Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat Datang di Blog-SITE "PIMPINAN RANTING GERAKAN PEMUDA ANSOR GEMAHARJO" Kec. Watulimo Kab. Trenggalek. Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua. Aamiin

Sabtu, 04 Maret 2017

Bagaimana mungkin bisa punya anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya, kalau orang tuanya saja ingkar dan tidak pernah mendatangi para kyai, ulama dan orang saleh.

Ayah Imam Ghazali itu bukan ulama, akan tetapi beliau hormat, mendekat dan mencintai ulama. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, beliau menyisihkan untuk membeli manisan yang ia hadiahkan kepada para ulama, seraya memohon kepada Allah agar dianugrahi anak sholeh seperti ulama-ulama yang ia kagumi.

Allah menganugrahinya dua putra yang sholeh, keduanya menjadi ulama besar, keduanya terkenal di dunia Islam. Pertama, Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, kedua Ahmad bin Muhammad al-Ghazali. Orang biasa bisa melahirkan dua orang hebat karena cinta dan hormatnya kepada para ulama.

Kita sekalian meskipun orang biasa, bukan keturunan Kiai, bukan keturunan ulama, bisa mempunyai anak-anak yang sholeh. Jangan berkecil hati, berdoa, dan mendekatlah kepada para kyai, para ulama. Allah Maha mendengar, akan mengabulkan doa hamba--hambaNya.

ﺭﺏ ﻫﺐ ﻟﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ

”Ya Rabb-ku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh.
(QS. Ash-Shaffaat: 100)


~KYAI SAKTI ANTI AIR~

Gara-Gara Sopirnya Mengantuk,
KH Mahrus Ali Lirboyo Bersama Mobilnya Terjatuh Dan Tenggelam Di Tengah Bengawan Solo, Sembayat Gresik,

Rombongan Yang Mengikuti Di Belakang Mobil Yang Ditumpangi KH Mahrus Ali, Semua Pada Panik Termasuk Bupati Gresik Ketika Itu, Bagaimana Nasib Beliau?
Akhirnya Mereka Berinisiatif Mendatangkan Mobil Derek Dari Surabaya, Padahal Perjalanan Mobil Derek Menuju Lokasi Lumayan Jauh Memakan Waktu Beberapa Jam Lamanya,

Setelah Mobil Derek Sampai Di Lokasi, Ditariklah Mobil Yang Tenggelam Keatas, Sesampai Diatas, Pintu Mobil Dibuka, Subhanallah KH Mahrus Ali Mala Sedang Merokok,

"Ternyata Merokok Menghidupkanmu, Tidak Membunumu" Canda KH Chalwani Barjan, Shohibul Hikayat,

Sedikit Saja, Tidak Ada Air Yang Masuk Ke Mobil KH Mahrus Ali, Semuanya Segar Bugar, Sampai-Sampai Berita itu Dimuat Di Jawa Pos Dan Surabaya Pos, "Ada Kyai Anti Air" itulah Karomah KH Mahrus Ali Lirboyo, Subhanallah Luar Biasa !!

Al-Fatihah...

Dikutip dari berbagai sumber


Segala puji bagi Allah, salawat dan salam disampaikan kepada Rasulullah.

Yang Mulia Bapak Ketua DPR RI, saudara-saudariku yang terhormat.

Assalamualaikum WR.WB.

Izinkan saya untuk mengawali sambutan saya ini dengan menyampaikan penghargaan kami yang setinggi-tingginya kepada pemerintah dan rakyat Indonesia yang bersahabat, atas keberadaan saya bersama para hadirin sekalian.

Sesungguhnya kunjungan ke negara Yang Mulia kali ini yang diawali dengan kunjungan serupa yang dilakukan oleh saudara saya Yang Mulia Bapak Presiden ke Kerajaan Arab Saudi dan saling tukar menukar kunjungan antara para pejabat tinggi di kedua negara.

Ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kerja sama di seluruh bidang yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kedua bangsa kita yang bersahabat.

Para hadirin sekalian,

Sesungguhnya tantangan yang kita hadapi khususnya bagi umat Islam dan dunia secara umum, seperti fenomena terorisme, benturan peradaban, (the clash of civilizations), tidak adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara serta melakukan intervensi terhadap urusan dalam negerinya telah mengharuskan kita untuk menyatukan barisan dalam menghadapi tantangan ini serta melakukan koordinasi dalam melakukan berbagai upaya dan sikap yang dapat memberikan manfaat bagi kepentingan kita bersama serta keamanan dan perdamaian dunia.

Penutup, saya ingin menyampaikan apresiasi atas peran Dewan Yang Terhormat dalam meningkatkan hubungan antara kedua negara kita yang bersahabat di seluruh bidang, saya juga memberikan apresiasi atas penandatangan sejumlah kesepakatan dan MoU antara kedua negara dalam kunjungan kali ini.

Saya berdoa kepada Allah SWT semoga senantiasa memberikan taufik dan ridho Nya kepada kita sekalian.

Sumber : Page FB K.H. Maman Imanul Haq


Jumat, 03 Maret 2017

MEMIMPIN DENGAN PERILAKU
Oleh : Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung)
----------------------------
via Kabag Humas Pemkot Bandung di kuliah umum ESDM.

Kepemimpinan terbaik menurut Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil adalah memimpin dengan akhlak dan keteladanan. Bagi dia, dengan memberi contoh yang baik, ia akan lebih mudah memberi pengaruh yang baik bagi yang dipimpinnya.

"Inilah yang susah. Sebagai wali kota, saya adalah wajah bagi warga Bandung. Maka perilaku saya harus mencerminkan perilaku warga yang positif," tutur Ridwan Kamil saat menjadi pembicara kegiatan One Hour University di hadapan para kader Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur, Jl. Cisitu Lama Kota Bandung, Rabu (1/3/2017).

Karena dijadikan teladan, maka seorang pemimpin harus bijak dalam mengambil keputusan. Sebab dalam pandangan Emil, panggilan akrab Wali Kota Bandung, kualitas kepemimpinan berada pada akumulasi dari keputusan yang diambil.

"Kualitas Kepemimpinan adalah akumulasi dari kualitas keputusan. Jika dia rutin mengambil keputusan yang berdampak positif, maka kepemimpinannya punya nilai baik. Jika sebaliknya, maka kepemimpinannya belum baik," katanya.

Oleh karena itu, ia sebisa mungkin menghadirkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi orang banyak, terutama warganya sendiri. Setiap hari, ia mengukur kadar keputusan yang ia ambil, apakah membawa kebaikan atau tidak.

"Karena tugas pemerintah itu hanya dua, yakni membawa perubahan dan mengakselerasi kemajuan. Jika belum baik, maka kita ubah jadi baik. Jika sudah baik, maka kita percepat kemajuan itu," jelasnya.

Dilihat dari segi pemerintahan, pria lulusan University of California Amerika Serikat itu mengemukakan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik adalah ketika perubahan itu justru datang dari warganya. Perubahan tidak perlu melulu harus berasal dari pemerintah.

"Kalau masalah warga bisa diselesaikan oleh warga sendiri, itu berarti hebat. Pemerintah itu cuma regulator," katanya.
Maka dari itu, dalam masa pemerintahannya, ia sangat mengedepankan pastisipasi dari masyarakat dalam menentukan arah kebijakan Kota Bandung. Ia membentuk banyak tim penasehat Wali Kota yang berasal dari berbagai elemen masyarakat.

"Saya memfasilitasi ruang-ruang bagi masyarakat Bandung yang pintar-pintar untuk turut memberikan gagasan dalam hal pembangunan. Ada 12 tim kebijakan wali kota yang setiap saat saya minta pertimbangannya. Jadi, dalam membangun kota ini saya tidak one man show," jelasnya.

