira itu juga tak kunjung datang. Namun, setelah setahun berlalu, ia baru dimerdekakan oleh majikannya. Ia mengetahui kemudian bahwa kemerdekaan pribadinya tidak lepas dari saran Syekh Abdul Qadir.
Merasa penasaran, budak yang telah merdeka ini menemui Syekh Abdul Qadir
“Ya Syekh, apa gerangan yang mendorong engkau untuk menyampaikan permintaan saya yang setahun lalu dan sekarang baru saja engkau laksanakan?” tanya budak
“Begini, selama ini aku tak pernah memberi saran atau menasihati seseorang dengan suatu hal yang aku sendiri belum pernah melaksanakannya. Nah, kau minta aku untuk menasihati majikanmu agar dia membebaskanmu, sedangkan aku sendiri selama ini belum pernah memerdekakan budak karena memang aku tak punya budak. Maka, aku harus memerdekakan budak dulu dengan cara aku menabung sampai setahun dengan uang yang cukup untuk membeli budak. Selepas aku mampu membeli, baru kemudian aku merdekakan. Setelah itu, aku berani memberi saran orang lain untuk memerdekakan budak.”
Hadirin….
Nasihat-nasihat model Syekh Abdul Qadir di atas, sekarang ini semakin jarang kita temukan. Padahal, sebuah nasihat yang memang didasari dengan hati yang tulus akan menembus kepada hati.
قَالَ بَعْضُ اْلحُكَمَاءِ إِذَا صَدَرَتْ المَوْعِظَةُ مِنَ القَلْبِ وَقَعَتْ فِي بسط القلب، وإِذَا صَدَرَت مِن ظَاهِرِ الِّلسَانِ لَمْ تُجَاوِزْ الآذَان

Jika nasihat keluar dari hati, maka akan mendarat, menancap di relung hari. Sedangkan bila keluar hanya dari lisan, tidak dari dalam hati, maka nasihatnya tak akan melampaui batas telinga saja. Artinya tak akan sampai ke dalam hati dan bisa merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik dan dekat pada Allah.
Hadirin!
Mari kita benahi diri kita pribadi. Mari kita ambil contoh orang-orang baik serta mari kita tebar contoh-contoh kebaikan kepada anak cucu kita, orang-orang sekitar kita. Kita niati bahwa kita sedang menanam benih kebaikan untuk orang lain. Dan pada akhirnya jika kebaikan yang kita tanam itu diambil pelajaran oleh orang lain dan diajarkan kepada orang lain lagi, maka kita meski sudah tidak lagi di dunia ini, kita akan selalu memanen pahala tanaman amal baik kita.
بسم الله الرحمن الرحيم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ،كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَ

Rabu, 01 Maret 2017

JAKARTA- Awal tahun 2000-an marak pemuda dan pemudi meluruskan rambutnya atau lazim dikenal dengan istilah rebonding. Agar dikatakan gaul waktu itu, pemuda harus merebonding rambutnya. Apalagi pemuda yang berambut ikal atau keriting, kesempatan untuk mengubah penampilan dengan rambut lurus.
Saking maraknya waktu itu, hingga rebonding masuk ke kampung-kampung. Salah seorang putra kiai kampung sebut saja fulan yang memiliki rambut ikal juga ikut rebonding berubahlah rambutnya menjadi lurus dan klimis.
“Diapakan itu rambut kamu kok berubah jadi lurus?” tanya kiai kampung ke fulan. Fulan pun menjawab “Direbonding bah (abah-red) jadi lurus,”. “Ohhh, bukan pakai rambut palsu ya?” kembali mencecar putranya. “Bukan bah, ini rambut asli saya cuma berubah setelah di rebonding,” jelas fulan.
Si Abah merasa perlu menanyakan hal tersebut untuk menambah wawasan. Selain itu juga untuk menyiapkan jawaban hukum agama jika ditanya umat.
Suatu hari, Kiai kampung mendapatkan jadwal sholat maghrib di musholah daerahnya. Lazimnya imam menoleh ke belakang kanan dan kirinya sambil mengingatkan makmum. “Tolong, shaf dirapatkan dan di rebonding!,” ucap kiai kampung percaya diri. Makmum yang mayoritas anak muda termasuk putranya sendiri hanya bisa menahan tawa.

Sumber : SEPUTAR NU

Minggu, 26 Februari 2017

Oleh Sayyidina Ali bin Abi thalib Karamallaahu wajhah:

1 -لَا تكْرَه أَحَدا مهما أَخْطَأ فِي حَقِّك
1.Jangan membenci siapapun meski ia melanggar hakmu.

2 -لَا تَقْلَق أَبَدا مَهْمَا بَلغْت الْهُمُوْم
2. Jangan panik meski penderitaanmu sedang memuncak.

3 -عِش فِي بَسَاطَة مَهْمَا عَلَا شَأْنُك
3. Hiduplah sederhana meski statusmu tinggi.

4 -تَوَقَّع خَيْرَا مَهْمَا كَثُر الْبَلَاء
4. Berharaplah kebaikan meski engkau sedang ditimpa bencana bertubi2.

5 -أعْطِ كَثِيْرَا و لَو حُرِمْت
5. Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan.

6 -ابْتَسِم و لَو الْقَلْب يَقْطُر دَما
6. Senyumlah meski hatimu mengucurkan darah (karena derita).

7 -لَا تَقْطَع دُعَاءَك لِأَخِيْك الْمُسْلِم بِظَهْر الْغَيب
7. Jangan hentikan doamu untuk saudaramu sesama Muslim meski ia tidak sedang bersamamu (di luar sepengetahuannya)

Mdh2an qta semua menjadi orang yang bahagia.

Saudaraku.....?????!!!
Sesungguhnya
✍🌿Kelazatan yang dirasakan seseorang di saat melakukan perbuatan maksiat akan lenyap, sedangkan dosanya akan tetap tercatat hingga hari kiamat.

✍🌿Begitu juga keletihan di saat melakukan ibadah akan lenyap, sedangkan pahalanya akan terus bertahan hingga hari kiamat.

✍🌿Jangan korbankan kenikmatan akhirat hanya demi mengejar kenikmatan dunia yang sementara.

✍🌿Lihatlah mereka yang dahulu pernah hidup di dunia ini lalu menghabiskan usia mereka di dalam lembah dosa. Di mana mereka sekarang?

✍🌿Lihatlah mereka yang dahulu menghabiskan usia mereka untuk beribadah. Di mana mereka sekarang?

✍🌿Seandainya waktu dapat diputar semula, tentu mereka yang dulu berbuat dosa berangan-angan kembali ke dunia lalu beribadah kepada Allah swt. Tapi ia tidak akan mungkin terjadi.

✍🌿Maka peringatan ini hanya bermanfaat bagi orang yang masih hidup sekarang dan mempunyai pemikiran yang jernih.

✍🌿Jangan sampai semuanya terlambat. Segeralah bertaubat dan isi hari-hari kita dengan ibadah kepada Allah swt.


SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)