Dalam paparannya, Ridwan memotivasi para pegawai Kementerian ESDM agar senantiasa mencintai pekerjaan. Sebab dari mencintai pekerjaan, akan muncul semangat dan nilai-nilai positif dalam berkarya.

"Karya adalah apa yang akan kita wariskan ketika sudah tidak lagi memegang jabatan kita saat ini. Maka cintailah hidup dan jangan menua tanpa karya," tandasnya.


JAKARTA- Amaliyah Nahdlatul Ulama (NU) kembali dipertentangkan oleh kelompok-kelompok berideologi transnasional. Media sosial menjadi tempat provokasi membid’ahkan bahkan mengharamkan amaliyan nahdliyyin salah satunya tahlil.
Umat islam Indonesia dan nahdliyyin harus berani membantah tudingan tersebut. Tahlil secara istilah mengirim doa kepada orang yang sudah meninggal. Tahlil sangat jelas berisi rangkaian bacaan AlQuran dan Alhadits.
Ibnu Taimiyah yang menjadi rujukan kelompok yang mengharamkan juga memberikan sebuah pandangan tentang bacaan keluarga mayit. Seperti dalam kitab Majmu’ al-Fatawa XXIV/165 yang kita kutip di aswajanucenterjatim.
(وَسُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَصِلُ إلَيْهِ ؟ وَالتَّسْبِيْحُ وَالتَّحْمِيْدُ وَالتَّهْلِيْلُ وَالتَّكْبِيْرُ إذَا أَهْدَاهُ إلَى الْمَيِّتِ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُهَا أَمْ لاَ ؟ (فَأَجَابَ) يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ قِرَاءَةُ أَهْلِهِ وَتَسْبِيْحُهُمْ وَتَكْبِيْرُهُمْ وَسَائِرُ ذِكْرِهِمْ ِللهِ تَعَالَى إذَا أَهْدَوْهُ إلَى الْمَيِّتِ وَصَلَ إلَيْهِ وَاللهُ أَعْلَمُ (مجموع الفتاوى لابن تيمية 24 / 165)
“Ibnu Taimiyah ditanya mengenai bacaan keluarga mayit yang terdiri dari tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, apabila mereka menghadiahkan kepada mayit apakah pahalanya bisa sampai atau tidak? Ibnu Taimiyah menjawab: Bacaan keluarga mayit bisa sampai, baik tasbihnya, takbirnya dan semua dzikirnya, karena Allah Ta’ala. Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit, maka akan sampai kepadanya”.
Jika masih mendengar kelompok transnasional mengharamkan tahlil karena berasal dari budaya agama nenek moyang, akan terbantahkan oleh kesaksian Mantan Dubes Indonesia untuk Maroko, H. Tosari Widjaja. Tosari mengatakan Di Maroko yang 98% penduduknya adalah umat muslim, tidak pernah ditemukan jejak keberadaan Hindu maupun Budha, tapi disana tetap ada ritual tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, dan seterusnya untuk selamatan kirim doa bagi orang-orang yang baru meninggal.
“Dengan demikian klaim sebagian kalangan bahwa ritual yang umum diamalkan Nahdliyyin di Indonesia berasal dari Hindu atau Buddha gugur dengan sendirinya,” ujar Tosari.
Mereka yang mengharamkan tahlil beranggapan bahwa Tahlil itu adalah bid’ah karena di masa Nabi Muhammad SAW tidak adanya istilah dan di dalam Al-Qur’an pun tidak ada pengertian. Padahal pengertian dan istilah tahlil.
Seperti yang di sebutkan dalam hadits Tahlil Adalah Doa Untuk Mayit;
قَالَتْ عَائِشَةُ وَارَأْسَاهْ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « ذَاكِ لَوْ كَانَ وَأَنَا حَىٌّ ، فَأَسْتَغْفِرُ لَكِ وَأَدْعُو لَكِ » (البخارى )
“Aisyah berkata: ‘Aduh kepalaku sakit’. Rasulullah bersabda: ‘Jika kamu wafat dan saya masih hidup, maka saya mintakan ampunan untukmu dan akan mendoakanmu” (HR al-Bukhari).
Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa jika kita menjenguk orang sakit atau takziyah orang meninggal, kita setidaknya mendoakan orang tersebut. Dalam hadits lain juga menerangkan bahwasanya bersedekah atas nama orang yang meninggal dunia maka orang yang meninggal tersebut mendapatkan pahala.
Seperti yang disebutkan dalam hadits sedekah untuk almarhum
وَعَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – . أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ ». ‏‏‏متفق عليه‏.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw: Ibu saya meninggal mendadak. Saya yakin andai ia bisa bicara maka ia akan bersedekah. Apakah beliau dapat pahala jika saya bersedekah atas nama beliau? Nabi menjawab: Ya. (Muttafaq Alaih)
Hadits diatas menjelaskan jika kita bersedekah atas nama orang yang meninggal dunia maka orang yang meninggal tersebut mendapatkan pahala. Bukan hanya bersedekah dengan uang bahkan dzikirpun termasuk juga sedekah seperti yang dijelaskan oleh Hadits berikut bahwa dzikir Adalah sedekah:
إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَة (مسلم )
“Rasulullah bersabda: Sesungguhnya dengan setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap amar makruf adalah sedekah, setiap nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim)

Sumber : SEPUTAR NU

JAKARTA- Alkisah, inilah pertama kalinya, Kiai Solikin, seorang kiai yang tinggal di kampung diminta menjadi narasumber dalam sebuah Seminar ‘Membangun Keluarga Sakinah’ di sebuah hotel bintang lima. Selama ini Kiai Solikin lebih dikenal sebagai Imam sebuah musholla kecil di kampung. Namun demikian, pengetahuannya yang luas tentang keagamaan dan cara menjelaskannya yang keren, membuat dirinya mulai dilirik sebagai narsumber seminar.
Dengan pakaian batik lengan panjang dan kopiah hitam yang sudah mulai luntur, Kiai Solikin pun memulai ceramahnya:
“Hadlirin-hadlirot.. para peserta Seminar, rohimakumullah.” Dan Sang Kiai memulai seminar dengan joke-joke segar ala NU. “Hadlir-in.. itu artinya hormat saya untuk yang duduk di dalam ruangan ini,”. “Adapun.. Hadlir-out” adalah hormat saya untuk para peserta yang membludak dan berdiri di luar ruangan ini”. “Cocok dengan Kamus Bahasa Inggris yang saya bawa di saku, “in” artinya di dalam, dan “out” artinya di luar”
Grrrrr.. Peserta pun tak tahan meledak tertawa bebas.
Kiai Solikin melanjutkan:
“Ada 4 tipe keluarga para Nabi yang dapat kita jadikan contoh:
1. Tipe keluarga Nabi Nuh as dan Nabi Luth as, suaminya sholeh, istrinya tidak.
2 . Tipe keluarga Firaun, Istrinya solehah suaminya tidak.
3. Tipe keluarga Nabi Ibrahim as, suami istri soleh dan solehah, dan anak keturunannya menjadi orang soleh.
4. Tipe keluarga Abu Lahab, suami dan istri sama sama durhaka.
Kemudian kiai bertanya kepada para peserta yang kebetulan didominasi perempuan: “Ibu ibu mau seperti yang mana?”
Ibu- ibu peserta dengan senyum dan serentak yakin menjawab: “Keluarga Ibrahim!!!!”
Kiai Solikin berkata:
“Keluarga Nabi Ibrahim as itu Istrinya ada 2, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar.
Dan ibu-ibu pun terdiam dan manyun.
*Dikutip dari IG Sekjen PBNU (DR. H. A. Helmy Faishal Zaini)

JAKARTA- Kabar gembira bagi warga nahdliyyin dan nahdliyyat. PBNU menyediakan ekartanu untuk mempermudah transaksi sehari-hari. Ekartanu bisa didapatkan dengan donwload di play store smartphone berbasis android.
“Sekarang warga NU bisa memanfaatkan ekartanu untuk membeli pulsa dengan harga sangat murah. Bisa melakukan pembayaran dan beramal,” tutur Sekjen PBNU H. A. Helmy Faishal Zaini di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (18/11).
Saat ini, lanjutnya masih tersedia di seluler berbasis android karena iphone masih dalam proses. Helmy menambahkan aplikasi ekartanu masih terus dikembangkan.
“Saat ini fitur beli pulsa, beramal dan pembayaran yang sudah bisa dimanfaatkan warga. Sementara NUmart dalam proses, insyallah saat launching sudah bisa,” imbuhnya.
Bagi pemegang kartaNU berjenis Gold dan Platinum bisa langsung memanfaatkan ekartanu. “Bagi yang tidak memiliki kartanu bisa juga memanfaatkan ekartanu tentu dengan harga yang berbeda tapi masih sangat murah dibandingkan dipasaran,” tegas Pria berkacamata ini.
Berikut link di Google play:  KLIK SINI
Sumber : SEPUTAR NU

Assalamualaikum wr. wb.
Pak ustad yang baik hati, saya mau menanyakan mengenai hal yang terkait dengan aqiqah. Kalau anak laki-laki itu dua kambing, sedang jika anak perempuan itu satu kambing. Yang ingin saya tanyakan apakah boleh jika kambing yang untuk aqiqah itu saya uangkan, kemudian uang tersebut dibagikan kepada faqir-miskin sebagai aqiqah. Artinya, aqiqahnya bukan pakai kambing, tetapi uang yang senelai dengan kambing tersebut. Saya mohon penjelasan dari pak ustad, dan atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. Wb (Ahmad/Purwodadi)
Waalaikumsallam wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang kita pahami, bahwa aqiqah adalah hewan yang disembelih sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt atas karunia-Nya, yaitu berupa lahirnya anak baik laki-laki atau perempuan.
Jadi, pada prinsipnya aqiqah merupakan salah satu bentuk taqarrub dan wujud rasa syukur kita kepada Allah swt, yang dalam konteks ini adalah menyembelih dua kambing jika anak yang lahir adalah laki-laki, dan satu kambing apabila perempuan.
Mengenai status hukum aqiqah menurut Zakariya al-Anshari adalah sunnah muakkadah dengan didasarkan kepada sabda Rasulullah saw sebagai berikut.
اَلْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى
“Seorang bayi itu tergadaikan dengan aqiqahnya, pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya dan diberi nama” (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Kandungan hadits ini menurut Zakariya al-Anshari adalah anjuran untuk mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa aqiqah itu hukumnya sunnah muakkadah, dan tidak wajib karena ada hadits yang mengatakan,’Barang siapa yang senang (ingin) beribadah untuk anaknya maka lakukanlah’. Alasan lain yang menunjukkan bahwa aqiqah itu tidak wajib adalah bahwa yang dimaksud dengannya adalah mengalirkan darah bukan karena melakukan pelanggaran dan bukan pula nadzar.
وَالْمَعْنَى فِيهِ إظْهَارُ الْبِشْرِ وَالنِّعْمَةِ وَنَشْرِ النَّسَبِ. وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَإِنَّمَا لَمْ تَجِبْ لِخَبَرِ أَبِي دَاوُدَ: “مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ” وَلِأَنَّهَا إرَاقَةُ دَمٍ بِغَيْرِ جِنَايَةٍ ، وَلَا نَذْرٍ فَلَمْ تَجِبْ كَالْأُضْحِيَّةِ

“Makna yang terkandung dalam hadits tentang aqiqah ini adalah anjuran mempublikasikan kebahagian, kenikmatan, dan nasab. Status hukum aqiqah itu sendiri adalah sunnah muakkadah, dan tidak wajib karena ada hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, ‘Barang siapa yang senang (ingin) beribadah untuk anaknya maka lakukanlah”. Di samping itu alasan lain yang menunjukkan bahwa aqiqah itu sunnah adalah karena yang dimaksudkan dengan aqiqah adalah mengalirkan darah bukan karena melakukan pelanggaran dan bukan pula nadzar. Karenanya tidak wajib sebagaimana udhhiyyah (kurban)” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet-1, 1422 H/2000 M, juz, 1, h. 547)
Sedangkan daging aqiqah dibagikan kepada fakir-miskin agar bisa membawa keberkahan kepada si anak yang diaqiqahi, dan sebaiknya daging tersebut dibagikan dalam kondisi sudah dimasak. Demikian menurut pendapat yang paling sahih (al-ashshah).
وَيُفَرَّقُ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ لِتَعُودَ الْبَرَكَةِ عَلَى الْمَوْلُودِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يُتَصَدَّقَ بِهِ نِيئًا بَلْ مَطْبُوخًا عَلَى الْأَصَحِّ
“Daging aqiqah dibagikan kepada orang-orang fakir-miskin agar berkahnya kembali ke si anak, dan disunnahkan tidak disedekahkan dalam kondisi masih mentah, tetapi sudah matang (siap dimakan). Demikian ini menurut pendapat yang paling sahih” (Taqiyyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, tt, juz, 2, h. 196).
Lantas bagaimana jika aqiqah itu diganti dengan uang? Jawaban kami atas pertanyaan ini adalah bahwa aqiqah tidak bisa digantikan dengan uang. Sebab, sejatinya aqiqah adalah mengalirkan darah atau menyembelih hewan. Yaitu, dua kambing untuk anak laki-laki, dan satu kambing untuk anak perempuan. Dan ini termasuk salah bentuk taqarrub atau ibadah yang status hukumnya adalah sunnah muakkadah. Dalam sebuah hadits shahih dikatakan;
مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا ، وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأْذَى
“Bersama seorang bayi itu ada aqiqah, maka alirkan darah untuknya (aqiqah), dan singkirkan hal yang mengganggunya (mencukurnya).” (H.R. Bukhari)
Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi orang tua yang yang anaknya belum diaqiqahi maka sebaiknya kalau sudah dapat rejeki segera diaqiqahi. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb

Sumber : ANSORNews

Mengapa Gus Dur mencintai Indonesia? Karena beliau manusia pesantren. Sedangkan keindonesiaan adalah salah satu unsur utama jati diri inti pesantren. George McTurnan Kahin (1918 - 2000, Cornell University, USA), menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam "Nationalism and Revolution in Indonesia" (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), bahkan menandaskan kesimpulan bahwa "nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara": pesantren!

Sejak Terusan Suez dibuka (1859) membedah daratan beting antara Laut Tengah dan Laut Merah, perhubungan Eropa - Asia dengan transportasi laut tidak lagi harus memutari Tanjung Afrika, tapi potong kompas lewat Terusan Suez, melintasi Teluk Aden, terus ke arah Timur hingga Nusantara. Sejak saat itu, jalur pelayaran Eropa - Nusantara pergi-pulang kian ramai, dan pelabuhan Jeddah menjadi salah satu persinggahan penting. Maka sejak paruh akhir abad ke-19 terjadi lonjakan luar biasa perjalanan haji dari antero Nusantara: Andalas, Jawa, Borneo, Celebes, Maluku, Sumbawa dan pulau-pulau lainnya. Kebersamaan selama berbulan-bulan pelayaran dan bertahun-tahun mukim di Hijaz diantara para "jamaah haji" yang merupakan kader-kader unggulan kalangan pesantren itu menumbuhkan rasa senasib dan persaudaraan yang terus menguat menggiligkan "tekad sebangsa", dan dengan penuh gairah mereka tanamkan kepada masyarakat lahan khidmah mereka sepulang dari Tanah Suci.

Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kyai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan "Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia" sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kyai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kyai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian --dibawah perlindungan gurunya, Kyai Hasyim Asy'ary-- Nahdlatul Ulama (1926). "Soempah Pemoeda"yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.

Kyai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah "Syubbaanul Wathan" disana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kyai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kyai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان
وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن

إِنْدُونَيْسيَا­ بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

"Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku
Engkau Panji Martabatku
S'yapa datang mengancammu
'Kan binasa dibawah dulimu!"

Kyai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang satri dan khadam Kyai Ma'shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma'shoem),

"Pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!"

Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan­ kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

Kyai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah "Ongko Loro" ("Angka Dua", Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya­ ke HIS (Hollandsch-Inl­andsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kyai Kholil Harun, yang lantas mencegah,

"Jangan sampai kamu jadi londo!" kata beliau, "ayo ikut aku saja!"

Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kyai Bisri) belajar di pesantren Kyai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan "bahasa aslinya", Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik. Belakangan, sesudah diambil menantu, Kyai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kyai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: "...Induuniisiy­yaa... Induuniisiyyaa.­.."

"Brakk!!" aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

"Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!" Mbah Kung bersungut-sungu­t, "kenapa harus 'in-duu-nii-siy­-yaa'? Masak ngomong 'In-do-ne-sia' saja nggak bisa? Dasar sombong!"

https://www.facebook.com/pages/Dukung-NU-Mendirikan-TV-NU-Nusantara/120416661356120


Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.

Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan. Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.

“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang.
Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar,
“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,

“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.

“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.

“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.

Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”

“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”

“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.

Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,

“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..

Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..

Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?

---------'
Dari berbagai sumber


KAIRO | duta.co — Usai Konferensi Internasional di Universitas Al-Azhar, rangkaian kunjungan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siroj ke Mesir berikutnya adalah ziarah ke makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Thalib di kawasan Old Kairo.

“Ayo kita tahlil,” ajak Kiai Said kepada WNI di Mesir sesampai di makam Sayyidina Husain.

Tahlil dengan bacaan khas Indonesia itu pun berkumandang. Kiai Said didapuk menjadi imam tahlil. Suasana benar-benar khusyuk hingga tahlil usai. Kiai Said pun sedikit memberikan nasehat kepada para mahasiswa NU yang mengikuti ziarah.

“Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya, meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU,” begitu pesan Kiai Said.

Ziarah dilanjutkan ke makam Syaikh Ibn Atha’illah as-Sakandari – ulama besar pengarang Kitab Al-Hikam.
Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib, ia mengajak ziarah ke makam Ibn Atha’illah as-Sakandari. Sufi besar ini sangat mempengaruhi Kiai Said Aqil di samping Syeikh as-Syadzili.

“Masih ada waktu, kita ke makam Syaikh Ibn Atha’illah,” sarannya.

Selesai tahlil di makam Syeikh Ibn Atha’illah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu juga mengenang kehidupan Syeikh Ibn Atha’illah, pengarang kitab Al-Hikam ini.

“Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyukan di dalam hatinya,” ujarnya.

Karena itu, imbuh Kiai Said, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berzikir kepada Allah. “Jadikan hati kita khusyuk tempat bersemayamnya Allah,” kata Kiai Said Aqil. (anw/ksf/kia)


SUPPORTED BY

MUTIARA HIKMAH

“Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan.”

“Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.”

“Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .”

“Kegagalan dalam hidup merupakan salah satu proses untuk menuju sukses.”

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Blogger.

NU PEDULI

INFO KARTANU ATM

POST ANSORUNA

PEPELING

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Luqman: 34)